Coretan Non-M: Menulis Thomas Americo dari Perspektif yang Berbeda

THOMAS AMERICO VS TARA SINGH
Thomas Americo, FK Sidabalok, dan Tara Singh, menjelang pertandingan terakhir Thomas Americo di Stadion Municipal, Dili, 14 Juli 1995. [Foto dari buku Memoar Tinju Profesional]

Rondeaktual.com – Penulis percaya, penggemar tinju Tanah Air pasti pernah mendengar nama Thomas Americo. Nama ini sangat legendaris.

  • Thomas Americo adalah kelahiran Bobonaro, Timor Timur [sekarang negara Timor Leste], 24 Desember 1958.
  • Thomas Americo meninggal dunia di Dili, 7 September 1999, dalam apa yang disebut “perang saudara”.

Pada awalnya, penulis tidak begitu dekat dengan Thomas Americo. Walaupun beberapa kali dipertemukan oleh pelatih Abu Dhory, Februari 1983.

Penulis mulai dekat dengan Thomas Americo setelah bertemu di rumah dinas Kasdim Banyuwangi, Kapten CHB. FK Sidabalok, Oktober 1984.

Advertisement

Penulis sering dan suka menulis tentang Thomas Americo. Dimulai dari era Majalah Tinju Indonesia di Surabaya tahun 1984 hingga era online seperti sekarang, melalui Rondeaktual.com.

Menulis Thomas Americo dari perspektif yang berbeda selalu menarik. Angle yang tidak akan pernah sama membuat tulisan menjadi favorit dibaca.

Tiga Hal yang Tidak Terlupakan

  • Meliput pertandingan terakhir Thomas Americo melawan Tara Singh di Stadion Municipal Dili, Sabtu, 15 Juli 1995. Ini peristiwa yang tidak terlupakan. Ketika itu penulis status wartawan sebuah koran harian di Surabaya. Supaya bisa ke Timor Timur tanpa konsekuensi buruk dari perusahaan, penulis diajari mengarang surat cuti tiga hari. Penulis diajari berbohong dengan tidak menyebut pergi ke Timor Timur.
  • Menjelang weight-in, Thomas Americo mengenalkan istri keduanya asal Dili, yang sedang mengandung. Kami sempat bicara tentang masa depan tinju. Di sana ada sasana tinju Benfica, mirip benteng Portugis.
  • Ini menarik. Di sana penulis menemukan jodoh, yang dikenalkan oleh promotor FK Sidabalok. Tidak lama kemudian, kami menikah di Pematangsiantar, kota pusat pertandingan tinju PON XXI/Aceh-Sumatera Utara, September 2024.

THOMAS AMERICO WA CERAH

Jimmy Kelton Sidabalok Alias Thomas Americo

Secara tidak sengaja, penulis menemukan Kartu Keluarga [KK] Thomas Americo. Asli warna abu-abu. Nama Thomas Americo tertulis sebagai Jimmy Kelton Sidabalok.

Advertisement

Pada tanggal 6 Agustus 1878, Thomas Americo diambil oleh Lettu CHB FK Sidabalok, dari Ainaro dan dibawa ke Pelabuhan Dili, kemudian menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, seteruskan menuju Malang.

Sidabalok adalah ayah angkat Thomas Americo. Di masa hidup, Sidabalok lebih sering menyebut anak angkatnya sebagai Thomas atau Jimmy.

Nama Americo adalah nama yag sengaja diberikan pelatih Tjipto Moerti sebagai upaya komersialisasi di dunia tinju pro. Tjipto Moerti adalah pelatih Arema Malang, yang pernah mencetak nama terkenal seperti Monod dan Little Pono.

Advertisement

Catatan Sejarah Tinju Indonesia

Sejarah tinju mencatat, Jimmy Kelton Sidabalok alias Thomas Americo adalah orang Indonesia pertama bertanding untuk kejuaraan dunia dan kalah 15 ronde melawan juara dunia WBC kelas welter yunior [super lightweight] Saoul Mamby [Amerika Serikat], Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu malam, 29 Agustus 1981.

