Buku Perjalanan Tinju Indonesia [21] – Rekor Liputan Surabaya-Karawang

CORETAN FINON MANULLANG JANUARI 2026

Rondeaktual.com – Masa muda hanya datang sekali. Penting bagi siapa saja untuk melakukan sesuatu. Masa muda adalah masa paling menyenangkan dalam menjalankan liputan tinju dari kota ke kota. Kuat dan tangguh tanpa lelah. Menembus lima kota dalam sebelas hari dan ini menjadi rekor liputan estafet yang tak akan tersamai. Tak akan terulang.

Semua perjalanan melalui bus malam dan angkutan pedesaan. Era aplikasi ojek online belum ada. Sambung-menyambung dan terima kasih bisa tiba dengan menyenangkan.

Pada dekade 80 hingga 90, penulis domisili Surabaya, menangani Redaksional Majalah Tinju Indonesia bersama juara kelas berat PON VII Surabaya 1969, Setijadi Laksono.

Advertisement

Di Surabaya, penulis seolah hidup sebatangkara. Tidak ada saudara. Tidak ada siapa-siapa. Tinggal di sebuah kamar, persis di depan kandang kuda, yang baunya minta ampun.

Kuda itu bernama Kid Ballel (diambil dari nama juara Indonesia kelas menengah Kid Ballel) dan Larry Holmes (diambil dari nama juara dunia kelas berat Larry Holmes, yang pada 2 Oktober 1980 mengalahkan Muhammad Ali).

Kuda jantan itu tinggi besar dan padat, milik Setijadi Laksono, yang juga pemilik Majalah Tinju Indonesia. Kuda akhirnya dipindahkan ke Pantai Kenjeran Surabaya.

Advertisement

Kamar kecil tempat penulis tinggal sangat bersejarah. Di kamar itulah penulis berkarya menulis untuk tinju tanpa putus. Sampai sekarang.

Perjalana ke Jakarta, Meliput Kejuaraan Dunia

Suatu hari, penulis memulai perjalanan estafet dari Surabaya menuju Jakarta untuk melihat Kejuaraan Dunia IBF kelas terbang mini antara juara Samuth Sithnaruepol (Thailand) melawan penantang Nico Thomas (Indonesia). Keduanya sama-sama kidal.

Peristiwa itu sangat bersejarah bagi tinju pro Tanah Air, yang tercatat pada tanggal 23 Maret 1989. Nico Thomas secara telak mendominasi pertandingan 12 ronde mengundang kagum sekitar 3.500 penonton.

Advertisement

Suporter tak henti-hentinya beteriak: “Nico Thomas…! Nico Thomas…!! Nico Thomas…!!!”

Tetapi apa yang terjadi kemudian? Keputusannya adalah seri tanpa pemenang. Itu sangat menohok perasaan kubu Nico Thomas. Itu salah satu keputusan draw paling kontroversial sepanjang sejarah kejuaraan dunia di Indonesia.

Perjalanan ke Ponorogo, Meliput Kejuaraan Kelas Welter Yunior

Sehari setelah meliput kejuaraan dunia yang kuyu, penulis pergi ke Stadion Batorokatong, Ponorogo, Jawa Timur.

Advertisement

Bus malam mengantar penulis dari Terminal Pulogadung ke Surabaya. Kemudian sekali sambung dengan bus besar dan dua kali sambung angkutan pedesaan. Terakhir becak dayung mengantar penulis sampai ke lapangan sepakbola, Stadion Batorokatong, Ponorogo, tempat pertandingan tinju digelar. Langit sudah gelap. Sudah malam.

Kabupaten Ponorogo terletak di bagian barat Provinsi Jawa Timur, atau berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Ponorogo sangat ikonik dengan kesenian Reog.

Ponorogo bukan kota tinju. Di sana untuk pertama kali berlangsung Kejuaraan Indonesia, yang berdarah-darah antara juara Bongguk Kendy (Garuda Jaya Jakarta) melawan Suwarno Perico (Sawunggaling Surabaya), tanggal 25 Maret 1989.

Advertisement

Wasit Eddy Poernomo (Malang) merangkap hakim memberikan nilai jauh 119-113. Pontas Simanjuntak (Jakarta) 116-114. Bambang (Gresik) lebih jauh lagi 118-111. Nilai ideal adalah 116-114.

Underdog Suwarno Perico secara tidak disangka-sangka mengalahkan Bongguk Kendy melalui unanimous decision dua belas ronde. Perico menjadi juara baru kelas welter yunior, kelas yang selama bertahun-tahun pernah menjadi milik Thomas Americo.

Sebelum dekade 60-an, menurut Pak Tugiman yang mengantar penulis ke arena pertandingan, di sana pernah berlangsung pertandingan tinju. Bukan di stadion tapi di pasar malam.

