Coretan Non-M: Daftar Kelas Terbang Mini Indonesia yang Legendaris

RACHMAN VS KBTI
Mohamad Rachman [memegang mik], merupakan kelas terbang mini Indonesia yang sangat legendaris. Rachman dua kali juara dunia di versi yang berbeda.

Rondeaktual.com – Dalam tinju pro, kelas terbang mini adalah petinju yang beratnya tidak boleh lebih dari 47.627 kilogram, atau 105 pon. Aturan ini berlaku sama di seluruh dunia.

Dalam buku “Perjalanan Tinju Indonesia” edisi tahun 2023 disebutkan, kelas terbang mini Indonesia mulai dipertandingkan di pengujung tahun 1985. Dimulai dari Jawa Timur.

Pada era itu, bisnis tinju pro memang kuat di Jawa Timur. Ellyas Pical sampai enam kali bertanding di Malang dan Surabaya. Penonton datang dengan cara membeli tiket. Itu tradisi. Di daerah lain, entah mengapa penonton lebih suka dihormati dengan cara datang membawa undangan gratis.

Advertisement

Julius Leojan Juara Indonesia Pertama

Julis Leojan [mantan petinju amatir dari Garuda Airlangga Kediri] adalah orang pertama yang menyandang sabuk juara kelas terbang mini Indonesia.

Julius, mantan penjual baso dan loper susu di Desa Kutukan, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, merebut gelarnya setelah menang angka melalui unanimous decision [UD] dua belas ronde melawan fighter sejati Bristol Simangunsong [satu sasana dengan Ellyas Pical di Garuda Jaya Jakarta]. Berlangsung dalam partai tambahan Kejuaraan Dunia IBF kelas bantam yunior antara Ellyas Pical melawan Cesar Polanco [Republik Dominika] di Senayan, Jakarta, Sabtu, 6 Juli 1986.

Leojan tidak pernah menerima sabuk juaranya, termasuk sabuk juara dunia Ellyas Pical, yang memukul Polanco KO pada ronde ketiga. Sabuk kejuaraan Indonesia dan sabuk dunia IBF yang dibeli dari Amerika Serikat, hilang di atas meja Dewan Juri. Sampai sekarang dan sudah 39 tahun berlalu, tidak diketahui siapa pencurinya.

Advertisement

Kelas Terbang Mini Indonesia yang Legendaris

Nico Thomas

  • Southpaw Nico Thomas dari Tonsco Jakarta, menjadi orang Indonesia kedua merebut sabuk juara dunia. Nico Thomas melalui promotor Martin Walewangko, merebut sabuk IBF kelas terbang mini, menang UD-12 dalam pertandingan ulang melawan juara asal Thailand, southpaw Samuth Sithnaruepol, Jakarta, 17 Juni 1989.

Pada pertandingan Samuth-Nico I di Jakarta, 23 Maret 1989, bersama promotor Ferry Moniaga, berakhir imbang tanpa pemenang. Sangat mengecewakan kubu Indonesia dan itu menjadi keputusan paling “gila” dalam sejarah tinju Indonesia.

Mohamad Rachman

Advertisement

  • Kelas terbang mini Indonesia paling legendaris tidak lain tidak bukan adalah Mohamad Rachman dari Blitar, Jawa Timur.

Rachman satu-satunya dua kali juara dunia dari versi yang berbeda.

  • 14-09-2004: Rachman merebut gelar IBF dari tangan juara Daniel Reyes [Kolombia] melalui split 12 ronde di Kelapa Gading, Jakarta.
  • 19-04-2011: Rachman yang tidak disangka-sangka merebut gelar WBA dari tangan juara Kwanthai Sithmorseng melalui KO-9 di Bangkok, Thailand.

