Rondeaktual.com – Kelas bantam yunior adalah petinju yang beratnya tidak boleh lebih dari 52.163 kilogram atau 115 pon. Berlaku sama di seluruh dunia.
Bisa jadi, kelas bantam yunior kurang populer. Namun, kelas ini telah mengantar Ellyas Pical sebagai juara dunia IBF. Ellyas Pical, kidal asal Pulau Saparua, bukan saja menjadi petinju Indonesia pertama yang juara dunia, tetapi mencetak rekor sebagai petinju satu-satunya tiga kali merebut sabuk juara IBF kelas bantam yunior.
Bagi penulis, yang terus-menerus mengikuti pertandingan Ellyas Pical mulai debut pronya melawan Eddy Rafael sampai pensiun dari tinju, sangat luar biasa. Itu tidak dialami oleh siapa pun. Ketika Ellyas Pical memulai karier tinju pronya di Garuda Jaya [Kompleks Bank Indonesia, Pancoran, Pasar Minggu, Jakarta Selatan] tidak ada yang menulis Ellyas Pical. Setelah juara dunia, orang-orang mulai sibuk mencarinya ke Garuda Jaya.
Baca Juga
Advertisement
Nama Ellyas Pical, tentu saja sudah sangat kuat dalam ingatan penggemar, sehingga di sini penulis tidak terlalu panjang menulis tentang sejarah Ellyas Pical.
Ellyas Pical Seorang Juara yang Hebat
- Ellyas Pical adalah juara Indonesia kelas bantam yunior sabuk Komisi Tinju Indonesia [KTI], merebut gelar di Surabaya, 11 Desember 1983. Salah satu pelatih yang berdiri di sudut Ellyas Pical adalah Kairus Sahel. Ketika itu organisasi tinju pro masih tunggal. Beda dengan sekarang, sudah ada enam badan tinju pro. Sesuatu yang tidak terbayangkan. Entah apa yang mereka kejar.
- Ellyas Pical adalah juara Oriental and Pacific Boxing Federation [OPBF] kelas bantam yunior, merebut gelar di Seoul, 19 Mei tahun 1984.
- Ellyas Pical adalah juara dunia International Boxing Federation [IBF] kelas bantam yunior. Elly tiga kali merebut gelar IBF dengan cara rebut, lepas, dan rebut kembali. Pertama; Elly menang KO-8 atas juara Ju Do Chun [Korea Selatan] di Jakarta, 3 Mei 1985. Kedua; Elly menang KO-3 atas Cesar Polanco [Republik Dominika] di Jakarta, 6 Juli 1986. Ini merupakan tanding ulang langsung, yang diurus oleh promotor Anton Sihotang. Sebelumnya Ellyas Pical kalah angka melalui split decision lima belas ronde. Ketiga; Ellyas Pical menang angka 15 ronde melawan juara Tae-il Chang [Korea Selatan] di Jakarta, 17 Oktober 1987.
Kelas Bantam Yunior Indonesia Lainnya
Wongso Indrajit [Swunggaling Malang] adalah juara Indonesia kelas bantam yunior sebelum era Ellyas Pical. Indrajit [sepupu Wongso Suseno] merebut gelar kosong melalui pertarungan 12 ronde melawan Moningka Pulungan [Pucang Surabaya] di Gedung Olahraga Pantjasila, Jalan Indragiri, Surabaya, tahun 1981. Wongso Indrajit kehilangan gelar ketika berhadapan dengan southpaw Ellyas Pical di Gedung Go Skate, Surabaya, tahun 1983. Banyak orang kalah taruhan, mengira Ellyas Pical tak akan sanggup bermain panjang 12 ronde.
Setelah merebut gelar OPBF, Ellyas Pical melepas gelar juara Indonesia. Wongso Indrajit kembali merebut gelarnya yang hilang, setelah memenangkan pertandingan 12 ronde melawan Dodie Tabalubun [Cipta Jasa Jember].
