Rondeaktual.com – Setijadi Laksono [Jawa Timur] adalah pemegang medali emas kelas berat PON VII/1969 Surabaya. Dalam final, Setijadi mengalahkan Firman Pasaribu [Sumatera Utara/DKI Jakarta].
Setijadi dan Firman menjadi musuh besar dalam tinju amatir. Firman mengalahkan Setijadi kemudian kalah melawan Setijadi. Saling mengalahkan.
Setelah pensiun dari tinju, Setijadi menjadi pelatih untuk nama-nama besar seperti; Wongso Suseno, Johny Mangi, Nur Hasyim, Didik Mulyadi [masih aktih sebagai pelatih di Malang], Wongso Indrajit, Yani Hagler, Kai Siong, dan masih banyak.
Baca Juga
Advertisement
Setijadi terekenal sebagai promotor. Hampir semua petinju pernah didatangkan ke Jawa Timur, seperti Ellyas Pical, Polly Pasireron, Tubagus Jaya, Piet Gommies, Eddy Gommies, termasuk petinju Jawa Tengah asuhan pelatih Sutan Rambing.
Setijadi Laksono lahir di Malang, 25 Juni 1934, bernama Liem Gwan Sing. Meninggal dunia di Surabaya, 12 Februari 2001, dalam usia 67 tahun.
Di masa hidup hingga kepergiannya yang menyedihkan akibat digrogoti penyakit gula, Setijadi lebih kesohor sebagai promotor tinju. Almarhum satu-satunya petinju amatir yang masuk tinju pro kemudian masuk tinju amatir lagi. Seorang amatir yang sudah masuk pro, tidak boleh lagi ikut tinju amatir. Ini terjadi pada era Persatuan Tinju dan Gulat [Pertigu].
Baca Juga
Advertisement
Mengenal Setijadi Laksono di GOR Pulosari Malang, yang Terkenal Angker
Pada 19 Desember 1982, penulis menjalankan tugas jusnalistik ke Malang, Jawa Timur, untuk Majalah Selecta Sport, yang berkantor di Jalan Kebon Kacang, Jakarta Pusat.
Di sana, di GOR Pulosari Malang, promotor Arief Zakky dari Dinoyo, Malang, menyelenggarakan pertandingan. GOR itu terkenal angker karena sering menghasilkan keputusan kontroversial.
- Kejuaraan Indonesia kelas welter 12 ronde: Piet Gommies [Garuda Jaya Jakarta] mempertahankan gelar, menang unanimous decision melawan tuan rumah M Solikin [Gajayana Malang].
- Kejuaraan Indonesia kelas ringan 12 ronde: Juhari [Gajayana Malang] menang unanimous decision melawan juara Kai Siong [Sawunggaling Surabaya].
- Kelas bulu yunior 10 ronde: Monod [Arema Malang] cetak rekor KO tercepat 23 detik atas Eddy Gommies [Garuda Jaya Jakarta].
- Kelas bantam 8 ronde: Edward Apay [Higam Malang] menang TKO-4 atas Yan Nainggolan [Pemuda Pancasila Jakarta]. Nainggolan dilarikan ke RS Syaiful Anwar. Rahangnya bergeser dihantam hook Edward Apay, asal Tanah Merah, Merauke.
- Kelas bantam yunior 4 ronde: Ellyas Pical [Garuda Jaya Jakarta] menang angka atas Benny [Alamanda Malang]. Ini merupakan perjalanan kedua Ellyas Pical di tinju pro.
Malam itu, penulis berkenalan dengan Setijadi Laksono. Tidak ada wawancara. “Kapan you balik Jakarta,” katanya.
Baca Juga
Advertisement
Kami berpisah di pintu GOR Pulosari Malang, yang terkenal paling sering menghasilkan keputusan kontroversial. Petinju tamu yang kasatmata mendominasi sepanjang ronde, bisa diumukan kalah split.
Kasus seperti itu dibiarkan bertahun-tahun. Tidak ada koreksi dari Komisi Tinju Indonesia. Tidak ada perubahan, sampai akhirnya GOR Pulosari tinggal kenangan. Sudah rata dengan tanah dan berubah menjadi pusat bisnis modern.
Majalah Tinju Indonesia edisi Februari 1985. Arah jarum jam: Herry Maitimu, Urbanus Manatar, Atman Wiratman, Rahman Priyono, Sonny Arwan, dan Johni Asadoma. [Non-M Promotion]
Baca Juga
Advertisement
Menangani Majalah “Tinju Indonesia” di Surabaya
Dari pertemuan GOR Pulosari Malang, hubungan kami menjadi dekat. Kepada Setijadi Laksono, penulis menawarkan diri untuk menangani “Tinju Indonesia”, majalah yang berkantor di Jalan Kalikepiting 123, Surabaya.
Majalah diurus sendiri oleh Setijadi. Tim redaksi sudah pergi meninggalkan kantor karena tidak ada uang. Majalah yang dicetak dengan kertas koran tidak laku dijual. Kebanyakan orang malas bayar.
Akhirnya penulis meninggalkan Jakarta dan bergabung dengan Tinju Indonesia, majalah satu-satunya yang secara spesifik menulis tentang tinju.
