Coretan Non-M: Sembilan Juara Dunia dari Indonesia, Mau Disanggah?

FINON MANULLANG CORETAN 2026

Rondeaktual.com – Penulis pernah hampir debat dengan seorang pria. Dia secara frontal menolak untuk mengakui status gelar IBO yang disandang Daud Yordan sebagai juara dunia.

Bagi dia, Daud Yordan bukan seorang juara dunia.

Terserah dia. Penulis memandang pria itu sebagai seorang wartawan yang sudah bertahun-tahun mencari dan membuat berita tinju Tanah Air. Orang sering menilainya wartawan senior.

Advertisement

Penulis tidak suka debat dengan orang yang hanya memandang gelar WBA, WBC, IBF, WBO, sebagai juara dunia.

Memang, harus diterima bahwa badan tinju dunia begitu banyak. Sangat membingungkan. Harus rajin melakukan pembaruan [update], agar bisa menghormati mereka para pemegang gelar dunia.

Selain WBA, WBC, IBF, WBO, badan tinju lain masih ada seperti WBF, IBO, IBA, UBC, WBU, UBO, dan seterusnya.

Advertisement

Itu belum gelar lain, seperti gelar Super, Reguler, Interim, Gold. Di satu kelas yang sama dan di badan tinju yang sama, bisa terdapat tiga juara dunia. Sekali lagi, memang sangat membingungkan.

Sepanjang sejarah olahraga,  Indonesia pernah merebut gelar dunia IBF disusul WBF, IBO, WBA, dan IBA.

Ellyas Pical adalah petinju Indonesia pertama menjadi juara dunia. Kidal asal Pulau Saparua itu merebut gelar IBF kelas bantam yunior [super flyweight], setelah memukul KO ronde kedelapan juara Judo Chun [Korea Selatan] di Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat malam, 3 Mei 1985.

Advertisement

Daftar juara dunia dari Indonesia

  1. Ellyas Pical

Kidal Ellyas Pical [domisili Duta Bintaro, Kunciran, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Provinsi Banten] pertama kali merebut gelar IBF kelas bantam yunior dari Ju Do Chun, knock out pada ronde kedelapan di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat malam, 3 Mei 1985.

Sukses Ellyas Pical atas dukungan Ir Rio Tambunan [pendiri Garuda Jaya, tempat Ellyas Pical berlatih], Boy Bolang [promotor], Anton Sihotang [manajer], Ir Simson Tambunan [pelatih], Kairus Sahel [asisten pelatih], dan para mitra tanding.

Sparring partner Ellyas Pical didatangkan ke sasana dengan cara kontrak dua minggu. Bila dianggap cocok, kontrak diperpanjang. Kontrak pada tahun 80-an itu bernilai Rp 250.000 bersih. Garuda Jaya menjamin akomodasi [tiket bus malam, tempat tinggal, makan, dan uang mingguan].

Advertisement

2. Ajib Albarado

Ajib Albarado adalah petinju asal Mojokerto, Jawa Timur. Tanpa jenjang amatir dan melalui Sawunggaling Surabaya, berhasil merebut gelar WBF kelas welter yunior.

Pada awal kariernya, Ajib Albarado dikenal sebagai Tajib Mandingo. Nama Mandingo diambil dari judul film yang dibintang oleh Ken Norton [salah satu dari lima kelas berat yang pernah mengalahkan Muhammad Ali].

Takut bermasalah dengan asuransi, Setijadi Laksono [manajer dan pelatih] mengganti Tajib Mandingo menjadi Ajib Albarado. Nama Albarado diambil dari nama mantan juara dunia Oscar Albarado.

Advertisement

Pada era itu dan untuk tujuan komersialisasi, sebagian petinju Jawa Timur mengambil nama belakang juara dunia.

Banyak petinju Indonesia patah rusuk atau rahang bergeser akibat pukulan maut Ajib Albarado. Ia sudah lama menetap di Jepang, setelah menikah dengan wanita Jepang yang ketika itu sedang melakukan penelitian di Jawa Timur.

3. Suwito Lagola

Suwito Lagola dari Pahlawan Binjai, Sumatera Utara, dua kali merebut gelar WBF kelas welter. Ia mengalahkan William Magahin [ayah tentara Amerika dan ibu Filipina]. Pertandingan melawan Magahin tidak diakui. Gelarnya dilucuti tanpa bertanding. Suwito kembali merebut gelar WBF welterweight, setelah mengalahkan Lorey Owein [Amerika Serikat] 12 ronde durasi 3 menit di Gedung Veteran Jakarta.

Advertisement

4. Nico Thomas

Kidal Nico Thomas adalah petinju kesayangan pembalap legendaris Tinton Soeprapto.

Melalui Tonsco Boxing Camp Jakarta dan ditangani duet pelatih Charles Thomas-Abu Dhori, Nico Thomas merebut gelar IBF kelas terbang mini dengan cara tanding ulang langsung melawan juara asal Thailand, kidal Mahasamuth Sithnaruepol di Senayan, Jakarta.

Dalam upaya mempertahankan gelar yang pertama, Nico Thomas tumbang KO pada ronde keenam di tangan kidal Filipina, Erik Chavez, yang dipromotori Jusuf Hamka, di Gedung Basket THR Tamansari, Jakarta.

Advertisement

5. Chris John

Chris John awalnya bersama pelatih Sutan Rambing di Buana Semarang. Setelah merebut gelar WBA interim kelas bulu yang sedang kosong mengalahkan Oscar Leon dari Kolombia dan dua kali mempertahankan gelar, Chris John meninggal pelatih Sutan Rambing. Ia bertanding dari satu negara ke negara lain. Sukses besar, termasuk mengalahkan rekannya dari Indonesia, Daud Yordan. Chis John tak terkalahkan dan diangkat menjadi juara Super, sampai akhirnya tumbang di tangan petinju Afrika Selatan, Simpiwe Vetyeka, di Metro City, Northbridge, 6 Desember 2013.

Setelah kekalahan berdarah itu, Chris John memilih pensiun.

6. Mohamad Rachman

M Rachman dari Merah Putih Blitar, satu-satunya yang pernah merebut gelar IBF kemudian WBA kelas terbang mini. Rachman mempertahankan gelar WBA yang pertama di Jakarta dan kalah melawan petinju Thailand. Tuan rumah kurang akal dan kurang servis.

Advertisement

7. Daud Yordan

Daud Yordan dari Kalimantan Barat, dua kali merebut gelar IBO di kelas yang berbeda dan dan sekali merebut gelar IBA.

Gelar Daud, bagaimanapun itu adalah gelar dunia. Tidak perlu disanggah. Harus berani mengakuinya sebagai gelar dunia.

8. Tibo Monabesa

Advertisement

Kidal Tibo Monabesar dari Armin Tan Tangerang, merebut gelar kosong IBO kelas terbang ringan. Tibo tidak pernah mempertahankan gelarnya. Sengaja dibiarkan sampai copot tanpa bertanding.

9. Ongen Saknosiwi

Prajurit TNI AU merebut gelar IBA kelas bulu yang sedang kosong, mengalahkan petinju Filipina 12 ronde di Batu, Jawa Timur, 19 November 2019.

Itulah sembilan juara dunia dari Indonesia. Masih ada yang mau menyanggah? Entahlah.

Advertisement

Non-M adalah Finon Manullang, menulis untuk tinju

Advertisement