Pada malam yang sangat bersejarah itu dan sepanjang 15 ronde, Thomas Americo tidak duduk dan tidak munum. Belum ada petinju yang melakukannya. Thomas Americo satu-satunya.

Informasi Penting Tentang Thomas Americo

  • Selama di Malang, Thomas Americo berlatih tinju di Arema Malang dan pindah ke Gajayana Malang, kemudian mendirikan sasana sendiri bernama Marabunta Malang.

Sasana tinju itu berada di belakang rumahnya, tanah kosong yang luas, di Jalan Manggar, Malang.

Advertisement

  • Bertanding membawa nama Kota Malang.
  • Pertama kali menikah di Malang, dengan gadis asal Kota Apel, Batu, Jawa Timur.
  • Menjadi promotor tinju di Malang dan membayar dirinya sendiri sebesar Rp 2.5 juta untuk pertandingan 10 ronde kelas welter melawan Supriyo dari Sawunggaling Malang.

Pada malam pertandingan, Thomas Americo sengaja dipotong oleh mafia tinju GOR Pulosarti Malang, dengan memberikan keputusan seri tanpa pemenang. Seharusnya, secara kasatmata, pemenangnya adalah Thomas Americo.

Dokter Datang Menyuntik Lawan Thomas Americo di Banyuwangi

Beberapa pertandingan Thomas Americo sudah pernah muat di Rondeaktual.com, ketika bertanding melawan:

  • Rocky Pirrottina [Australia], non gelar 10 ronde di Jakarta, kalah.
  • Petchiam Petchayarm [Thailand], non gelar 10 ronde di GOR Pulosari Malang, menang.
  • Agus Sabara, non gelar di Stadion Noto Hadinegoro, Jember, menang.
  • Bongguk Kendy, Kejuaraan Indonesia kelas welter yunior di Blitar, kalah.
  • Tara Singh, di Stadion Municipal Dili, Sabtu, 15 Juli 1995, menang.

Ini boleh dicatat. Penulis pernah meliput pertandingan Thomas Americo Kejuaraan Indonesia kelas welter yunior 12 ronde melawan Jimmy Sinantan dari Taman Tirta Surabaya, di GOR Mojopanggung, Banyuwangi, Sabtu malam, 6 Oktober 1984.

Advertisement

Nilai Thomas Americo-Jimmy Sinantan

  • Wasit Jopie Limahelu [Surabaya} merangkap menilai 118-115. Pada era itu dan untuk alasan hemat uang, wasit pro boleh rangkap hakim. Sekarang sudah dilarang dan aturan berlaku sama di seluruh dunia.
  • Hakim Eddy Poernomo [Malang] 117-115]
  • Hakim Rustam Hunowu [Surabaya] “lebih gila lagi” menilai 118-110. Selisih 8 poin, yang dalam tinju pro bisa diartikan sebagai tidak ada perlawanan.

Thomas Americo menang mutlak, 3-0. Tidak ada masalah. Tetapi di ruang ganti, Jimmy Sinantan asal Bandung, tidak menerima kekalahannya. Seharusnya TKO pada ronde sembilan, setelah hook kanan Jimmy merobek alis Thomas Americo. Dokter berkali-kali menghapus darah. Sudah seharusnya dihentikan, tetapi diteruskan sampai habis ronde.

Itulah yang mendorong Jimmy mengamuk dan menghajar dinding dengan tangan kosong. Pelatih Suatman, ayah Jimmy, Lyana [istri Jimmy] sambil menjaga kedua anak mereka yang masih kecil, gagal mengendalikan Jimmy Sinantan.

Seorang pria segera berlari dan berbicara kepada dokter pertandingan, yang masih berada di pinggir ring. Dokter datang dan tidak sampai lima menit, Jimmy Sinantan lemas dan tertidur.

Advertisement

Non-M adalah Finon Manullang, menulis untuk tinju.