Coretan Non-M: Siapa Raja Kelas 48 Indonesia?

KELAS LAYANG WARNA

Rondeaktual.com – Kelas 48 kilogram hanya ada dalam tinju amatir. Kelas ini lebih popular disebut kelas layang atau kelas terbang ringan [light flyweight].

Sejarah kelas 48 kilogram sangat panjang. Kelas ini terkenal ketika Indonesia mulai menyelenggarakan turnamen tinju internasional bernama Piala Presiden Republik Indonesia, atau sering diucapkan President`s Cup.

Dari tahun ke tahun, Herry Matimu dan kawan-kawan bertanding di turnamen tinju internasional Piala Presiden RI.

Advertisement

Piala Presiden pertama kali diselenggarakan di Senayan, Jakarta, dari tanggal 7 hingga 12 Desember 1976. Piala Presiden terakhir dipertandingkan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada tahun 2019. Piala Presiden sudah tujuh tahun tidak pernah lagi dipertandingkan. Siapa pun dia, pasti merindukannya.

Piala Presiden terbukti paling banyak memberi kesempatan bertanding kepada petinju Indonesia. Dari sinilah kelas 48 mulai terkenal.

Kelas 48 tidak tidak hanya di Piala Presiden. Di berbagai pertandingan dalam negeri seperti Kejuaraan Nasional, Sarung Tinju Emas, dan Pekan Olahraga Nasional, kelas 48 sangat menonjol.

Advertisement

Petinju kelas 48 antara lain

  • Herry Maitimu, Maluku, kemudian hijrah ke Jambi.
  • Ronny Sarimole, DKI Jakarta.
  • Ucok Tanamal, Sumatera Utara.
  • Azaddin Anhar, Aceh kemudian hijrah ke Jakarta.
  • Slamet Riyadi, Kalimantan Selatan.
  • Soegiarto, Jawa Tengah.
  • Frans Batuwael, Jawa Barat.
  • Agus Souisa, Papua.
  • Atman Wiratman, Jawa Timur.
  • Suyono, Jawa Timur.
  • Faisol Akbar, Jawa Timur.
  • Ricky Matulessy, Maluku.
  • Hermensen Ballo, Nusa Tenggara Timur.
  • La Paene Masara, Maluku kemudian hijrah ke DKI Jakarta.
  • Syamsul Bahri Siregar, Sumatera Utara.
  • Stevanus Herry, Yogyakarta.
  • Wahab Bahari, Bali.
  • Jeremias Sally, Nusa Tenggara Timur.
  • Chairul Zaman, Daerah Istimewa Aceh.
  • Dikson Ton, Nusa Tenggara Timur.
  • Damianus Yordan, Kalimantan Barat.
  • Denny Hitarihun, Nusa Tenggara Timur.
  • Rionando Butarbutar, Kepulauan Riau.
  • Bonyx Saweho, Sulawesi Utara.
  • Dastesa Moniaga, DKI Jakarta, dan masih nama lainnya.

Kelas 48 menjadi salah satu yang paling favorit bagi penonton tinju amatir. Kelas ini lebih dominan menampilkan gong to gong fighter. Kelas 48 tidak ada yang malas. Petinju di kelas ini terkenal berani “jual-beli” pukulan. Sangat disukai penonton. Beda dengan tinju era sekarang. Era uang membuat petinju terkesan malas menyerang. Akhirnya ditinggal penggemar seperti sekarang.

Siapa Sebenarnya Raja Kelas 48?

Tinju amatir tidak selamanya setia dengan berat 48. Kelas ini pernah dihapus dan berubah menjadi kelas 49 kilogram dan kembali lagi ke 48 kilogram.

Meski berubah-ubah, bisa dipastikan berat 48 kilogram jauh lebih favorit daripada berat 49 kilogram. Kelas 48 telah terbukti melahirkan sejumlah petinju legendaris.

Advertisement

Kelas 48 terakhir dipertandingkan pada PON XVII/2008 Kalimantan Timur. PON XVII adalah PON pertama menandingkan tinju perempuan.

Medali emas kelas 48 PON XVII direbut oleh Deni Hitarihun [Nusa Tenggara Timur], medali perak direbut oleh Ismail Nahumuri [Jawa Barat], medali perunggu direbut oleh Eduardo Limaheking [Papua Barat] dan Irwansyah [Nusa Tenggara Barat].

Pada PON berikutnya, yaitu PON XVIII/2012, yang berlangsung di GOR Tengku Pangeran, Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau, kelas berat 48 dihapus dan berubah menjadi kelas berat 49 kilogram. Kelas ini dimenangkan oleh Rahmat Taubat [Sumatera Barat], disusul Deni Hitarihun [Nusa Tenggara Timur], Irfan Tentonda [DKI Jakarta], dan Musa Cahyadi [Jawa Tengah].

Advertisement

Pada PON berikutnya, PON Jawa Barat 2016 dan PON Papua 2021, kelas 49 tetap dipertandingkan. Di Jawa Barat juaranya adalah Ferdinand Kase [Jawa Barat], disusul Kornelis Kwangu Langu [Bali], Irfan Tentonda [Sulawesi Utara], dan Wawan Darmawan [Maluku Utara].

Pada PON Papua 2021, medali emas kelas 49 kilogram dimenangkan oleh Kornelis Kwangu Langu [Bali], medali perak Mario Kali [Nusa Tenggara Timur], medali perunggu Robi Pasaribu [Riau], dan Yusak Bien [Jambi].

PON terakhir, PON XXI Aceh-Sumatera Utara yang dipusatkan di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, beda lagi. PON XXI menghentikan berat 49 dan kembali menandingkan berat 48.

Advertisement

Juara baru kelas 48 adalah Dio Koebanu [Nusa Tenggara Timur], disusul Exel Karimella [Sulawesi Utara], Wahyudi Sihotang [Sumatera Utara], dan Karlus Bria [Bali].

Lantas, siapa sebenarnya raja kelas 48 Indonesia? Benarkah Herry Maitimu? Kalau ya, apa buktinya?

Herry Maitimu asal Batu Meja, Sirimau, Ambon, empat kali memenangkan medali emas kelas 48 PON. Kelas 48 adalah spesialisasi Herry Maitimu. Tak tersamai sampai sekarang.

Advertisement

Non-M adalah Finon Manullang, menulis untuk tinju.