Rondeaktual.com – Tadi malam, pas awal tahun, 1 Januari 2026, penulis bertanya-tanya pada diri sendiri, siapa petinju pertama yang penulis wawancarai? Sampai mata ini lelah dan tertidur, penulis tidak menemukan jawabannya.
Kalau menduga-duga siapa, mungkin salah satu dari lima nama berikut ini.
- Apakah Little Joe?
- Apakah Valence Hurulean?
- Apakah Rocky Joe?
- Apakah Rudy Siregar?
- Apakah Ellyas Pical?
Urut kelima sepertinya tidak. Sebab Ellyas Pical datang pada tanggal 12 Desember 1982, menang TKO ronde keempat melawan Eddy Rafael dari Scorpio Boxing Camp Jakarta, berlangsung di GOR Satria Kinayungan, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Baca Juga
Advertisement
Itu merupakan debut Ellyas Pical di tinju pro. Tiga tahun kemudian, tepatnya Jumat malam, 3 Mei 1985, melalui serangan kidal mematikan atau straight kiri, Ellyas Pical menjatuhkan sang juara Ju Do Chun pada ronde kedelapan dari lima belas ronde yang direncanakan.
Malam itu, Ellyas Pical asal Pulau Saparua, Maluku Tengah, menjadi orang Indonesia pertama merebut gelar tinju dunia kelas bantam yunior versi Federasi Tinju Internasional [IBF].
Mengenal Little Joe sebagai Petinju dan Dukun
Penulis pertama kali bertemu Frans Latuperissa alias Little Joe di Kwitang, Jakarta Pusat, tidak jauh dari belakang toko buku terkenal Gunung Agung.
Baca Juga
Advertisement
Itu tahun 1980. Pelatih tinju Scorpio Jakarta, Kid Francis mengenalkan Little Joe kepada penulis sebagai petinju profesional kelas terbang, bukan sebagai dukun. Kid Francis menyebut Little Joe seorang fighter sejati, yang cenderung mengejar dan memukuli lawan dari sudut ke sudut.
Little Joe bekerja di Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara [Pertamina], berkantor di Jalan Medan Merdeka, Gambir, Jakarta Pusat. Little Joe tugas satuan pengamanan atau populer disebut Satpam.
Little Joe mengaku berjalan kaki dari kantornya daerah Gambir ke tempat latihan tinju di Kwitang. Berjalan kaki, menurutnya dapat menguatkan kaki di dalam ring.
Baca Juga
Advertisement
Tidak terbayang bagaimana Little Joe berjalan kaki sejauh itu. Tetapi, mungkin saja, pada era itu orang belum mengenal ojek motor.
Little Joe bukan orang terkenal. Perjalanan tinjunya juga masih di bawah alias untuk partai eliminasi 4 atau 6 ronde. Belum masuk main event. Masih jauh.
Entah mengapa hati ini begitu kuat untuk wawancara Little Joe di rumahnya. Pada era itu, penulis lebih suka wawancara di rumah daripada di tempat latihan. Tidak heran bila petinju masa lalu seperti Tubagus Jaya [Jakarta], Juhari [Malang], Monod [Malang], wawancara berlangsung di rumah. Iwan Sutiksno alias Tubagus Jaya wawancara di rumah petak yang sekarang disebut kontrakan di daerah Senayan. Juhari di rumah orangtuanya di Jalan Tanjung, Malang. Monod di rumah orangtuanya di Ngaglik, Malang.
Baca Juga
Advertisement
Kembali ke Little Joe. Suatu hari hampir magrib, penulis bertamu ke rumah beliau di Asrama Mahasiswa Minahasa di daerah Pedati, Jatinegera, Jakarta Timur.
Belum sempat wawancara, Little Joe memotong: “Wawancara jangan di sini. Nanti saja, di sana. Ayo, ikut gua.”
Penulis setengah bingung, mengapa diajak pergi. Kepala ini menjadi bertanya-tanya ketika tiba-tiba saja dua perempuan muda cantik sudah duduk di ruang tamu yang sempit.
Baca Juga
Advertisement
Sepertinya dua tamu itu sudah akrab dengan tuan rumah. “Bung Frans, minta yang lebih paten lagi ya,” kata seorang, yang sengaja melepas dua kancing baju membuat dadanya terlihat terbelah. Indah dan bohai.
Singkat cerita, kami pergi menggunakan omprengan [transportasi informal alias angkutan gelap]. Tiba di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, sudah gelap. Kami harus berjalan kaki sekitar 30 menit ke dalam. Dua orang paling depan memegang obor, menerangi perjalan kami yang gelap gulita. Era itu, Marunda belum disentuh PLN.
Di Marunda, tidak jauh dari Rumah Si Pitung, yang merupakan situs sejarah dan cagar budaya, Little Joe menjalankan profesinya menjaga makam. Lokasinya dinding beton agar tidak erosi.
Baca Juga
Advertisement
Praktek pengobatan alternative versi Little Joe buka pukul 11 malam. Berlangsung tiga atau lima jam. Kami pulang sebelum Marunda terang.
Banyak yang datang. Dua perempuan yang tadi terlihat aduhai, tampil biasa-biasanya, setelah membungkus tubuhnya dengan jaket, menghilangkan kesan seksi.
Pada kunjungan pertama itu, penulis memastikan bahwa Little Joe dukun. Tanpa kemenyan tanpa sesajen, orang-orang datang meminta berbagai keperluan. Ada untuk penglaris, naik pangkat, disayang suami, minta buntut alias nomor togel, dan emak-emak meminta agar anaknya menang dalam pertandingan tinju bulanan versi MBC.
Baca Juga
Advertisement
Kedua perempuan tadi, seperti diceritakan Little Joe di minggu berikutnya, ternyata hostess.
Pada era itu, hostess adalah sebutan bagi wanita yang bekerja di nightclub, melayani para hidung belang berdansa sampai subuh. Di tahun 80-an, tempat hiburan malam belum seperti sekarang, yang penuh narkoba dan seks di kamar-kamar rahasia yang disewakan pemilik dengan cara short time.
Istihal hostees sudah lama hilang ditelan zaman. Telah berubah menjadi Pekerja Seks Komersial alias PSK.
Baca Juga
Advertisement
Sekali lagi singkat cerita, penulis lebih mengenal Litle Joe sebagai penjaga makam alias dukun daripada seorang petinju.
Penulis tidak pernah melihat Little Joe bertanding. Tetapi, penulis percaya akan kata-kata pelatih Kid Francis, bahwa Little Joe seorang petinju profesional kelas terbang.
Seingat penulis, Bapak Frans Latuperissa alias Little Joe, tinggal di Perumahan Pertamina di Semper, Koja, Jakarta Utara, tidak jauh dari rumah pasangan atlet Didik Darmadi [sepak bola] dan Luciana Taroreh [bola voli]. Penulis pernah singgah sebentar.
Baca Juga
Advertisement
Non-M adalah Finon Manullang, menulis untuk tinju.