Advertisement

Bila runut sejarah tinju, di tahun itu adalah era Persatuan Tinju dan Gulat atau Pertigu. Pada era Pertigu terkenal dengan sebutan tinju pasar malam. Semua pertandingan tinju dipersembahkan di arena pasar malam. Era GOR belum ada.

Perjalanan ke Surabaya, Meliput Hengky Gun vs Ganitala

Setelah dua hari di Ponorogo, penulis sudah berada di Gedung Go Skate, Surabaya, meliput Kejuaraan OPBF kelas ringan yunior sesama petinju Indonesia.

Itu tanggal 27 Maret 1989. Hengky Gun (Sawunggaling Surabaya) mempertahankan gelar OPBF melalui knock out pada ronde ketujuh atas penantang kuat Gani Tala (Rajawali Surabaya). Beberapa penonton pulang dengan muka menggigil akibat kalah taruhan.

Advertisement

Taruhan adalah salah satu yang mendorong tinju menjadi sangat berapi-api. Mereka taruhan dengan cara sengaja beli tiket termurah agar jauh dari ring side. Di sudut-sudut yang jauh itulah mereka bebas berteriak apa saja. Wasit salah langkah, apalagi sampai tidak netral, sudah pasti menjadi sasaran marah paling disukai penonton.

Perjalanan ke Karawang, Meliput Si Raja KO Robby Rahangmetan

Setelah istirahat tiga hari, penulis meneruskan perjalanan menuju Stadion Singaperbangsa, Karawang, Jawa Barat.

Di sana ada Kejuaraan Indonesia kelas bulu yunior antara “KO King” Robby Rahangmetan (Pirih Surabaya) melawan penantang “maju tak pernah takut si dagu kaca” Boy Kelung (Benteng AMI/ASMI Jakarta), 1 April 1989.

Advertisement

Pertandingan Karawang diurus oleh seorang teman wartawan senior dari Selecta Sport dan seorang lagi pengusaha hotel di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Robby, Raja KO paling menakutkan bagi lawan, menang KO pada ronde keempat untuk mempertahankan gelar. Setiap ronde, Boy Kelung yang memiliki semangat tanding luar biasa mengalami knock down. Kasihan. Tetapi begitulah faktanya bahwa Boy Kelung memang seorang dagu kaca. Sedikit saja kena sambar langsung jatuh.

Promotor Indragiri membayar juara Robby Rp 1,5 juta. Penantang Boy Kelung Rp 400 ribu.

Advertisement

Penyelenggara The Seven Stars Promotion Jakarta mendatangkan sembilan wartawan dari Jakarta dan menjadi sepuluh termasuk penulis satu-satunya dari Surabaya.

Malam tinju pro Karawang disaksikan tokoh tinju antara lain; Ketua Umum KTI Pusat Solihin GP, Ketua Harian M. Anwar, Eddy Pirih, Soetaryono, Boy Bolang, Tinton Soeprapto, dan setidaknya dua ribu penonton datang dengan cara beli tiket.

Di Karawang, penulis gagal menjumpai Tina Basli, yang rumahnya hanya beberapa langkah orang dewasa dari Jembatan Sungai Citarum. Dia mantan sahabat pena yang baik.

Advertisement

Perjalanan ke Cirebon, Meliput Husni Ray Pertahankan Gelar

Sehari setelah tinju Karawang, penulis meneruskan perjalanan terakhir atau estafet yang kelima dalam sebelas hari. Kali ini ke GOR Bima, Cirebon, 2 April 1989. Menggunakan moda angkutan pedesaan versi sambung-menyambung.

Pada era itu, kaki enteng saja melangkah ketika meliput Husni Ray (Benteng AMI/ASMI Jakarta) mempertahankan gelar juara Indonesia kelas terbang mini atas Tony Sumawa (Gajayana Malang). Tony menyerang dari berbagai sudut tetapi sulit menggoyahkan lawan.

Husni Ray, sarjana muda manejemen, menang mutlak 12 ronde, tanpa knock down. Husni masih yang terbaik di kelasnya.

Advertisement

Di Cirebon, merupakan pengalaman paling buruk sepanjang meliput pertandingan tinju selama bertahun-tahun.

Di sana, penulis kehabisan uang akibat kalah bermain judi versi Joker Karo. Kami tempur di sebuah kamar penuh asap rokok. Pemainnya seorang perempuan dan beberapa lelaki. Semua asal  Jakarta. Semua hidup dari mengurus tinju, ada yang promotor, pelatih, manajer, makelar.

Tidak habis pikir, orang yang tidak menguasai permainan Joker Karo, bisa-bisanya terjun mengikuti pertandingan. Pantas saja tumpur total. (Dikutip dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia” edisi 2023, Finon Manullang menulis untuk tinju)

Advertisement