Baca Juga
Advertisement
Tidak ada perjanjian uang dengan Setijadi, selalu pengelola majalah. Namun, ini kesepakatan kami berdua:
- Penulis bertanggung jawab mengisi semua halaman; 50% tinju pro, 20% tinju amatir, dan 30% tinju luar negeri.
- Penulis mendapat tempat tinggal di asrama tinju Sawunggaling, menempati kamar yang jaraknya hanya 10 langkah dari ruang Redaksi. Rumah Setijadi luas, yang terdiri dari rumah utama, kamar petinju, ring tinju, ruang latihan, kantor Sawunggaling Promotion, dan kantor Majalah Tinju Indonesia.
- Setijadi menyediakan makan. Apa yang dimakan penulis, itulah yang dimakan oleh Setijadi bersama seluruh petinju Sawunggaling.
Petinju Sawunggaling Jual Majalah
Setelah melewati banyak perubahan, dari kertas koran menjadi kertas HVS, majalah mulai laku di jual. Agen besar di Jembatan Merah, Surabaya, disiplin bayar. Sementara, beberapa agen di Terminal Pulogadung, Jakarta, terkenal paling suka berbohong. Kalau ditagih, jawabnya “tar sok mulu” dan itu sama saja menghindari pembayaran. Tega sekali mereka.
Setiap pertandingan tinju di Malang dan Surabaya, petinju Sawunggaling [Yani Hagler, Hengky Gun, Suwarno Perico, Pipino Sihombing, Teng Hok Tengaraja] rebutan jual majalah kepada penonton. Dari harga jual Rp 1.000, petinju kebagian 30%.
Baca Juga
Advertisement
Selama menangani Redaksional Tinju Indonesia, penulis dan Setijadi hampir setiap bulan meninggalkan Surabaya. Setijadi mendampingi petinju Sawunggaling bertanding. Penulis meliput pertandingan. Seluruh biaya liputan termasuk ongkos perjalanan, ditanggung Majalah Tinju Indonesia.
Jumpa Paruhum Siregar di Polonia Medan
Suatu hari, 17 Januari 1988, kami bertemu Paruhum Siregar di Bandara Polonia, Medan. Kami baru pulang dari Padang Kejuaraan WBC International super featherweight, menuju Surabaya. Paruhum Siregar mendampingi petinju Sumatera Utara yang hendak bertanding di Kuala Lumpur.
Sambil menunggu pesawat, Setijadi cerita bahwa Paruhum Siregar adalah raja kelas berat yang pernah mengalahkannya. Paruhum juga sukses sebagai pelatih, mengantar petinju Sumatera Utara merajai Kejurnas. Anak Paruhum [Sonny Siregar dan Liston Siregar] sempat menjadi bintang. Nama keduanya diambil dari juara dunia kelas berat tahun 1962 Sonny Liston.
Baca Juga
Advertisement
Pergi ke Gua Hantu di Maros, Sulawesi Selatan
Pada hari Minggu, 27 November 1988, atau sehari setelah pertandingan WBC Junior bantamweight [Ketua Panitia Bob Nasution dan disaksikan Tommy Soeharto] di Stadion Mattoangin Ujungpandang [sekarang Makassar], kami pergi ke Maros, Sulawesi Selatan.
Di sana meski dilarang keras oleh pemerintah setempat, orang-orang rebutan menjual kupu-kupu yang sudah diawetkan.
Pemandu lolak mengajak kami naik ke atas. Berjalan melewati tanjakan licin dari sisa hujan tadi malam. Dengan kemauan pantang mundur, kami sampai juga ke Gua Hantu, konon ditemukan pelancong asal Prancis.
Baca Juga
Advertisement
Di Makassar, kami juga bertamu ke rumah Ferry Hanafi, yang ingin masuk Sawunggaling untuk mengejar cita-cita menjadi juara tinju. Setijadi menolak karena Ferry masih sekolah.
Setelah lulus dari STM Negeri 2 Makassar, Ferry Hanafi datang ke Sawunggaling Surabaya, dan menjadi petinju profesional kelas bulu, tanpa jenjang amatir.
Ferry Hanafi, satu-satunya murid Setijadi Laksono yang datang dari Sulawesi Selatan. [Foto: Rondeaktual.com]
Baca Juga
Advertisement
Sayang seribu kali sayang, Ferry tidak pernah mencapai impiannya sebagai juara. Ferry gagal dan pergi dari Sawunggaling.
Hampir 35 tahun kemudian, penulis bertemu Ferry Hanafi di Jalan Jati, Sungai Bambu, Tanjungpriok, Jakarta Utara. Jalan hidup seseorang memang tidak bisa diduga.
Di Jakarta, Ferry Hanafi menemukan jodoh yang baik, Eka Sari Sitepu, asal Sumatera Utara. Mereka tinggal di rumah yang besar dan tetap sederhana. Satu anak mereka, Meldrick Surya [diambil dari nama juara dunia Meldrick Taylor] mendapat bea siswa ke Tiongkok, jurusan komputer science. Itu sungguh luar biasa.
Baca Juga
Advertisement
Non-M adalah Finon Manullang, mantan Redaktur Pelaksana Majalah Tinju Indonesia di Surabaya tahun 1984 hingga 1990.