Coretan Non-M: Ibuku Pembaca Berat Berita Juara Dunia Ellyas Pical

TIMORIANA SIMANJUNTAK COVER 1
Suatu hari di teras rumah Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Rondeaktual.com – Tulisan berikut ini, berjudul Ibuku Pembaca Berat Berita Juara Dunia Ellyas Pical, sudah lama tersimpan dalam listing berita Rondeaktual.com. Sudah tersusun dan terstruktur.

Senggang menulisnya secara utuh dan itu sudah bersarang di kepala sejak dua yang lalu. Namun setiap hendak publish, selalu saja ada masalah alias dipotong oleh tulisan lain sehinga tunda lagi dan tunda lagi. Ini ibarat rencana pertandingan yang tertunda, yang dalam istilah tinju pro disebut postpoon.

Tulisan ini sama dengan tulisan berjudul “Mengintip Rumah Wasit Djafar dari Jendela Kereta Api Stasiun Jatinegara”, yang tayang pada edisi Kamis, 29 Januari 2026. Tulisan tentang mendiang Djafar sudah tunda berkali-kali, akibat kena potong tulisan lain.

Advertisement

Sedikit Tentang Ibuku

  • Nama: Timoriana Simanjuntak.
  • Lahir: Tano Jawa, Pematangsiantar, 25 Oktober 1935.
  • Meninggal dunia: RS Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis, 11 Januari 2018, dalam usia 82 tahun.
  • Dimakamkan: TPU Pondok Ranggon, Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu, 13 Januari 2018.

Pembaca Berat Berita Juara Dunia Ellyas Pical

Tidak bermaksud berlebihan, ibuku Timoriana Simanjuntak bisa jadi wanita satu-satunya penggemar berat membaca berita tentang Ellyas Pical [lihat gambar, sedang membaca Tabloid Ronde di masa hidup beliau]. Apa saja tentang Ellyas Pical dibaca habis sampai titik terakhir. Ibuku satu-satunya yang melakukannya, setahu penulis.

Itu sangat mungkin. Sebab penulis sudah keliling ke mana-mana meliput pertandingan tinju, tetapi tidak pernah berjumpa dengan wanita yang hobinya membaca berita tentang juara dunia kita Ellyas Pical.

Ibuku mulai “gila-gilaan” membaca berita tentang Ellyas Pical melalui “Majalah Tinju Indonesia” edisi Surabaya dan diteruskan dengan membaca “Tabloid Ronde” edisi Jakarta.

Advertisement

Pada tahun 2001, penulis mulai menerbitankan Tabloid Ronde di Jakarta dan Ellyas Pical sudah lama pensiun dari tinju.

Ellyas Pical terakhir kali bertanding kejuaraan dunia melawan Juan Polo Perez [Kolombia] di Roanoke, Virginia, Amerika Serikat, Sabtu, 14 Oktober 1989 [sumber buku Ian Morrisson]. Kidal Ellyas Pical kalah angka 12 ronde dan kehilangan gelar IBF kelas bantam yunior.

Meski Ellyas Pical sudah tidak bertinju, penulis paling suka menulis tentang Ellyas Pical, termasuk kasus “jebakan” menjual sebutir narkoba di “kawasan merah” Mangga Besar, Lokasari, Jakarta Barat.

Advertisement

Tabloid Ronde terbit setiap bulan, atau kadang bisa dua bulan, tergantung ketersediaan naskah. Setiap terbit, penulis pergi ke rumah ibuku di daerah Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, membawa oleh-oleh berupa Tabloid Ronde.

“Adong do di tulis ho Ellyas Pical di son?” tanya ibuku, dalam bahasa Batak. Artinya kurang lebih begini. “Adanya kau tulis tentang Ellyas Pical di sini?” Sejak kecil dan sebagai tanda rasa hormat kepada orangtua, penulis terbiasa berbahasa Batak.

Bereng ma [lihat sendiri lah],” jawab penulis. Tak baik juga kalau dijelaskan, nanti rasa kaget dan rasa bangga hilang. Membaca Ellyas Pical harus surprise.

Advertisement

Kami ada empat orang dan selalu menyebut ibuku dengan “Omak” atau “Mak”, yang artinya Ibu. Selama bertahun-tahun ibuku menjadi pembaca berat berita Ellyas Pical. Setiap menjumpai beliau dan menyerahkan Tabloid Ronde di rumah Pondok Kopi, yang pertama ditanya bukan “apa yang kau bawa?” tetapi “ada Ellyas Pical kau tulis?”

Suatu sore di teras rumah, ibuku bicara begini: “Tabo do u jaha tulisanmi. Mantap di roha.” Artinya: “Aku enak membaca tulisanmu. Mantap di hati.”

Senang mendengar pujian langsung dari ibu sendiri, yang bagi penulis pengakuan itu seolah telah mewakili suara pembaca wanita. Sangat jarang wanita yang seumuran dengan ibuku hobinya membaca berita olahraga tinju.

Advertisement

Selain membaca habis tentang Ellyas Pical, ibuku juga paling favorit membaca tulisan tentang Muhammad Ali, juara dunia kelas berat sampai tiga kali. Rekor Ali dilewati Evander Holyfield, empat kali juara dunia kelas berat. Sampai sekarang, rekor Holyfield masih utuh. Belum tersamai.

Soal menulis, penulis memang tidak melulu tentang Ellyas Pical, tetapi juga para legenda tinju seperti Muhammad Ali, Mike Tyson, Floyd Mayweather, Manny Pacquiao.

Ibuku pernah menyinggung tentang kehebatan Manny Pacquioa. Katanya, lincah dan cepat menyerang lawan. Tetapi soal siapa petinju favorit beliau, tidak ada yang bisa mematahkan kebesaran nama Muhammad Ali.

Advertisement

Ibuku telah mengenal Ali melalui Sinar Indonesia Baru [SIB], koran harian terbesar di Medan. SIB menulis kisah perjalanan Ali menjelang pertandingan kejuaraan dunia kelas berat melawan Joe Frazier pada tahun 1971.

Hanya dua nama itu yang paling disukai oleh ibuku; Ellyas Pical dan Muhammad Ali. Ibuku selalu ingat tangan kidal [long hook] Ellyas Pical, yang secara luar biasa menjatuhkan Ju Do Chun pada ronde 8 untuk menjadi juara dunia IBF kelas bantam yunior, di GBK Senayan, Jumat malam, 3 Mei 1985.

Kemenangan tersebut mengantar Ellyas Pical, kidal asal Saparua, menjadi petinju Indonesia pertama merebut gelar juara tinju dunia. Kuat dugaan itu pula yang mendorong ibuku suka membaca berita Ellyas Pical.

Advertisement

Non-M adalah Finon Manullang, menulis untuk tinju.