John Arief

  • John Arief, dari Rajawali Surabaya, merupakan salah satu kelas terbang mini yang sempat menonjol. Gaya bertinjunya terkesan aneh dan sulit dipukul, John Arief dijuluki petinju bergaya “pendekar mabuk”.
  • John Arief gagal dalam kejuaraan Oriental and Pacific Boxing Federation kelas terbang mini setelah bermain imbang 12 ronde melawan juara kidal Samuth Sithruepol dari Thailand, di Stadion 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, Juni 1987.
  • John Arief terus mengejar mimpinya. Namun, kalah angka 12 ronde kejuaraan dunia WBC kelas jerami [sama dengan kelas terbang mini] di tangan Napa Kiatwanchai di Nakhon Ratchasima, Thailand, pada Februari 1989.

20 LITTLE PONOLittle Pono

Advertisement

  • Meski tidak pernah juara Indonesia, Little Pono dari Arema Malang sangat populer di tingkat internasional.

Pono disukai penonton. Menyerang tidak mengenal takut. Tetapi, dia seorang “dagu kaca”, yang tiba-tiba saja bisa KO bila tangan lawan menyentuh dagunya.

Dikutip dari buku “Memoar Tinju Profesional” edisi 1995, Little Pono hampir menjadi juara OPBF kelas terbang mini, kalau saja tidak tumbang KO pada ronde 12 di tangan juara kidal Samuth Sithnaruepol [Thailand] di Bengkulu, 19 Juli 1986.

Setelah timbang badan, sudah ada kesepakatan di bawah ring, bila tidak tumbang, maka pemenangnya adalah Little Pono.

Advertisement

Pada tahun berikutnya, pas HUT promotor Tinton Soeprapto, 21 Mei 1987, di Hotel Borobudur Jakarta, Little Pono in-fight namun tumbang dihantam Little Baguio [Filipina] dalam kejuaraan WBC International.

Faisol Akbar

  • Di permulaan kariernya, Faisol, Akbar [Lumajang, Jawa Timur] adalah kelas terbang ringan, mengalahkan Yani Malhendo dan Johannes Lewarissa.

Faisol turun ke kelas terbang mini dan dua kali mengalahkan Mohamad Rachman.

Advertisement

Pada tahun 1997, Faisol mengalahkan On Doowiset [Thailand] untuk merebut gelar IBF Inter-Continental kelas terbang mini. Faisol salah satu anak emas mendiang promotor A Seng.

Berikutnya, Faisol pergi ke Afrika Selatan menantang juara dunia IBF kelas terbang mini Zolani Petelo. Faisol dinyatakan kalah split 12 ronde yang sangat mengecewakan. Bukan tidak mungkin Faisol menjadi juara dunia, bila kejuaraan itu berangsung di Indonesia.

Julio De La Basez

Advertisement

  • Julio De La Basez [Sawunggaling Surabaya] salah satu kelas terbang mini terbaik. Sayangnya ia tidak bisa mempertahankan beratnya dan naik ke kelas terbang ringan, kelas terbang, kelas bantam.

Oscar Raknafa

  • Setelah menjadi juara Indonesia kelas terbang mini, Oscar Raknafa [Sasando Tangerang] dipromosikan ke jalur internasional dan merebut gelar WBO Asia, mengalahkan Raul Pusta Jr [Filipina], di GOR Flobamora Kupang.

Setelah mengalahkan mantan juara dunia Mohamad Rachman melalui pertandingan 12 ronde di Balai Sarbini, Jakarta, Oscar tidak pernah lagi memenangkan pertandingan. Ia empat kali kalah berturut-turut di Thailand dan Australia.

Pada era tinju siaran langsung di berbagai televisi, muncul juara baru di kelas terbang mini yang bagus dan kuat antara lain; Heri Amol, La Syukur, Martin Polii, Juharum Silaban, Sofyan Effendy, Denny Ririmase, Poly Carpus, Rino Ukru, Boy Tanto, dan masih banyak.

Advertisement

Non-M adalah Finon Manullang, penulis buku “Memoar Tinju Profesional” edisi 1995 dan “Perjalanan Tinju Indonesia” edisi 2023.