Rondeaktual.com – Melalui Piala Wali Kota Surabaya [berlangsung di Gelora Pancasila, 26-28 Juni 2026], sasana tinju legendaris Pirih Boxing Camp Surabaya telah bangkit dari “tidur panjang”.
Pada pertandingan tersebut, Sasana Pirih yang terletak di Jalan Baratajaya, Kecamatan Gubeng, menghasilkan enam medali emas, satu medali perak, dan enam medali perunggu.
Nelson Matulessy adalah salah satu peraih medali emas kelas 48 kilogram putra dewasa. Dalam semifinal, Nelson mengalahkan petinju langganan Kejurnas Marceilo Surati dari Pertina Kota Bekasi. Pada pertandingan final, Nelson Matulessy
Baca Juga
Advertisement
[putra mantan juara IBF Intercontinental kelas bantam yunior Ricky Matulessy]
mengalahkan Aldi Sipa, harapan dari Bali.
“Kami senang, karena Nelson Matulessy bisa mengalahkan Marceilo Surati,” kata pelatih Sertu TNI AL Joa Lopez, mantan petinju pro Pirih Surabaya. “Semua tahu, Marceilo adalah petinju yang sudah bertahun-tahun juara. Dia petinju hebat. Andalan Jawa Barat,” tambah Lopez, yang bertugas di POM TNI AL KOARMADA II.
Baca Juga
Advertisement
Nelson Matulessy setelah memenangkan pertandingan final kelas 48 kilogram di Gelora Pancasila Surabaya. [Foto: Ronde Aktual]
Mantan juara IBF Intercontinental kelas bantam yunior Ricky Matulessy dan manajer sasana Erick Pirih. [Foto: Dok/Ist]
Baca Juga
Advertisement
Dahulu kala, Pirih Boxing Camp Surabaya pernah sangat terkenal. Sasana ini melahirkan sejumlah petinju profesional paling laku seperti:
- Albert Bapaimo, juara Indonesia dan raja KO kelas menengah yunior.
- Yani Malhendo, juara Indonesia.
- Udin Baharuddin, juara Indonesia kelas terbang ringan.
- Robby Rahangmetan, juara Indonesia kelas bulu yunior dan raja KO.
- Andrian Kaspari, juara Indonesia kelas bantam dan raja KO, dan juara IBF Intercontinental, dan masih banyak nama juara lainnya termasuk Joa Lopez yang sekarang meneruskan Sasana Pirih sebagai pelatih.
Menjalin Hubungan Baik dengan Tinju Amatir
Pada eranya, Pirih Boxing Camp Surabaya selalu menjalin hubungan baik dengan tinju amatir. Pirih ikut membina petinju amatir, seperti Mudafar Dano dan Andrian Kaspari.
Pada era itu, Pirih menjadi sasana tinju pro paling sering dikunjungi petinju amatir untuk mendapatkan lawan tanding yang kuat.
Baca Juga
Advertisement
Ketika Indonesia hendak mengirim tiga petinju ke Olimpiade Los Angeles 1984, pelatih Daniel Bahari dan tokoh Pertina Jawa Timur, Richard Pangkey, datang ke Pirih Surabaya. Mereka mencari latih tanding yang tangguh kemudian terbang ke Olimpiade Los Angeles.
Meski tidak ada petinju yang menghasilkan medali, tetapi kunjungan itu sangat fenomenal. Ketika itu, bagi Pertina tabu jika petinju amatir berhubungan dengan tinju pro. Bila kedapatan melanggar, langsung keluar surat peringatan bahkan skrosing.
3 Petinju Olimpiade Los Angeles 1984
Baca Juga
Advertisement
- Johni Asadoma, kelas bantam.
- Alexander Wassa, kelas bulu.
- Fransisco Lisboa, kelas welter.
Pirih Surabaya Fokus Tinju Amatir
Mengapa sekarang Pirih Surabaya lebih spesial membina petinju amatir?
Menurut pendapat pelatih Joa Lopez, eranya sudah berubah. Di masa sebelumnya, tinju pro sangat berjaya. Sekarang kondisi tinju pro sudah banyak yang gulung tikar. Tinju pro nyaris hilang. Pertandingan jarang. Promotor lebih suka menggelar tinju artis, tinju selebritis, dan tinju kelas member.
Tinju kelas member paling laris manis. Setiap peserta bayar sampai Rp300 ribu. Hebatnya setiap peserta mampu membawa puluhan supporter. Semua masuk dengan cara beli tiket. Penyelenggara meraup uang besar.
Baca Juga
Advertisement
Sasana Pirih tidak mau tenggelam, ini janji Joa Lopez. “Sepahit apa pun, sasana ini harus tetap hidup. Saya tidak ingin melupakan jasa mendiang Bapak Eddy Pirih [pendiri sasana]. Lantaran beliau saya bisa menjadi petinju termasuk bisa menjadi tentara. Beliau yang mendorong saya supaya daftar TNI AL.”
Daftar Petinju Pirih Surabaya
- Nelson Matulessy, 19 tahun.
- Mikhael Solissa, 20 tahun.
- Alkamora Victoria Lopez, 9 tahun.
- Reyhan Hariyanto, 18 tahun.
- Mohammad Arraffi, 17 tahun.
- Azarya Katimin, 17 tahun.
- Muhammad Nasution, 17 tahun.
- Zevanya Sudiro, 16 tahun.
- Akbar Firmansyah, 18 tahun.
- Andi Nahdo, 19 tahun.
- Radjasion Huky, 19 tahun.
- Fachri Almuzakki, 16 tahun.
- Abdul Febriansyah, 19 tahun.
- Andi Nahdi, 12 tahun.
- Yudi Christanto, 16 tahun.
- Tadriqi Iskandarputra, 27 tahun.
- Ananda Nasution, 21 tahun.
- Carissa Putrilesmana, 17 tahun.
- Devany Nurwahid, 20 tahun.
- Vicky Mubarak, 20 tahun.
- Pandapotan Siahaan.
Pelatih: Joa Lopez, dibantu Ricky Matulessy, dan M Arzaqi.
Manajer: Erick Pirih.
Advertisement
Jadwal latihan: Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, mulai pukul 16.00. Jadwal latihan disesuaikan dengan jam sekolah. Petinju Pirih hampir semua pelajar.
Alamat: Jalan Baratajaya, Kelurahan Baratajaya, Kecamatan Gubeng, Surabaya.
Pendaftaran: Gratis. Jangan lupa membawa pakaian olahraga untuk latihan. *
Baca Juga
Advertisement