Rondeaktual.com – Nikolas Johan Kilikily, SH. MH, [50 tahun, kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan] adalah seorang mantan petinju. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar [SD], Nikolas sudah mulai mengenal tinju.
Nikolas meneruskan hobinya dengan cara bergabung ke Garuda Jaya Jakarta, sebuah sasana tinju yang dibesarkan oleh Rio Tambunan dan adiknya pelatih Simson Tambunan, yang akhirnya melahirkan Ellyas Pical sebagai petinju Indonesia permata merebut gelar tinju dunia.
Di Garuda Jaya, Nikolas Kilikily berlatih antara lain bersama petinju Ippo Gala [pernah bertanding melawan Manny Pacquiao], Bongguk Kendy, Zulfred Saragih, Oscar.
Baca Juga
Advertisement
“Sejak kecil saya sudah mengenal tinju. Saya bangga dengan olahraga ini,” kata Nikolas Kilikily. “Saya sempat main tinju ketika latihan di Garuda Jaya Jakarta. Artinya, tinju bukan olahraga baru bagi saya. Belakangan tinju pro kita matisuri. Tolong, supaya ada perhatian dari Pak Menteri.” Berikut petikan wawancara Nikolas Johan Kilikily, SH. MH di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.
Promotor Nikolas Kilikily [kiri], Sekjen Perbati Hengky Silatang, dan tim, Rabu, 20 Mei 2026.
Nikolas Kilikily. [Forum Keadilan]
Baca Juga
Advertisement
Siapa yang mendorong Anda terjun sebagai promotor?
Lado. Dia yang mendorong saya. Mengapa saya terima promotor? Karena saya suka tinju. Kalau kita orang tinju, pasti terimalah.
Sebentar lagi ada Pattimura Big Fight.
Ya, saya maju sebagai promotor. Pertandingan di Studio TVRI Jakarta, tanggal 29 Mei 2026. Jangan lupa, datang dan saksikan. Ada dua partai internasional Indonesia melawan Thailand. Sunan Amoragam dari Indonesia menghadapi Thailand, Natthaphong Nuchaiy. Petinju Indonesia lainnya, Noldy Manakane menghadapi Thailand, Phirawat Panthong. Masih ada partai lain, sesama petinju Indonesia.
Saya yang meminta partai ini. Pattimura Big Fight jangan hanya tinju nasional, tetapi mari kita bikin pertandingan internasional. Kita mendatangkan dua petinju Thailand.
Baca Juga
Advertisement
Bagaimana persiapan Pattimura Big Fight?
Saya kira berjalan lancar. Ini [sebagai promotor] saya terima sekitar hampir dua bulan yang lalu.
Menurut Pak Yance Rahajaan, hasil pertemuan mereka sepakat menunjuk saya promotor. Sangat mepet. Mau tolak tapi sebagai putra daerah, saya terima. Kita orang tinju, jadi siap saja. Saya ingin Pattimura Big Fight menghasilkan kebaikan bagi tinju Indonesia.
Apa saja yang Anda siapkan?
Uang, ini sudah pasti. Tinju butuh uang banyak. Bayar ini dan itu, dan yang tidak kalah penting membayar petinju tidak murah-murah amat.
Baca Juga
Advertisement
Pattimura Big Fight adalah tim yang kuat. Ada bendahara. Ada ko-promotor. Tim bekerja secara maksimal. Mereka luar biasa. Kerja siang-malam. Tanpa pamrih dan saya senang.
Saya juga dengan hormat meminta Bapak H. Hercules sebagai penasihat. Kita dibantu mengadakan pendekatan dengan pihak terkait. Kehadiran Bapak H. Hercules membuka akses dengan pejabat negara.
Pattimura Big Fight dilengkapi izin resmi. Kita ajukan izin ke Kapolri, Panglima TNI, Gubernur DKI Jakarta, TVRI yang menyediakan tempat pertandingan. Terima kasih, sudah membantu.
Baca Juga
Advertisement
Setelah Pattimura Big Fight 2026, adakah rencana lain?
Saya ingin buat tinju yang lebih besar lagi. Saya ingin kejuaraan internasional. Mungkin OPBF [Asia dan Pasifik], dan meningkat ke yang lebih tinggi. Bukan tidak mungkin bakal ada kejuaraan dunia yang baru di Indonesia.
Kita sedang tidak punya petinju. Ada pendapat?
Saya melihat dalam sepuluh tahun terakhir tinju pro kita seakan matisuri. Sulit mendapat petinju. Sedih melihatnya. Padahal kita pernah melahirkan juara dunia.
Melalui pertandingan Pattimura tinju bisa maju. Saya percaya itu. Maluku gudangnya petinju. Lahirnya juara dunia Ellyas Pical disusul Nicolas Thomas, ya awalnya dari Maluku. Mereka bertanding di ring amatir. Bertanding di arena PON. Di ring internasional President`s Cup. Kemudian mereka pindah ke Jakarta dan menjadi juara dunia.
Baca Juga
Advertisement
Tidak hanya itu. Kita punya Anis Rogo. Punya M Rachman juara dunia kelas terbang mini IBF dan WBA. Ada Chris John dan Daud Yordan.
Itu bukti bahwa pemuda Indonesia punya potensi bagus. Tinju adalah olahraga yang sudah menghasilkan gelar juara dunia.
Sayagnya dalam hal ini pemerintah seakan tutup mata. Tidak melihat bahwa petinju Indonesia sudah membawa nama Indonesia ke dunia internasional. Rasanya bangga ketika mendengar petinju Indonesia menang di luar negeri. Masak prestasi seperti itu tidak dilihat. Saya berharap Menpora memberikan perhatian yang cukup untuk tinju pro.
Baca Juga
Advertisement
Jangan cuma fokus sepak bola. Ketahuilah, tinju pro Indonesia sudah sering juara di Asia Tenggara, juara di Asia, dan juara dunia. Kurang lengkap apalagi. Tolonglah sedikit saja melirik untuk tinju pro. Kasihan, Indonesia dulu bisa melahirkan juara dunia, sekarang tinju hampir hilang.
Kalau suatu saat nanti Menpora memberikan hatinya untuk tinju pro, saya yakin kita bisa berjaya lagi. Kita bisa ciptakan juara dunia baru. Generasi Ellyas Pical akan lahir, jika olahraga ini benar-benar diperhatikan.
Banyak promotor, tapi sekarang banyak yang berhenti.
Saya harap promotor yang dulu aktif supaya bangkit kembali. Tinju maju kalau ada promotor. Saya ingin tinju hidup lagi. Mari teman-teman, maju lagi sebagai promotor seperti dulu.
Baca Juga
Advertisement
Saya sudah mulai dari Pattimura Big Fight. Ini simbol daripada keberanian. Simbol pemersatu bangsa. Ke depan kita harus berani mengambil langkah besar untuk kemajuan tinju. [Finon Manullang, Foto istimewa]