Buku Perjalanan Tinju Indonesia [18] – Stadion Mattoangin dan Rekor Penonton

BUKU 18

Rondeaktual.com – Pertandingan tinju pro pertama dan satu-satunya paling spektakuler dalam sejarah tinju Tanah Air pernah terjadi di Stadion Mattoangin, Ujungpandang (sekarang Makassar), Sulawesi Selatan. Peristiwa itu terjadi dalam Kejuaraan WBC International kelas bantam antara petinju Indonesia melawan petinju Filipina, Sabtu malam, 26 November 1988.

Aku berada di sana, melihat orang-orang berlari dan terjatuh saat menerobos pagar pembatas. Promotor Tinton Soeprapto dari Tonsco Jakarta menampilkan main event perebutan gelar lowong sabuk WBC International kelas bantam antara Wongso Indrajit (Sawunggaling Malang, Indonesia) dengan Edel Geronimo (Filipina).

Itu merupakan pertandingan tinju yang sangat spektakuler. Di antara ribuan penonton, penulis melihat Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), A Seng, Andi Mattalatta, Ellyas Pical dan istrinya drg. Rina Siahaya, Papa Lope Sarreal (tokoh tinju Filipina, yang ketika itu umurnya sudah 86 tahun). A Seng datang sebagai penonton dan belum turun sebagai promotor. Mendiang A Seng terkenal suka melihat pertandingan tinju pro dari provinsi ke provinsi. Selalu membeli tiket dengan harga mahal.

Advertisement

Pada malam yang sangat bersejarah, jumlah penonton menurut versi seorang penjual tiket pertandingan sepak bola, mencapai 35.000 orang. Mungkin dia benar, karena ketika penulis bertanya sudah berapa lama menguasai Stadion Mattoangin, dia mengaku hampir 15 tahun sebagai calon tiket sepak bola. Pengalaman itu membuatnya terbiasa menduga-duga jumlah penonton.

Tetapi, dugaan penulis tak sampai segitu. Paling sekitar 25.000 penonton. Penulis hitung pelan-palan. Dari ujung ke ujung sekitar 25.000. Menghitung jumlah penonton menjadi salah satu yang paling penulis suka dan itu jauh sebelum Indonesia melahirkan juara dunia Ellyas Pical pada tahun 1985. Tradisi menduga-duga jumlah penonton, hampir tidak pernah lewat.

Angka itu (25.000 penonton) merupakan rekor terbesar dalam sejarah pertandingan tinju Tanah Air. Hanya pernah terjadi di Stadion Mattoangin. Sampai sekarang tak tersamai.

Advertisement

Ketika itu penulis di sana untuk mengisi laporan Majalah Tinju Indonesia, yang berpusat di Jalan Kalikepiting, Surabaya. Majalah tinju satu-satunya yang akhirnya tutup akibat keuangan yang terus-menerus memburuk. Itu pada tahun 1990.

Wongso Indrajit Menyuguhkan Pertandingan Hebat

Tentang pertandingan tinju yang sangat bersejarah di Stadion Mattoangin, Wongso Indrajit bertarung hebat sepanjang 12 ronde. Melepaskan pukulan terbaiknya dan merobek pertahanan lawan. Tidak ada penonton yang tidak puas. Itu pertandingan tinju yang sangat luar biasa, seakan melebihi partai kejuaraan dunia.

Petinju Filipina, Edel Geromino tidak pernah diam. Dia rajin bergerak dan melakukan serangan balik. Dia kalah tetapi tidak pernah menjadi bulan-bulanan pukulan lawan. Dua hakim tinju memenangkan Wongso Indrajit:

Advertisement

  • Arnold Philipus (Indonesia) 118-113.
  • Malcolm Bulner (Australia) 115-113.
  • Eduardo Venesco (Filipina) 115-115.

Wongso Indrajit menang mayoritas (dua hakim memberikan kemenangan dan satu hakim memberikan imbang).

Malam itu, Edel Geromino meninggal ring dengan kepala dibungkus handuk putih. Terluka dan berdarah akibat benturan tidak disengaja, yang terjadi pada ronde kesembilan dan wasit membiarkannya sampai lonceng terakhir terdengar di ujung ronde dua belas.

Kemenangan Wongso Indrajit disambut berlebihan. Seorang tokoh terkenal dan pengurus tinju, bicara begini: “Sudah lahir seorang juara dunia dari Ujungpandang. Ini sejarah.”

Advertisement

Padahal bukan begitu. Gelar WBC International yang disandang Wongso Indrajit adalah gelar yang diciptakan Dewan Tinju Dunia (WBC) untuk membuka kesempatan bagi petinju Asia memiliki sabuk Hijau, sabuk WBC. Itu bukan gelar dunia.

