Rondeaktual.com – Kisah hidup mantan petinju amatir dan profesional Samoa Suganda mengingatkan banyak orang untuk tidak pernah menjadi pengangguran. Kerja apa saja, bila ditekuni dengan lurus, akan memperoleh hasil menyenangkan.
“Saya dahulu bercita-cita ingin seperti Mike Tyson. Maksud saya, saya ingin menjadi petinju, bukan sebagai juara dunia,” kata Samoa Suganda, yang dalam pertandingan pertamanya draw melawan Damianus Yordan dan pada pertandingan terakhirnya kalah melawan Dozer Tobing. Samoa bertanding membawa Akaz Probolinggo kemudian pindah ke Banteng Jakarta.
“Setelah pensiun tinju, saya mengajukan lamaran kerja saptam. Berkali-kali ditolak, akhirnya saya memilih pekerjaan juru parkir, karena saya tidak suka pengangguran.”
Baca Juga
Advertisement
Setiap hari, Samoa Suganda harus pergi ke Pasar Desa, Sidoarjo, Jawa Timur. “Pagi [05.00-10.30] dapat jatah jaga parkir sepeda motor. Siang istirahat. Sore mulai melatih anak sendiri atau saya antar latihan ke Bataliyon Arhanud 8 Sidoarjo. Hasil jaga parkir seratus ribu. Uangnya saya bawa ke rumah untuk makan bersama keluarga juga untuk menutup biaya sekolah anak. Berat, apalagi harga di pasar naik turus. Hanya uang parkir yang tidak naik, ha ha haaaa!”
Baca Juga
Advertisement
Mengagumi Pukulan Maut Mike Tyson
Tentang tinju, Samoa Suganda sangat mengagumi pukulan maut Iron Mike. Pukulan keras Tyson memotivasinya untuk menjadi petinju.
“Waktu itu Mike Tyson sangat terkenal,” kata Samoa Suganda. Tyson menjadi juara dunia termuda sepanjang sejarah kelas berat. Pada usia 21 tahun, Tyson menjatuhkan Trevor Berbick untuk menjadi juara dunia WBC kelas berat di Las Vegas, 22 November 1986.
Baca Juga
Advertisement
“Di tinju pro, lawan pertama saya Damianus Yordan, abang kandung Daud Yordan. Saya baru tapi entah mengapa langsung diadu dengan petinju yang sudah matang di amatir. Saya main lepas tanpa beban dan berakhir draw.”
Samoa Suganda menjalani pertandingan terakhir melawan petinju top asal Sumatera Utara, Dozer Tobing. “Waktu itu tahun 2012, saya sudah dua tahun berhenti tinju. Saya sudah pulang ke kampung halaman di Sidoarjo. Tiba-tiba pelatih menghubungi saya. Katanya ada tawaran main dengan Dozer Tobing untuk delapan ronde di Studio TVRI. Langsung saya terima. Pelipis saya pecah akibat benturan di ronde kedua. Setelah kekalahan itu saya langsung pulang dan gantung sarung tinju.”
Pada tahun 2016, Samoa Suganda mendidik putranya yang berusia 12. “Alhamdulillah, enam tahun kemudian anak saya meraih medali emas ajang Porprov Jatim. Ini menjadi kebanggaan, karena tinju anak saya bisa kuliah di Universitas UNESA, bisa beli motor, bisa beli kambing untuk kakeknya,” kata Samoa, mantan tukang las.
Baca Juga
Advertisement
Berdasarkan pengakuannya sendiri, Samoa Suganda pernah mengalahkan Alex Sanjaya, Marudut Simanjuntak, Sadikin, Juventus La Bombom. Draw melawan Steven Togelang dan Andre Talabesi.
“Saya kalah melawan Decky Franciskus untuk perebutan sabuk juara Indonesia. Kalah melawan Budi Tapea perebutan gelar di PRJ, Aromamis, Mikhael, Yohanes Lawarissa. Itu yang saya ingat,” katanya.
Samoa Suganda memiliki pengalaman tidak terlupakan. “Saya punya Bapak Angkat, yaitu Bapak Sugondo, Bupati Sidoarjo. Beliau Kolonel AD, saya kenal setelah babak belur di keroyok anak-anak sekolah di tengah Alun-alun Sidoarjo, tahun 1995 usia saya masih 14 tahun. Saya digiring ke kantor bupati dan saya dititipkan di Kodam V Brawijaya untuk berlatih, karena pilihan saya tidak mau sekolah.”
Baca Juga
Advertisement
Enaknya sebagai petinju, bagi Samoa Suganda kerana selalu gratis jika bertanding ke berbagai kota. “Mulai dari pesawat, makan, dan sebagainya, ditanggung penyelenggara. Di situ enaknya. Kenalan dengan cewek juga cepat, karena kita sering masuk televisi dalam tayangan siaran langsung.”
“Sangat tidak enak kalau kita sedang menjaga berat badan agar tidak over weight di penimbangan. Kita harus mengurangi porsi makan.”
Samoa Suganda menyimpan pengalaman pahit. “Waktu di Akaz Probolinggo, saya dijadikan sansak hidup untuk keperluan persiapan Faisol Akbar dan Anis Roga. Hidung dan rusuk saya sampai patah. Saya tidak pernah naik ring, hanya makan janji. Akhirnya saya lari dari Akaz. Saya pergi ke Jakarta dan berbagung dengan Banteng Boxing Camp. Armindo de Araujo adalah orang yang mengajak saya ke Jakarta.”
Baca Juga
Advertisement
Samoa Suganda pernah dikontrak oleh agen tinju Willy Lasut dengan harga 1.500 dan 2.000 dolar AS. “Tidak pernah naik ring dan mendapat kompensasi 30% untuk mengganti pengurusan paspor,” kata Samo Suganda, yang mencatat rekor memang-kalah-seri 18-5-4 [7 dengan KO].
Tentang Samoa Suganda
Nama: Slamet Mujiono.
Nama ring: Samoa Suganda.
Baca Juga
Advertisement
Tempat dan tanggal lahir: Sidoarjo, 6 Maret 1979.
Pendidikan terakhir: Tamat SD.
Domisili: Sidoarjo, Jawa Timur.
Baca Juga
Advertisement
Nama istri: Soimah.
Nama putra-putri: Sandika Pramana Putra dan Sahdrina Jia Triandini.
Nama sasana: Kodam V Brawijaya Surabaya [amatir] bersama pelatih Kuntadi dan Mujari.
Baca Juga
Advertisement
Prestasi amatir: Medali perak Kejurda 1997, medali emas Piala Bupati Bangkalan 1996, Perak Piala Bromo 1998, emas dari Piala Panglima Kodam Brawijaya 1998.
Sasaa pro: Akaz Probolinggo bersama pelatih Slamet Mukmin, Banteng BC Jakarta bersama pelatih Ipung Suwarno. [Finon Manullang, Foto milik Samoa Suganda]
Baca Juga
Advertisement