Rondeaktual.com – Josephat Fajarrosa Vennedi, 54 tahun, [namanya sering dipromosikan sebagai Yosef Vennedi], merupakan salah satu bintang Sawunggaling Boxing Camp Surabaya di masa lalu. Lelaki ini memiliki kekuatan tangan yang dahsyat. Sering menghasilkan KO, atau paling tidak membuat lawan knockdown.
Josephat Vennedi adalah kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 19 Februari 1972. “Papa Sunda. Mama Papua,” katanya. Pada tahun 90-an, Josephat bertanding di kelas ringan, kelas welter yunior, dan kelas welter.
Josephat Vennedi dikenal sangat disiplin. Taat menjalankan latihan. “Mula-mula main empat ronde, lama-lama naik enam ronde, delapan ronde, sepuluh ronde, baru kejuaraan [12 ronde]. Kita dulu main tinju setengah mati untuk merebut peringkat. Sekarang beda, tidak punya peringkat tahu-tahu sudah juara,” kritiknya.
Baca Juga
Advertisement
Sebelum menuju pertandingan, petinju wajib menjalani latih tanding tiga kali seminggu. “Setiap sparring selalu berhadapan dengan Ajib Albarado [sekarag menetap di Jepang]. Dia terus, dia terus, karena tidak ada petinju lain yang sekelas dengan saya,” kata Josephat Vennedi, mantan juara Indonesia kelas welter yunior versi KTI dan ATI. Berdasarkan pencarian di BoxRec, rekornya menang-kalah-seri 24-8-1.
“Saya juara kelas welter yunior yang pertama dari versi ATI, setelah mengalahkan petinju kuat dari Jakarta, Panca Silaban. Waktu itu promotornya Boy Bolang,” lelaki murah senyum ini menjelaskan.
Josephat Vennedi kehilangan gelar akibat TKO pada ronde ketiga melawan Mudafar Dano [Pirih Surabaya]. “Sebelumnya saya mengalahkan Mudafar dalam perebutan peringkat.”
Baca Juga
Advertisement
Sepanjang dalam ingatannya, Josephat Vennedi pernah bertanding antara lain melawan:
- Ambrosius [dari Cakti Bali], menang KO di Sumenep, Pulau Madura.
- Nyong Manopo [Rajawali Surabaya], menang angka di Kendal.
- Ganitala [Rajawali Surabaya], menang KO ronde 4 di THR Surabaya.
- Ali Aswad [PKT Bontang], menang KO ronde 4 di Balikpapan.
- Monod [Arema Malang], menang TKO di Go Skate Surabaya.
- Charles Herry [Banteng Jakarta], menang di Studio Indosiar.
- Haris Pujono [Banteng Jakarta], menang angka di Jakarta. Haris Pujono adalah adik kandung dari Charles Herry.
- Mudafar Dano [Pirih Surabaya], menang di Go Skate dan kalah TKO di Tanjung Priok. Josephat terluka parah akibatn benturan. Dokter melarang pertandingan diteruskan.
Inilah Penyebab Berhenti dari Tinju
“Sejak Om A Seng [promotor tinju paling favorit di Indonesia] meninggal, saya berhenti dari tinju,” Josephat Vennedi menjelaskan. “Waktu Om Setijadi [Laksono, pendiri Sawunggaling sekaligus pelatihnya] meninggal, saya masih latihan. Saya masih bisa naik ring, karena masih ada promotor Om A Seng. Kematian Om A Seng menutup perjalanan karier tinju saya dan seolah kematian bagi tinju pro Indonesia. Sebab bukan saya saja yang berhenti, petinju lain juga memilih pensiun. Sasana tinju bubar satu-satu. Semua gulung tikar, karena tidak ada lagi promotor yang mau menyelenggarakan pertandingan. Tidak ada lagi orang yang mau membantu, seperti apa yang dilakukan Om A Seng.”
Josephat Vennedi sulit melupakan uang dari mendiang A Seng. “Kalau habis sparring, Om A Seng diam-diam nyelipin satu juta setengah. Nih, buat beli jamu, katanya. Habis main juga begitu, suka dikasih uang buat jajan satu juta. Kita sering makan bareng. Dikasih uang pulang. Luar biasa kebaikan hati Om A Seng. Sulit terlupakan.”
Baca Juga
Advertisement
Meninggalkan Pekerjaan Dunia Malam
Setelah pensiun dari tinju, Josephat Vennedi bekerja di tempat dunia malam. Selama bertahun-tahun tenaganya sangat diperlukan sebagai keamanan.
Tetapi, usia terus bertambah dan situasi dunia malam cenderung menurun. Pengunjung mulai hilang satu-satu.
“Lantaran sepi, kerja hiburan malam saya tinggalkan. Saya meneruskan hidup sebagai pelatih tinju. Sekarang di Surabaya banyak mantan petinju hidup sebagai pelatih privat. Ada yang muridnya banyak sampai berlebihan. Ada yang sedang dan ada yang sedikit. Murid saya sedang-sedang saja. Seminggu tiga kali memberikan pelatihan.”
Baca Juga
Advertisement
Uang dari tinju, Josephat Vennedi bisa membeli rumah di Cirebon untuk ditempati orangtuanya dan membetulkan rumah di Surabaya. Ia dan keluarga sekarang tinggal di rumah warisan istrinya di daerah Gubeng Baru, Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Surabaya.
Baca Juga
Advertisement
Dari kiri: Jason Vennedi 18 tahun, Josephat Vennedi 54 tahun, dan Jeff Xavier 21 tahun. Gambar diambil di pinggir ring Gelora Pancasila Surabaya.
Menangani dan Jason Vennedi dan Jeff
Josephat Vennedi menginginkan dua putranya dapat meneruskan karier tinjunya. Ia telah memberikan dasar-dasar tinju kepada Jason Vennedi dan kepada Jeff Xavier. Kedua Vennedi Junior diajari bagaimana melepaskan pukulan lurus pendek [jab] dan diajari bagaimana cara melepaskan pukulan lurus panjang [straight] yang baik dan betul.
“Kalau Jeff Xavier sudah lulus dari SMK, sekarang berusia 21 tahun. Adik Jeff, Jason baru lulus SMA, umur 18 tahun. Kalau Jason dan Jeff serius, saya kira mereka bisa menjadi juara. Saya juga begitu dulunya, siapa mengira bisa main tinju. Tapi kemauan saya keras membuat latihan semakin bersemangat dan tidak kalah penting berdoa. Akhirnya sampai juara, he he he…!” [Finon Manullang]
Baca Juga
Advertisement