Setelah Tumbang KO, Yani Hagler Memilih Pekerjaan Tukang Kayu

YANI HAGLER COVER APRIL 2026
Mantan petinju profesional Yani "Hagler" Dokolamo di Desa Ngroto, Kabupaten Malang, Jawa Timur. [Foto istimewa]

Rondeaktual.com – Penggemar tinju era pertengahan dekade 80-an, barangkali masih ingat dengan nama Yani “Hagler” Dokolamo.

Yani, di usia 17 tahun, “dipaksa” harus bertanding dalam Kejuaraan Dunia IBF kelas terbang ringan di Jakarta. Ketika itu, suasana berduka masih kental, setelah ayahanda tercinta Abdul Hair Dokolamo, seorang pensiunan polisi di Malang, meninggal dunia akibat gula tinggi, pada hari Minggu, 8 September 1985. Pengajuan untuk menunda pertandingan ditolak.

Yani Hagler bertanding untuk Kejuaraan Dunia IBF kelas terbang ringan [48.988 kilogram] melawan juara asal Filipina, kidal Dodie “Boy” Penalosa [berkaki pincang karena polia di masa anak-anak]. Berlangsung dalam rencana 15 ronde durasi 3 menit di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu malam, 12 Oktober 1985.

Advertisement

Kejuaraan dunia itu ditutup dengan tragis ketika pukulan kidal Penalosa empat kali menjatuhkan Yani Hagler, kidal buatan. Pertandingan itu dikenang sebagai “Tragedi 12 Oktober 1985”.

“Setelah kejuaraan dunia, saya masih main tinju di GOR Bulungan Jakarta dan di GOR Pulosari Malang,” kata Yani Hagler saat dihubungi ke ponselnya di Desa Ngroto, Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu pagi, 26 April 2026.

“Setelah tidak tinju, saya memulai hidup dari hasil mengamen di Terminal Batu. Saya memang pernah juara lomba menyanyi, waktu masih sekolah dasar. Uang menjual suara di atas bus kota itu saya bawa pulang ke rumah. Uang itu kami pergunakan untuk makan sehari-hari. Istri, anak, dan saya, alhamdulillah bisa makan sehat.”

Advertisement

“Setelah mengamen bubar, saya mulai merintis usaha tukang kayu, sampai sekarang.”

Tukang kayu yang maksud Yani Hagler adalah mengerjakan gitar dan mebel. “Saya bisa main gitar, makanya saya bisa bikin gitar. Kalau ada yang hendak pesan, boleh hubungi saya.”

“Selain gitar, saya juga mengerjakan lemari, kursi, meja, sofa, dan semua yang berhubungan dengan kayu.”

Advertisement

Lantaran profesi itu, Yani Hagler dikenal sebagai “tukang kayu dari Desa Ngroto”. Sudah bertahun-tahun ditekuninya. Seorang diri.

Yani Hagler dikenal sebagai lelaki yang tidak suka menganggur. Tidak suka meminta-minta.

“Sejak sekolah SD, saya sudah bisa cari makan. Apa saja saya kerjakan. Las bubut bisa. Apa saja, segala pekerjaan kasar, yang menggunakan tangan dan tenaga.”

“Kalau ada yang mau pesan lemari, kontak saya. Lemari model apa saja bisa saya kerjakan. Mengenai bayaran, mana mungkin Yani Hagler jual mahal. Gitar saya jual lima ratus ribu. Kalau gitar jumbo lebih mahal sedikit. Kursi satu set, bisa tiga sampai lima juta. Tergantung selera pemesan.”

Advertisement

“Semua saya kerjakan sendiri. Mau pake tukang satu atau dua orang, mana sanggup bayar, ha ha ha…!”

Perjalanan Tinju Yani “Hagler” Dokolamo, kidal buatan antara lain

  • GOR Pulosari, Malang, 1 Maret 1984: Yani (Sawunggaling Surabaya) menang KO-4 atas Little Pono (Arema Malang).
  • Gelora Pantjasila, Surabaya, 17 Februari 1984: Yani Hagler (Sawunggaling Surabaya) menang KO-3 non gelar atas juara Indonesia kelas terbang Munadi (Banteng Bandung).
  • Gedung Go Skate Surabaya, 23 September 1984: Yani merebut gelar juara Indonesia kelas terbang ringan, 48.988 kilogram, menang melalui unanimous decision dua belas ronde melawan juara yang hebat Tubagus Jaya (Garuda Jaya Jakarta).
  • Istora GBK Senayan, Jakarta, 14 Oktober 1984: Yani menang angka delapan ronde non gelar atas Bristol Simangunsong (Garuda Jaya Jakarta).
  • GOR Ngurah Rai, Denpasar, 16 Maret 1985: Yani menang TKO-4 atas Acan Tabalubun (Cipta Jasa Jember).
  • Gedung Go Skate, Surabaya, 1985: Yani Hagler draw 10 ronde melawan petinju kidal Little Baguio (Filipina).
  • Istora GBK Senayan, Jakarta, Sabtu, 12 Oktober 1985: Yani Hagler tumbang KO ronde ketiga di tangan Dodi Penalosa (Filipina).
  • GOR Bulungan, Jakarta, 19 April 1986: Yani kalah TKO-4 atas Little Holmes (Gajayana Malang). Yani seharusnya menerima uang kontrak dari promotor Tinton Soeprapto Rp 1 juta. Namun, Yani hanya menerima Rp 750 ribu, setelah matchmaker menilep bayaran dengan cara merusak kertas kontrak asli dengan menggunakan tipe-x. Itulah tinju pro.

Finon Manullang, menulis untuk tinju.

Advertisement