Rondeaktual.com – Inilah kejuaraan tinju dunia pertama di Kalimantan. Petinju kebanggaan Indonesia, southpaw Ellyas Pical mempertahankan gelar IBF kelas bantam yunior melalui kemenangan angka 15 ronde atas penantang “nakal” asal Kolombia, Raul Perez.
Nilai Hakim Pertandingan 15 Ronde
- Urial Agueilera (Kolombia), 146-139 untuk Ellyas Pical.
- Jopie Limahelu (Indonesia), 145-136 untuk Ellyas Pical.
- Clive Greedy (Australia), 144-143 untuk Ellyas Pical.
Nilai yang paling ideal adalah 145-141. Ellyas Pical memenangkan 9 ronde dan Diaz memenangkan 6 ronde.
Kejuaraan dunia diselenggarakan oleh promotor Anton Ojak Sihotang dari Jakarta bersama ofisial ring Komisi Tinju Indonesia, berlangsung di GOR Pangsuma, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu, 20 Februari 1988.
Baca Juga
Advertisement
Kanvas ring warna putih tiba-tiba berubah menjadi merah akibat darah yang terus menetes dari kepala Ellyas Pical.
Pada ronde ketiga terjadi pertarungan jarak dekat. Benturan kepala tidak dapat dihindari. Ellyas Pical terluka. Darah menetes perlahan-lahan jatuh ke atas kanvas ring.
Kubu Ellyas Pical gagal menghentikan darah, sejak ronde ketiga sampai ronde 15, ronde terakhir. Tidak memiliki cutman yang bagus, atau bahkan bingung bagaimana cara menghentikan luka.
Baca Juga
Advertisement
Said Fidal yang bertindak sebagai pelatih kepala, menuding Diaz bermain curang dan sengaja menabrakkan kepalanya.
Tidak itu saja. Diaz sekali kedapatan menggigit bahu Pical namun tidak berbahaya. Tidak ada peringatan (warning) dari wasit. Dibiarkan saja.
Sang juara Ellyas Pical bertanding dari sudut merah dengan stamina pas-pasan. Pical sempat berhenti hampir 25 detik di sudut netral. Cukup lama. Wasit asal Hawaii, Herbert Minn datang lalu memijat-mijat mulai dari bahu sampai pergelangan tangan Elly kemudian memerintahkan “box”.
Baca Juga
Advertisement
Jarang ada pemandangan seperti itu, seorang wasit memijat-mijat petinju, dan memang tidak boleh. Wasit harus netral.
Pertandingan sangat menyiksa Pical. Namun semangat tandingnya yang luar biasa membuat arena pertandingan ikut-ikutan memanas. Pical bertarung dengan dua tangan yang kokoh sekaligus melindungi dirinya dari serangan lawan. Pical mengandalkan pukulan tunggalnya yang sangat terkenal itu, yaitu long hook kiri. Sementara, straight kanan atau long hook kanan, kurang lancar.
Hampir 2.500 penonton terpancing panas ketika Duta Besar Kolombia untuk Indonesia, Alberto Villamizar Cardenas, berteriak sambil mengepalkan tangan kanannya tinggi-tinggi: “Kolombia…, Kolombia…, Kolombia…!”
Baca Juga
Advertisement
Tidak mau kalah, Ketua Umum KTI Pusat, Solihin GP yang berada persis di samping Duta Besar berdiri: “Elly…, Elly…, Elly…!”
Ribuan penonton (sebagian yang duduk di bangku tribun serentak berdiri) mengikuti seruan Solihin GP. “Elly…, Elly…, Elly…!” Heroik sekali.
Setelah menyelesaikan 15 ronde, Menteri Pemuda dan Olahraga Abdul Gafur, promotor Anton Ojak Sihotang, Ketua Umum KTI Pusat Solihin GP, berada di dalam ring saat penyerahan sabuk juara dunia IBF kelas bantam yunior kepada sang juara Ellyas Pical.
Baca Juga
Advertisement
Pical-Diaz tidak diliput secara spesial oleh awal media. Tidak banyak wartawan yang berdiri di pinggir ring, seperti terjadi di Istora Senayan, setiap Elly bertanding dalam kejuaraan dunia.
Menyapa Emil Salim di Dalam Pesawat
Penulis meliput Kejuaraan Dunia IBF untuk Majalah Tinju Indonesia, yang berkantor di Surabaya. Tinju Indonesia satu-satunya majalah yang secara spesifik membaritankan olahraga tinju.
Penulis menginap di Hotel Dharma, Pontianak. Sementara, Promotor Anton Ojak Sihotang, Oesman Sapta Odang, Ellyas Pical dan seluruh timnya, menginap di Hotel Mahkota Pontianak, hotel baru dan satu-satunya terbesar ketika itu.
Baca Juga
Advertisement
Di dalam pesawat menuju pulang ke Jakarta, Minggu, 21 Februari 1988, Raul Diaz menghibur rombongan tinju. Ia berkali-kali memperagakan gaya tinju seolah sedang berhadapan dengan Ellyas Pical. Kepalanya naik-turun, ibarat petinju yang berusaha menghindari pukulan lawan. Air mukanya enak dilihat karena senyumnya yang sangat menawan. Dia menghibur sekali.
Sebelum pesawat landing di Bandara Soekarno-Hatta, penulis sempat menyapa Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Emil Salim, yang ikut menyaksikan langsung pertandingan tinju. Beliau didampingi istri.
“Bapak suka tinju,” kalimat pertama dan satu-satunya yang penulis ucapkan.
Baca Juga
Advertisement
“Ya, suka. Saya suka tinju,” jawab beliau. “Saya melihat (pertandingan) tadi malam sebagai tontonan menarik dan mencekam. Saya kira, Elly banyak mengumpulkan angka.”
Kami berpisah, setelah melewati perjalanan selama 70 menit. (Dikutip dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia” halaman 42 dan 43, Finon Manullang, menulis untuk tinju)
Baca Juga
Advertisement