Rondeaktual.com – Berikut adalah kisah tentang perjuangan seorang southpaw Nico Thomas dalam kejuaraan dunia IBF kelas terbang mini, dikutip dari “Perjalanan Tinju Indonesia”, pada halaman 49 dan 50. Kasatmata, kidal asal Maluku itu memenangkan pertandingan. Tetapi mau bilang apa, pertandingan 12 ronde itu diumumkan berakhir imbang tanpa pemenang. Nico Thomas gagal menjadi juara dunia, di depan publik sendiri.
Data Kejuaraan Dunia IBF Kelas Terbang Mini 12 Ronde
- Tempat: Gelora Bung Karno, Jakarta.
- Waktu: Kamis, 23 Maret 1989.
- Juara: Samuth Sithnaruepol [Thailand], kidal, kelahiran Chonburi, 17 Mei 1959.
- Penantang: Nicholas Nico Thomas [Indonesia], kidal, kelahiran Ambon, Maluku, 10 Juni 1966.
- Wasit: John Reilly [Amerika Serikat].
- Hakim A: John Reilly [Amerika Serikat] memberikan menilai 117-117.
- Hakim B: John Cauchi [Australia] 115-115.
- Hakim C: Leon Johannes [Indonesia] 117-113, untuk Nico Thomas.
- Keputusan: Draw, juara tetap juara.
- Ofisial ring: Komisi Tinju Indonesia.
- Supervisor: James Stevenson [Amerika Serikat].
- Promotor: Ferry Moniaga.
Hasil Partai Tambahan Kejuaraan Dunia IBF
- Kejuaraan Indonesia kelas terbang mini 12 ronde: Husni Ray [Benteng AMI/ASMI Jakarta] menang angka atas Bagio [Caruban Cirebon].
- Kelas bantam 10 ronde: Wongso Indrajit [Sawunggaling Malang, Indonesia] menang angka atas Somsak Srichan [Thailand].
- Kelas ringan 8 ronde: Boy Pakekong [AMI/ASMI Jakarta] menang angka atas Tubi Lee [Taman Tirta Surabaya].
Nico Thomas Sengaja Ditebang
Menyerang sepanjang dua belas ronde tanpa putus, ternyata belum cukup bagi southpaw Nicholas Nico Thomas [Tonsco Boxing Camp Jakarta, Indonesia] untuk menjadi juara dunia.
Sementara, southpaw Samuth Sithnaruepol [Thailand) yang bertarung sangat defensive sepanjang dua belas ronde, ternyata bisa mempertahankan gelar juara dunia IBF strawweight atau sama dengan kelas terbang mini [47,627 kilogram/105 pon] melalui putusan seri.
Baca Juga
Advertisement
Sithnaruepol turun dari atas ring sambil menenteng sabuk juara dunianya, yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, Kamis malam, 23 Maret 1989.
Sebelum menghadapi Nico Thomas, Samuth Sitnaruepol sudah dua kali mematahkan ambisi petinju Indonesia. Pertama, memukul knock out ronde kedua belas Little Pono [Arema Malang] dalam kejuaraan OPBF kelas terbang mini di Bengkulu, tahun 1986. Kedua, Sithnaruepol bertarung draw dua belas ronde melawan John Arief [Rajawali Surabaya] dalam kejuaraan OPBF kelas terbang mini di Stadion 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, tahun 1987.
Nico Thomas bertanding dari sudut biru, langsung melakukan tekanan, atas perintah duet pelatih Charles Thomas dan Abu Dhori. In fight sepanjang ronde membuat seluruh tim Nico Thomas dan penonton sekitar 2.500, merasa yakin seyakin-yakinnya bahwa pemenangnya adalah Nico Thomas. Seluruh orang-orang yang berdiri di sudut biru, langsung masuk ke dalam ring. Nico Thomas dipanggul dan diarak keliling ring. Selebrasi spontanis. Tidak dikarang-karang.
Baca Juga
Advertisement
Tetapi apa yang terjadi kemudian? Seluruh tim Nico Thomas merasa kecewa, setelah mendengar keputusan draw.
Nico Thomas sepertinya sengaja di tebang. Keputusan draw merupakan keputusan paling kontroversial sepanjang sejarah tinju di Indonesia. Nico Thomas, menyerang sepanjang dua belas ronde, setidaknya bisa menang 117-115.
Promotor Ferry Moniaga [mantan juara kelas bantam Asia tinju amatir] meneteskan airmata saat memberikan kata sambutan di dalam ring. Terasa hening.
Baca Juga
Advertisement
Nilai Tiga Hakim Tinju
- Hakim A: John Reilly [Amerika Serikat] 117-117.
- Hakim B: John Cauchi [Australia] 115-115.
- Hakim C: Leon Johannes [Indonesia] 117-113, untuk Nico Thomas.
Hasil draw mendorong pendukung Nico Thomas dan penonton marah. Apa saja yang ada di tangan, dilempar ke dalam ring, sebagai bentuk protes atas keputusan draw.
Seperti tidak percaya, Menteri Pemuda dan Olahraga Akbar Tandjung berjalan kaki dari Tribun VIP mendatangi meja ofisial ring. Ia berdiri di sana sambil memandangi wajah orang-orang yang berada di sekitar ring. Sebelum meninggalkan arena pertandingan, Akbar Tandjung meminta supaya diadakan pertandingan ulang.
“IBF no standard. No standard. No standar!” teriak Tinton Soeprapto, manejer Nico Thomas, berulang-ulang.
Baca Juga
Advertisement
Puluhan wartawan sibuk mengambil gambar peristiwa kontroversial yang jarang terjadi. Penulis di sana, bersandar di pinggir sudut netral, kemudian melaporkannya untuk Majalah “Tinju Indonesia”, yang berkantor di Surabaya.
Hampir Membuat Malu
Kejuaraan dunia itu hampir membuat malu kita semua. KTI Pusat berusaha menyelamatkan pertandingan, dengan cara mencoret penyandang dana, yang ternyata tidak punya uang. Berharap proposal laku dijual ternyata uangnya kosong.
Panitia baru hasil bentukan KTI Pusat melakukan berbagai efensiensi yang tidak masuk akal. Honor semua petinju partai tambahan, dipotong sampai 35%. Terlalu. [Dikutip dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia” edisi tahun 2023, Finon Manullang, menulis untuk tinju]
Baca Juga
Advertisement