Rondeaktual.com – Penulis sudah lama ingin menyusun cerita tentang mendiang wasit tinju terbaik Indonesia, Djafar bin Jahja.
Pada era tinju pasar malam, Djafar merupakan kelas welter tangguh. Salah satu guru tinjunya adalah Kid Darlim dari Malang. Djafar satu generasi dengan nama-nama top seperti; Bobby Njoo, Kid Francis, Kid Manopo, Arnold Philipus, Jimmy Chiu.
Setelah pensiun dari tinju, Djafar meneruskan karier wasit/hakim sekaligus mengantarnya menjadi salah satu yang terbaik. Djafar fokus wasit/hakim. Beda dengan sekarang, banyak wasit/hakim rangkap pelatih. Padahal itu tidak boleh.
Baca Juga
Advertisement
Djafar meninggal dunia sekitar 13 tahun yang lampau di kediamannya, Jalan Pisangan Lama, tak jauh dari belakang Stasiun Kereta Api Jatinegara, Jakarta Timur.
Mengintip dari Balik Jendela Kereta Api Stasiun Jatinegara
Setiap kereta api yang penulis tumpangi singgah atau lansir di Stasiun Jatinegara, setiap itu pula penulis mendorongkan kepala ke arah sebelah kanan. Penulis mengintip dari balik jendela kereta api, Samar terbayang rumah kediaman Pak Djafar, wasit tinju pro yang sangat terkenal dan baik hati.
Era Djafar adalah era tinju pro di bawah naungan Komisi Tinju Indonesia [KTI]. Sekarang tinju pro menjadi enam organisasi. Ribut, beratam, pecah, lalu mendirikan badan tinju. Sayangnya itu bukan solusi melainkan masalah. Tinju pro terbelah dan hilang popularitas.
Baca Juga
Advertisement
Djafar menjadi wasit KTI di setiap pertandingan besar, seperti Kejuaraan Indonesia dan partai internasional.
Penulis merasa dekat bersama Djafar. Padahal kami beda usia. Pak Djafar lebih tua 35 tahun. Setiap bertemu baik di Jakarta maupun di daerah lain saat pertandingan tinju, kami seolah dua sahabat seumuran. Kami suka senda gurau. Berseloroh, seperti teman sekolah saja.
Meski hubungan kami seolah tanpa batas, penulis tidak pernah menyebut beliau “Djafar”. Selalu “Pak Djafar”. Bila papasan di sekitar pertandingan, penulis tidak pernah mengajak beliau bicara. Seorang wasit/hakim memang dilarang memberikan keterangan kepada pers.
Baca Juga
Advertisement
Djafar satu-satunya orang tinju yang rumahnya pernah penulis kunjungi bersama istri dan anak. Itu sekitar 23 tahun silam. Disambut istri Pak Djafar [kami insan tinju selalu menyebutnya Umi], menyiapkan indomie untuk Alfina, putri penulis yang sekarang sudah 28 tahun.
Setiap kereta api singgah di Stasiun Jatinegara, yang terbayang di kepala adalah mendiang Djafar, bukan yang lain.
Nyoto Arizona, mantan petinju pro asal Jember, Jawa Timur, satu-satunya yang pernah melihat penulis bertamu ke rumah mendiang Pak Djafar. Nyoto sekarang bekerja sebagai pengawas tanah kosong sekaligus membuka usaha ternak di daerah Bekasi, Jawa Barat.
Baca Juga
Advertisement
Di sini penulis ingin menyampaikan, bila Anda penggemar tinju era Pasar Malam tahun 60-an dan sekarang kurang-lebih berusia 80, pasti sangat mengenal permainan tinju Djafar.
Di masa hidup beliau, Djafar tangguh dalam kelas welter. Ia sudah masuk main event, meski belum pernah tampil dalam partai Kejuaraan Indonesia. Lawan Djafar ketika itu antara lain; A Tjong, Kid Ballel, Bobby Njoo. Tiga nama besar dan terkuat.
Bila Anda petinju pro satu generasi dengan Ellyas Pical atau tinju era 70-an hingga era 90-an, pasti mengenal atau bahkan pernah bersama Djafar ketika Anda bertanding.
Baca Juga
Advertisement
Dihadang Preman Pinggir Rel Kereta Api
Tiga tahun lalu, sebelum meliput pertandingan Daud Yordan di Balai Sarbini, Jakarta, penulis ingin singgah sebentar ke rumah mendiang Pak Djafar.
Untuk bisa ke sana, harus melewati jembatan legendaris yang dibangun di atas rel kereta api sepanjang hampir 50 meter.
Penulis menelusuri jalan sempit di antara rumah-rumah petak yang sengaja disewakan untuk tempat tinggal. Penulis pernah bersama Kid Frnacis dan Jimmy Chiu berjalan di atas jembatan tua itu. Sudah hapal bagaimana menerobos jalan menuju jembatan.