Baca Juga
Advertisement
Wongso Indrajit berkali-kali mempertahankan gelar. Dua kali mengalahkan Little Holmes [Gajayana Malang] di Jakarta KO ronde keempat dan di Bengkulu kalah angka kontroversial. Misiyanto alias Little Holmes mengamuk di Bengkulu. Turun dari atas ring langsung menyambar mik dari tangan time keeper Komisi Tinju Indonesia. Little Holmes tidak menerima kekalahannya dan dari pinggir ring ia menantang Wongso Indrajit.
Wongso Indrajit kehilangan gelar di Pekanbaru, Riau, ketika southpaw Yossy Amnifu yang tidak disangka-sangka melucuti gelar sang juara melalui keputusan split.
Yossy Amnifu, penggemar pinang merah, menjadi salah satu yang terbesar dalam kelas bantam yunior Indonesia. Yossy berkali-kali mempertahankan gelar, termasuk keputusan imbang tanpa pemenang melawan Michael Arthur [Surya Malang] di GOR Manahan Solo, Jawa Tengah, yang menimbulkan rusuh. Para petaruh mengamuk dan mengancam Inspektur Pertandingan [IP] Willy Lasut dari KTI Pusat, agar merubah keputusan draw menjadi kemenangan angka bagi Michael Arthur.
Baca Juga
Advertisement
Di bawah teror dan tekanan dan orang-orang suruhan mengepung Willy Lasut di meja Dewan Juri. Tidak ada pengamanan. Willy Lasut bertahan tidak mau merubah hasil pertandingan yang telah diumumkan oleh boxing announcer. Yossy Amnifu dipaksa turun dari atas ring tanpa seremonial penyerahan sabuk kejuaraan. Yossy menerima sabuknya di sebelah kamar mandi GOR Manahan Solo.
“Saya tidak tahu apa yang terjadi,” kata Yossy Amnifu, ketika penulis menjumpainya seorang diri. “Kalau sabuk ini masih milik saya, ya terima kasih.”
Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 18 Februari 1989, bersama promotor Agus Mulyantono dari Malang. Wasit merangkap hakim Yoppy Limahelu [Surabaya] menilai 114-115 untuk Michael Arthur. Soenaryo [Surabaya] 115-115. M. Junus [Probolinggo] 116-116. Keputusannya adalah majority draw.
Baca Juga
Advertisement
Jujur saja, malam itu harus ada pemenang dan Michaer Arthur adalah orangnya. Sayangnya, tinju pro sering menimbulkan ketidakpercayaan. Dibikin kacau.
Di ujung malam, di lobi hotel, rombongan tinju dari Malang sudah menunggu hakim Junus, yang juga “Kera Ngalam”. Seorang di antara mereka, melempar termos hotel dan mengenai punggung Junus. Meski bergerombol, mereka tidak berani menyerang dari depan. Beraninya main belakang.
Kelas bantam yunior lainnya yang punya prestasi adalah Marianus Penmelay [Pirih Surabaya] dan Lamhot Simamora [Torpana Medan]. Kedua nama menyandang titel OPBF. Marianus merebut gelar di Bontang, mengalahkan petinju Thailand melalui pertarungan berdarah. Lamhot merebut gelar dari tangan Marianus di Pekan Raya Jakarta [PRJ].
Baca Juga
Advertisement
Lamhot empat kali mempertahankan gelar; mengalahkan Romeo Oprisa [Pilipina, di Jakarta], Suksawat Torboonlert [Thailand, di Jakarta], Chartehai Sorthanikul [Thailand, di Jakarta], dan Lucas Mathew [Filipina, di Medan].
Masih banyak kelas bantam yunior Indonesia lainnya, seperti Alloysius Cry, Kid Samora, dan yang datang dari pertandingan Sabuk Emas RCTI, Gelar Tinju Profesional Indosiar, SCTV Top Boxing, dan Round to Round Fight TVRI.
Tetapi, yang paling menyita perhatian adalah Ellyas Pical, Wongso Indrajit, Yossy Amnifu, dan Lamhot Simamora. Mereka adalah legenda kelas bantam yunior Indonesia.
Baca Juga
Advertisement
Non-M adalah Finon Manullang, penulis buku “Memoar Tinju Profesional” dan “Jejak Tinju Indonesia” dan “Perjalanan Tinju Indonesia” serta sejumlah buku tinju amatir edisi spesial.