Rondeaktual.com – Kemarin penulis bertemu dua nama yang sangat populer di masa mudanya, yaitu Kompol Akasa Rambing, SH, SIK, MH, dan Sonny Rambing. Keduanya seperti serentak menyambut penulis ketika hendak melangkah masuk ke dalam arena pertandingan.
Akasa dan Sonny berada di samping pintung masuk. Penulis mendekat dan menyalami Akasa Rambing, yang masih gagah dan dengan senyum yang indah. Di sebelahnya adalah Sonny Rambing, sudah terlalu gemuk untuk ukuran tinju. Hampir saja tidak mengenalinya, apalagi penulis belum lama menjalani operasi mata. Sehingga sedikit agak kabur-kabur.
Pertemuan itu terjadi di arena Kejurnas Perbati yang pertama di Gedung PPOP Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis, 12 Februari 2026.
Baca Juga
Advertisement
Kepada Akasa Rambing dan Sonny Rambing, secara spesifik penulis menyebut “Pertina” [Persatuan Tinju Amatir Indonesia] dan “Perbati” [Pengurus Besar Tinju Indonesia].
Tidak sedang berdebat. Tidak sedang membahas tinju amatir dualisme, seperti tulisan tokoh tinju Jawa Barat Markus Gea di Rondeaktual.com berjudul “Tinju Amatir Terbelah, Butuh Kepastian Hukum”.
Tidak. Penulis tidak suka membicarakan tinju amatir yang isinya tentang “Pertina” atau tentang “Perbati”.
Baca Juga
Advertisement
Sejak muncul istilah “Dualisme” dalam tinju amatir Tanah Air, penulis tidak pernah menulis tentang “Perbati” yang di dalamnya adalah tulisan “Pertina”. Sebaliknya, bila menulis tentang “Pertina”, di dalam berita tidak akan ada tulisan “Perbati”. Pertina ya Pertina. Perbati ya Perbati. Harus dipisah. Jangan diaduk. Nanti ada yang tersinggung bahkan marah. Tidak mau membalas WA. Tidak mau angkat telepon.
Biarlah “Pertina” dan “Perbati” sibuk menyuarakan keutuhan tinju amatir atau sibuk menyelenggarakan pertandingan. Itu lebih bagus.
Penulis percaya, suatu saat nanti akan terdengar ketukan palu dan sesakit apa pun itu harus diterima.
Baca Juga
Advertisement
Jadi, ketika jumpa dengan dua mantan petinju, yang secara kebetulan orangtua keduanya, yaitu mendiang H. Sutan Rambing, adalah sahabat penulis, rasanya senang-senang saja. Penulis tidak mau membicarakan “Pertina” versus “Perbati”.
Bicara tinju itu jauh lebih sehat. Tetapi, ketika hendak bicara dengan Sonny Rambing, ia sudah pergi masuk ke dalam gedung. Mungkin untuk mempersiapkan petinju Jawa Tengah yang akan bertanding.
Ketika penulis bertanya tentang Sonny Rambing, Akasa Rambing menyebut ada lima petinju Jawa Tengah yang datang mengikuti Kejurnas Perbati. Kelima petinju ditangani pelatih Sonny Rambing.
Baca Juga
Advertisement
Tentang Sonny Rambing menjadi pelatih, bukan cerita baru. Penulis pernah meliput kegiatan Sonny Rambing sebagai pelatih dalam pertandingan tinju di tengah jalan di Kemayoran, Jakarta Pusat, jauh sebelum era COVID-19 yang berkepanjangan.
Sonny harus menenangkan putranya yang menangis di sudut merah, setelah menyelesaikan pertandingan.
Itu alamiah saja. Beberapa anak mantan petinju yang bertanding dan kalah, ujungnya adalah menangis.
Baca Juga
Advertisement
Kemarin, penulis tidak sempat bicara apa-apa dengan Sonny Rambing. Kami sekali berpapasan di dalam gedung. Penulis berdiri melihat pertandingan Asriudian Tapalaola [DKI Jakarta] memukul jatuh-bangun lawannya, Lexa Mahmud dari Kepulauan Bangka Belitung.
Sonny berlalu begitu saja. Sibuk sekali. Karena ia harus mengurus petinjunya yang ada di kamar ganti. Tugas seorang pelatih memang harus begitu. Bertanggung jawab terhadap petinju yang ditanganinya.
Tentang hidup sebagai pelatih, Sonny Rambing sudah memulainya lebih dari sepuluh tahun silam. Barangkali belum melahirkan juara besar, seperti almarhum H. Sutan Rambing yang telah melahirkan banyak juara besar.
Baca Juga
Advertisement
Butuh waktu tentu saja. Namun modal untuk mmencetak seorang juara besar sudah ada pada diri Sonny Rambing.
Itu karena Sonny Rambing telah memiliki perjalan hidup yang panjang sebagai petinju. Sonny matang dalam ilmu tinju amatir dan ilmu tinju pro yang dikenal banyak drama.
Sonny Rambing.
Baca Juga
Advertisement
Saat di Kemayoran.
Juara PON dan Triple Champion
Sonny Rambing adalah pemegang medali emas Kejurnas dan puncaknya memenangkan medali emas kelas welter ringan PON XIV/1996 Jakarta. Dalam final, Sonny mengalahkan Hengky Tobias (Kalimantan Timur, sekarang pelatih di Kalimantan Utara).
Setelah emas PON, pelatih H. Sutan Rambing sengaja mendorong Sonny Rambing untuk memulai karier profesional, termasuk adiknya Arthur Rambing. Keduanya juara Indonesia. Sonny Rambing bukan saja juara Indonesia, tetapi menyamai Freddy Ramschie dari Jawa Timur.
Baca Juga
Advertisement
Dalam sejarah tinju Indonesia, Freddy Ramschie adalah orang pertama yang menjadi juara Indonesia di tiga kelas, makanya disebut Triple Champion.
Sonny Rambing menjadi Triple Champion setelah menjadi juara kelas welter yunior, kelas menengah yunior, dan kelas menengah.
Sonny Rambing menutup karier tinjunya setelah tidak disangka-sangka kalah di tangan Bagong.
Baca Juga
Advertisement
Sonny Rambing Radja Dubu memutuskan setop tinju dan masuk wushu dan sekarang menjadi pelatih di Rambing Boxing Camp Semarang, Jawa Timur. *