Rondeaktual.com – Senang dan bersyukur bisa bertemu dengan sejumlah mantan petinju amatir dan profesional di Gelora Pancasila Surabaya.
Itu terjadi saat pertandingan tinju amatir Piala Wali Kota Surabaya, yang berlangsung tiga hari berturut-turut di pengujung bulan Juni 2026.
Penulis lupa siapa orang pertama jumpa di sana. Tetapi, mantan juara IBF Intercontinental kelas bantam Andrian Kaspari adalah orang terakhir yang sengaja penulis jumpai di dalam gedung yang dingin, yang dilengkapi AC Floor Standing.
Baca Juga
Advertisement
Sebelum menuju Surabaya, penulis sudah listing nama Andrian Kaspari sebagai satu-satunya yang akan penulis jumpai di sana. Bukan lantaran pernah menjadi sangat terkenal, melainkan karena ia bekerja sebagai satuan pengamanan [satpam] Gelora Pancasila. Estimasinya sudah pasti lebih mudah ditemui.
Sebelum tiba di Surabaya, penulis sangat berharap bisa bertemu Agus Ekajaya dan gagal. Agus adalah mantan musuh besar Andrian Kaspari dalam Kejuaraan Indonesia kelas bantam. Agus menjadi begitu spesial karena penulis pernah membawanya dari markas tinju Sawunggaling Surabaya ke rumahnya di ujung sebuah desa di Batu, Jawa Timur. Sepanjang perjalanan, Agus tidak pernah sadar apa sebenarnya yang telah terjadi. Sepuluh meter menjelang tiba di depan rumah, penulis menyampaikan kabar duka bahwa ibunda tersayang telah meninggal dunia. Spontan Agus menangis sejadi-jadinya, seperti anak kecil yang baru saja kalah bermain kelereng.
Berikut adalah mantan petinju yang penulis jumpai saat meliput pertandingan tinju di Gelora Pancasila Surabaya.
Baca Juga
Advertisement
Monod
Monod, Arema Malang, hadir dengan gayanya yang sangat familiar. Ia sedang menyemangati petinju Malang dan menjelaskan awal Juli berangkat ke Solo, untuk menjadi salah satu wasit pertandingan tinju pro.
Monod pernah menjadi petinju paling favorit era tinju GOR Pulosari Malang, awal tahun 80-an. Ia memenangkan pertandingan atas petinju Thailand dan Filipina. Monod terlihat awet muda di usia 69 tahun. “Rahasianya, mandi air panas sebelum tidur malam,” katanya.
Baca Juga
Advertisement
Misiyanto alias Little Holmes
Sambil mengisap rokoknya, penulis menyalami Misiyanto alias Little Holmes, asal Malang dan sekarang pelatih di Sasana Bulungan Jakarta.
Misiyanto datang ke Surabaya untuk mendampingi putrinya, Ainun Little Holmes bertanding membawa DKI Jakarta. “Masih ada foto-foto saya waktu main tinju? Kalau ada, saya minta,” katanya.
Baca Juga
Advertisement
Little Holmes terkenal karena setiap habis bertanding, ia suka pamer meniru kaki Michael Jackson dengan gaya breakdance yang favorit pada tahun 1983.
Atman Wiratman dan Rahman Priyono
Duduk di bangku penjual kopi, penulis menyapa Atman Wiratman, M Jono Mojokerto, Rahman Priyono, dan yang lain.
Baca Juga
Advertisement
Atman dan Rahman pernah menjadi tim terkuat Pertina Jawa Timur dan pernah satu tim Pelatnas Kejuaraan Asia di Thailand, yang ditangani pelatih Asriel Gootje Lubis dan Musmar Sutan. Rahman menetap di Madiun dan Atman di Gresik.
Wito Ramirez
Wito Ramirez bercerita tentang perjalanan tinju dan hidupnya, yang konon sempat kena sambar guna-guna. Boleh percaya boleh tidak, Wito Ramirez mengaku sembuh setelah pergi berobat ke Solo.
Baca Juga
Advertisement
Wito, mantan juara Indonesia kelas bantam era tinju siaran langsung, datang bersama putrinya yang cantik, umur lima tahunan. Wito menjelaskan, ia menikah dengan putri Pak Lurah, sekitar lima tahun silam.
Wito bertinju untuk Sawunggaling Surabaya kemudian “dijual” ke tangan Sutan Rambing di Semarang. Pernah kerja kontrak perkebunan di Lahat, Sumatera Selatan, kemudian kembali ke Surabaya dan bekerja sebagai pelatih member. Muridnya banyak dan hidup dari uang sebagai pelatih.