Tetapi oleh kebanyakan orang yang tidak memahami bisnis tinju pro, menyebut pertarungan Wongso Indrajit versus Edel Geromino untuk perebutan gelar juara dunia WBC kelas bantam.

Banyak yang tidak paham. Asal bicara saja. Awalnya WBC melahirkan WBC Junior. Kemudian dihapus dan menjadi WBC International. Ini bukan gelar dunia.

Advertisement

Sekarang sabuk WBC menumpuk di mana-mana. Ada WBC dunia, WBC International, WBC Silver, WBC Asia, WBC Latino. Ini membuat bingung bila malas update.

Kronologi Pertandingan Tinju Stadion Mattoangin

  • Pukul 18.31: Rombongan Wongso Indrajit tiba di stadion, disusul petinju Filipina.
  • Pukul 18.35: Penonton kelas ekonomi (kebanyakan pria) menyerbu tempat duduk tribune. Mereka melompati pagar besi. Sebagian jatuh terguling-guling. Petugas keamanan menyambut mereka dengan pentungan. Wali Kota Suwahyo mengambil corong dan bicara: “Petugas harap berlaku sopan.”
  • Pukul 19.10: Ketua Panitia Burhanuddin Siregar masuk ke dalam ring kemudian memberikan sambutan.
  • Pukul 20.30: Gerimis deras. Lampu ring padam. Malam menjadi semakin gelap. Nyaris tidak ada yang bisa dilihat.
  • Pukul 21.00 lampu ring hidup. Edel Geronimo naik ke atas ring, menempati sudut biru, disusul Wongso Indrajit.
  • Pukul 21.30: Bel ronde pertama terdengar dari meja time keeper.
  • Pukul 22.18: Bel ronde terakhir terdengar panjang. Wongso Indrajit menang angka.
  • Pukul 22.22: Penonton berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya.
  • Pukul 22.35: Boy Bolang naik ring menghadapi Suwarno dari Surabaya, dalam aturan tinju pro.
  • Pukul 22.55: Seluruh pertandingan selesai.

Panitia mengantar rombongan tinju ke Marannu City Hotel, Jalan Sultan Hasanuddin. Di dalam hotel tersedia diskotek. Luas dan penuh asap. Banyak wanita berpenampilan seksi bersandar di dada pasangan masing-masing.

Menurut Mami atau penghubung, gadis-gadis itu sengaja didatangkan dari seberang. Penulis dianjurkan supaya segera order baju hitam. Dia tinggi dan bohai. Kalau tidak, Mami akan lepas ke tamu yang lain. Rupanya Mami mengira penulis masuk diskotek hendak “berlayar” satu-dua ronde dengan wanita penghibur tadi.

Advertisement

Perjalanan ke Bantimurung

Minggu pagi, seorang pemandu wisata datang menjemput kami di Marannu Hotel. Kami pergi ke Bantimurung, yang terletak di Kabupaten Maros, dan merupakan salah satu destinasi wisata paling terkenal.

Ketika itu, Bantimurung terkenal sebagai pusat penjualan kupu-kupu yang sudah diawetkan.

Pemerintah setempat melarang orang menjual kupu-kupu. Namun orang-orang menjual kupu-kupu dalam versi hiasan secara terbuka. Dilarang tetapi tidak ada pengawasan.

Advertisement

Setiap pengunjung yang datang ke Bantimurung, yang pertama ditawarkan adalah kupu-kupu, bukan yang lain. Lantaran murah, penulis membelinya dalam jumlah banyak. Menghadiahkannya kepada tetangga sebelah rumah.

Selain itu, penulis juga berhasil menembus Goa Mimpi atau Goa Hantu. Masyarakat di sana mengatakan, tidak semua pelancong bisa menembus Goa Hantu. Kami diingatkan supaya jangan hilang. Melewati perjalanan yang licin dan basah akibat sisa hujan tadi malam.

Rombongan ke Bantimurung:

Advertisement

  • Finon Manullang, penulis yang mewakili Majalah Tinju Indonesia.
  • Setijadi Laksono (juara kelas berat PON Surabaya), pelatih sekaligus manajer Sawunggaling Surabaya.
  • Wongso Indrajit, petinju kelas bantam.
  • Sin Tik, penggemar tinju asal Malang.

Dengan susah payah, penulis berhasil menembus Goa Mimpi atau disebut juga Goa Hantu. Wongso Indrajit tertinggal jauh. Setijadi Laksono membatalkan niatnya masuk ke dalam lorong panjang yang gelap gulita.

(Sumber dari buku Perjalanan Tinju Indonesia, halaman 44, 45, 46, Finon Manullang, menulis untuk tinju)

Advertisement