Rondeaktual.com – Boleh jadi, nama Setijadi [baca Setiyadi] Laksono [Jawa Timur] kurang populer dalam daftar kelas berat Nasional. Dalam berbagai pemberitaan, nama Setijadi lebih dominan dipublikasikan sebagai promotor, bukan sebagai raja kelas berat. Enteh mengapa bisa begitu. Mungkin lantaran era itu tinju pro memang “gila-gilaan” dipertandingkan di Jawa Timur. Setiap bulan ada tinju pro, yang hidup melalui Sawunggaling Promotion, milik Setijadi.
Pada masa hidup, Setijadi merupakan kelas berat pertama yang memenangkan medali emas Pekan Olahraga Nasional [PON].
Penulis pernah hampir tujuh tahun bersama Setijadi di Surabaya. Pada era itu [1984-1990], penulis menangani redaksional Majalah “Tinju Indonesia”, yang isinya 50% tinju pro Indonesia, 20% tinju amatir Indonesia, dan sisanya tinju dunia.
Baca Juga
Advertisement
Puncak karier amatir Setijadi terjadi dalam final kelas berat PON VII di Surabaya tahun 1969, mengalahkan raja kelas berat lainnya Firman Pasaribu [Sumatera Utara/DKI Jakarta]. di luar PON, Setijadi pernah kalah melawan raja kelas berat asal Sumatera Utara, Paruhum Siregar.
Kelas berat pertama kali dipertandingkan pada PON VII. Dua PON sebelumnya [Makassar 1957 dan Bandung 1961] cabor tinju dibatasi sampai kelas menengah. Sedangkan PON VI/1965 Jakarta, batal karena kemelut politik di Tanah Air, terjadinya pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI), atau G.30.S/PKI.
Wasit Royke Wanay [Sulawesi Utara] yang memimpin final kelas berat PON Papua mendapat pengawalan ketat pihak keamanan.
Erico Amanupunjo, wasit Royke Wanay, dan Willis Riripoy setengah melayang menyambut kemenangan yang sangat fenomenal.
Baca Juga
Advertisement
Willis Riripoy Kelas Berat Terakhir
Dalam coretan penulis, Willis Riripoy [Jawa Tengah] adalah kelas berat terakhir, yang memenangkan medali emas PON.
Setelah Willis merebut medali emas kelas berat PON Papua [XX/2021] dengan mengalahkan petinju tuan rumah Erico Amanupunjo [Papua, sebelumnya Sulawesi Selatan] yang menimbulkan kontroversi panjang, kelas berat tidak pernah lagi dipertandingkan. Kelas berat Indonesia diputus sampai di situ.
Dari sekian banyak pertandingan kelas berat yang pernah penulis saksikan, paling bersejarah sudah partai final PON Papua antara Willis Riripoy melawan Erico Amanupunjo. Akhir dari pertandingan sangat melelahkan sekaligus menakutkan. Seluruh wasit/hakim yang bertugas pada final PON, harus kembali ke penginapan di Balali Pelatihan Koperasi [Balatkop] Indah Angkasapura, Jayapura, dengan cara dikawal khusus oleh pihak keamanan.
Baca Juga
Advertisement
Hasil Pertandingan Kelas Berat PON Papua
- Nasrudin [Nusa Tenggara Barat] menang KO-II atas Bahmid Taha Rumkel [Kalimantan Utara].
- Sandiyarto Deno Peroza [Kepulauan Riau] menang RSC-II atas Hasmar Lubis [DKI Jakarta].
- Erico Kevin Amanupunjo [Papua] MAA Haris Mongga [Sulawesi Selatan].
- Semifinal: Erico Kevin Amanupunjo [Papua] MAA Sandiyarto Deno Peroza [Kepulauan Riau].
- Semifinal: Willis Riripoy MAA Nasrudin [Nusa Tenggara Barat].
- Final: Willis Riripoy MAA Erico Kevin Amanupunjo [Papua]. Pertandingan dihentikan sebelum ronde ketiga selesai, karena Willis terluka parah, yang diputuskan oleh wasit sebagai akibat benturan. Setelah hitung angka, Willis diumumkan menang.
Pada PON terakhir, PON ke-21 Aceh-Sumatera Utara tahun 2024, kelas berat benar-benar sudah dihapus. Petinju yang biasa bertanding di kelas berat, 91 kilogram, harus berjuang menurunkan beratnya agar bisa bertanding di kelas penjelajah, 86 kilogram. Kelas ini mulai masuk tinju amatir pada tahun 2023.
Raja Kelas Berat Indonesia
Di luar nama-nama tadi, berikut adalah kelas berat terkenal antara lain:
- Firman Pasaribu, juara Nasional dan pemegang medali emas PON VIII di Gedung Basket Senayan, Jakarta, 5-10 Agustus 1973. Dalam final, Firman yang kalah tinggi mematahkan perlawanan Lodewijk Akwan [Irian Jaya/Papua Barat].
- Krismanto, raja kelas berat asal Sumatera Utara, sangat terkenal karena mendominasi pertandingan Kejurnas dan merebut medali emas PON IX/1977, mengalahkan Benny Maniani [Irian Jaya/Papua].
Krismanto pernah dijuluki “spesialisasi medali perak” Piala Presiden RI, sampai tiga kali tanpa pernah medali emas. Krismanto dua kali merebut medali emas SEA Games [Kuala Lumpur 1977 dan Jakarta 1979], sekali merebut medali perunggu Asian Games Bangkok 1978.
Baca Juga
Advertisement
- Lodewijk Akwan [Irian Jaya/Papua Barat], disebut-sebut sebagai “penerus Firman Pasaribu” adalah raja kelas berat dengan medali emas Kejurnas, PON, SEA Games XI/1981 Manila, SEA Games XII/1983 Singapura, dan perak SEA Games XIII/Bangkok 1985.
- Liston Siregar [Sumatera Utara], pernah menjadi raja kelas berat ketika berkali-kali merebut medali emas Kejurnas dan medali emas PON XII/1989 Jakarta.
Setelah era Krismanto, Lodewijk Akwan, dan Liston Siregar, kelas berat yang sangat berpengaruh tidak pernah lagi terdengar. Legenda kelas berat generesi terbaru belum terlihat, sampai sekarang.
Nama-nama berikut adalah mereka yang pernah mejadi juara Nasional atau juara PON seperti; Damanhur Siregar [Sumatera Utara], Kaharuddin Anhar [Sulawesi Selatan], Yance Kandaimu [Sumatera Selatan], Fiat Ahimsyah [Banten], Timotius Rumpaidus [Jawa Timur], Yunus Pane [Riau], Robby Chandra [Sumatera Barat], Nasruddin [Nusa Tenggara Barat], dan Willis Riripoy [Jawa Tengah].
Ikuti coreten berikutnya, tentang kelas pin atau kelas mini. Kelas ini paling banyak menyeberang ke profesional. Satu di antara mereka berhasil menjadi juara dunia.
Baca Juga
Advertisement
Non-M adalah Finon Manullang, pendiri Non-M Promotion tahun 1995 dan pendiri Majalah Ronde tahun 2001.