Baca Juga
Advertisement
Dari kiri: Kidal Atman Wiratman, Rahman Priyono, Little Holmes, dan Sulistiyono, Sabtu, 27 Juni 2026.
Sulistiyono
Penulis merasa utang kebaikan kepada Sulistiyono, mantan petinju amatir yang pernah mendampingi legenda Ferry Moniaga menjalani pelatnas di Tretes, kawasan wisata pegunungan terkenal di Prigen, Jawa Timur.
Baca Juga
Advertisement
Minggu siang, penulis harus mencari toko HP untuk tujuan servis. Tiba-tiba jumpa Sulistiyono di pinggir pos satpam, sedang menikmati semangkuk bakso.
Dengan sepeda motornya dan tanpa pelindung kepala, Sulistiyono mengantar penulis ke Delta Plaza, pusat penjualan HP terbaik dan terlengkap. Tidak disangka-sangka bertemu dengan A Pong, adik Sulistiyono.
A Pong membawa penulis ke tokoh servis, untuk diperbaiki. “Berapa harus aku bayar?” tanya penulis. Kaget sekali ketika menolak uang servis. “Tidak bayar, tidak yang diganti,” kata penjaga toko. Baik hati.
Baca Juga
Advertisement
Tenghok Tengaraja
Tenghok Tengaraja satu-satunya mantan petinju yang penulis hubungi melalui ponsel. Ia bilang tidak bisa datang melihat tinju dan menawarkan siap jemput penulis untuk diantar kepada seorang yang menurutnya memiliki tangan sakti.
“Nanti diurut biar sembuh. Buka sore, setelah pulang dari kerja toko,” kata Tenghok Tengaraja.
Baca Juga
Advertisement
“Salah, Tenghok,” jawab penulis. “Aku bukan patah tulang, tapi susah tidur.”
“Maaf kalau begitu. Saya kira Abang ada masalah dengan tulang,” balas Tenghok, duda seorang anak.
Tenghok Tengaraja termasuk kawan setia. Ia dengan sepeda motornya pernah mengantar sekaligus mengawal penulis ke luar-masuk Gang Dolly untuk tujuan investigasi.
Baca Juga
Advertisement
Tahu kan Dolly? Dolly adalah pusat prostitusi paling berani memberikan servis seks oral, paling murah di Indonesia, dan paling terkenal sampai ke ujung mancanegara. Banyak hidung belang minta diantar ke sana, apalagi kalau sudah selesai bertanding.
Gang Dolly sekarang sudah “bersih”. Sudah tidak operasional pada era Wali Kota Tri Rismaharini. Itu pada tahun 2014. Dolly sekarang menjadi terang dan indah.
Mantan juara Indonesia Yosef Vennedy dan kedua putranya.
Baca Juga
Advertisement
Yosep Vennedy
Yosep Vennedy adalah seorang “Raja KO” milik Sawunggaling Surabaya dan mantan juara Indonesia kelas welter yunior. Kami bertemu di belakang ring.
Kepada penulis, Yosep mengenalkan dua putranya yang juga menjadi petinju amatir Surabaya. “Ini anak saya. Masih baru, tapi langsung dilawankan dengan yang sudah senior dan kalah,” kata Yosep. “Semoga putramu kelak menjadi petinju yang disukai penonton dan bisa melebihi prestasi papanya,” kata penulis, tetapi dalam hati saja.
Baca Juga
Advertisement
Andrian Kaspari
Kalau tidak sabar, mungkin penulis tidak akan pernah bertemu dengan Andrian Kaspari. Penulis sampai tiga hari mencarinya, dari pagi hingga malam. Lantaran sudah malam dan terburu-buru saat final Piala Wali Kota, kami hampir tidak sempat bicara apa-apa. Air mukanya terlihat fresh. Sehat semangat.
Di hari sebelumnya dan sambil menunggu Andrian Kaspari, seorang satpam Gelora Pancasila mengusir penulis dari kursi lipat yang tersedia di belakang Dewan Juri. Satpam itu tidak suka kalau penulis duduk di sana. Duduk di pinggir, bukan di kursi paling depan tempat orang-orang terhomat. Alasannya, tempat itu khusus untuk undangan.
Baca Juga
Advertisement
Siang itu belum ada undangan yang hadir. Kosong melompong. Penulis satu-satunya duduk di sana, lengkap dengan tanda masuk resmi yang dikeluarkan panitia. Artinya bukan penonton liar.
Sehari sebelum diusir, sudah ada mantan petinju duduk di sana. Entah mengapa, satpam itu tidak pernah berani mengusirnya. [Non-M adalah Finon Manullang, pernah menangani Redaksional Majalah “Tinju Indonesia” yang berkantor di Jalan Kalikepiting, Surabaya]
Baca Juga
Advertisement