Baca Juga
Advertisement
Ternyata kereta api sudah melakukan perubahan. Akses menuju ke sana sudah ditutup. Jembatan sudah tidak ada.
Penulis mengintip dari jauh, di antara pagar pembatas. Ingin sekali bernostalgia di atas jembatan. Tiba-tiba seorang pria telanjang dada keluar dari rumah versi pinggir rel kereta api. Dia mengejar penulis, saat gerimis deras turun. Penulis menepi supaya tidak kena air.
“Mau ngapain,” suaranya membentak. Congkak sekali.
Baca Juga
Advertisement
“Mau melihat jembatan.”
“Tidak boleh. Sudah tutup. Pergi, pergi, pergi…!”
Orang itu mengusir. Mukanya terlihat seperti diselimuti dosa dan menantang. Ingin rasanya menumbuk muka sadis itu sampai terbenam di atas tanah busuk yang diinjaknya.
Baca Juga
Advertisement
Kenangan Bersama Djafar, yang Tak Terlupakan
Banyak kenangan bersama mendiang Djafar. Berikut di antara yang masih penulis ingat.
Dikenalkan Kid Francis
- Mendiang Kid Francis adalah orang pertama mengenalkan penulis dengan Djafar. Kami pernah sama-sama bertemu di Garuda Jaya, sasana tempat Ellyas Pical berlatih ketika hendak memulai tinju pro. Boy Bolang, yang baru kembali dari “pengasingan” di Amerika, hadir di sana, termasuk Pontas Simanjuntak, pelatih pertama Ellyas Pical.
Alun-alun Malang
Baca Juga
Advertisement
- Setelah menyelesaikan tugas di GOR Pulosari Malang, 19 Desember 1982, kami menghabiskan malam di dalam alun-alun depan Hotel Pelangi. Djafar tugas wasit Kejuaraan Indonesia kelas ringan antara Kai Siong [Sawunggaling Surabaya] melawan Juhari [Gajayana Malang]. Kubu Kai Siong marah karena kalah. Penulis tugas liputan untuk Majalah Selecta Sport di Jakarta.
Alun-alun itu setengah gelap. Petugas taman sepertinya sengaja membiarkan lampu rusak. Sejumlah perempuan malam bergincu murah berdiri di bawah pohon sambil menunggu “hidung belang” datang bertransaksi. Perempuan di sana berjanji siap memberikan apa saja termasuk “full service”.
Alun-alun tidak menyediakan tempat “pertandingan.” Dari investigasi singkat memastikan bila hendak “berlayar” harus check-in ke losmen murah bertarif Rp 7.500. Becak siap mengantar, pada era itu.
Menolak Wanita Seksi
Baca Juga
Advertisement
- Suatu malam kami berdiri di luar pintu GOR Pulosari Malang. Seluruh rombongan tinju sudah pulang. Lampu dipadamkan. Gelap dan sepi.
Seorang manajer tinju datang dan mengantar kami pulang ke hotel.
Djafar duduk di depan. Penulis di belakang, bersama seorang perempuan cantik. Busana bagus. Tubuh bersih. Padat berisi dan wangi.
Selama perjalanan sekitar 10 menit, tidak ada pikiran aneh yang nyangkut di kepala tentang perempuan di sebelah penulis. Dia umur 30-an dan cukup manja kelihatannya. Kami tidak salaman. Tidak bicara apa-apa. Diam saja.
Baca Juga
Advertisement
Sampai di depan pintu hotel, pak manajer tinju menurunkan kami dan bicara begini: “Pak Djafar mau? Ambil saja,” katanya. “Nanti sebelum pagi saya datang jemput dia.”
Djafar tidak merespon. Kami membiarkan manajer tinju pergi bersama wanita tadi. Kuat dugaan, dia salah satu anak buah terbaiknya.
Kepada penulis, pak manajer tinju tidak pernah menawarkan, seperti yang ditawarkannya kepada Djafar. Penulis tidak masuk hitungan. Dipandang sebelah mata.
Baca Juga
Advertisement
Mungkin lantaran penulis masih terlalu muda “berlayar” bersama dia. Waktu itu penulis berusia 25. Mungkin ini yang menjadi pertimbangan pak manajer tinju, yang juga germo besar di Malang.
Barangkali asumsi pak manajer, kalau umur 25-an bukan lawan yang pas bagi anak buahnya yang sudah 30-an. Makanya pak manajer tinju itu tidak pernah berpikir untuk menyerahkannya kepada penulis. Dia tega bawa pulang.
Tapi ya sudahlah. Semuanya telah berlaku. Kisah itu tinggal kenangan, yang boleh jadi tak akan terlupakan, he he he…!
Baca Juga
Advertisement
Non-M adalah Finon Manullang, penulis buku “Memoar Tinju Profesional” edisi 1995.