Buku Perjalanan Tinju Indonesia [16] – Teringat A Seng dan Sate Padang

WA BUKU 100

Rondeaktual.com –  Tulisan “Teringat A Seng dan Sate Padang” merupakan tulisan ke-16 dari buku tinju Finon Manullang. Ikuti terus tulisan yang sangat bersejarah bagi olahraga tinju Tanah Air. Semoga bermanfaat.

Teringat A Seng dan Sate Padang

Setiap pergi meliput pertandingan tinju ke mana saja, salah satu yang paling penulis cari adalah kuliner.

Di Padang, Sumatera Barat, so pasti favoritnya sate padang. Setelah penulis tiba di Padang, baru kemudian sadar bahwa ternyata ada tiga pilihan sate padang:

Advertisement

1. Sate Padang.

2. Sate Padang Panjang.

3. Sate Padang Pariaman.

Advertisement

Supaya tidak ribet, penulis pergi seorang diri ke rumah sate padang terdekat dari hotel menginap.

Ternyata, rasanya enteng di lidah alias biasa-biasa saja. Jauh lebih hebat dari sate padang yang biasa penulis beli di simpang tiga dekat rumah tinggal, di Desa Tridayasakti, Tamsel, Jabar.

Penulis tiga hari dua malam di Padang untuk tujuan meliput pertandingan tinju perebutan sabuk juara WBC Intercontinental kelas ringan yunior, 58.967 kilogram, antara juara Chor Haphalang (Thailand) versus penantang asal Sawunggaling Surabaya, Indonesia, Hengky Gun.

Advertisement

Haphalang bertanding tidak seperti yang dijanjikannya saat menghadiri konferensi pers. Ia kalah cepat kalah kuat dan kehilangan gelar menyusul kalah angka 12 ronde atas Hengky Gun, yang berlangsung di Gelanggang Olahraga Haji Agus Salim, Padang, Sabtu malam, 16 Januari 1988.

Penulis mencatat, tiket ring side dijual Rp 25.000, termahal. Tribune Rp 15.000. Ekonomi (berdiri sepanjang pertandingan) Rp 2.500. Penonton kemungkinan sekitar 3.000.

  • Ketua Panitia: Walikota Padang Drs. Syahrul Udjud, SH.
  • Ketua I: Dandim Padang Letkol Paris Ginting.
  • Ketua II: Kapolresta Padang Letkol Muchlis Muchtar.
  • Promotor: Tinton Soeprapto dari Tonsco Boxing Promotions Jakarta.

Chor Haphalang datang ke Padang sebagai juara. Petinju Thailand dijuluki badak itu merebut gelarnya melalui KO ronde kelima atas juara Pulo Sugar Ray (Garuda Airlangga Surabaya, Indonesia), di Gedung Go Skate, Surabaya, 27 September 1987.

Advertisement

Pertarungan Chor-Hengky mencekam, karena kedua petinju langsung menyuguhkan jual-beli pukulan. In-fight terus-menerus. Pada ronde kelima, Hengky Gun melepaskan straight tangguh menjatuhkan sang juara. Wasit Takeshi Shimakawa (Jepang) memberikan hitungan. Haphalang berdiri dan meneruskan pertandingan. Saling menyerang dan melambat di akhir-akhir ronde. Penonton bilang, orang Thailand kehabisan bensin.

Pada akhir pertandingan, wasit merangkap hakim Takeshi Shimakawa (Jepang) menilai 118-113. Sricharoen Sopharat (Thailand) 116-110. Arnold Philipus (Indonesia) 116-114. Semua milik Hengky Gun, pria asal Namlea yang tidak pernah pertanding di ring amatir. Pada era itu tinju pro masih toleransi wasit merangkap hakim termasuk honor menjadi ganda. Sekarang wasit tidak boleh rangkap jabatan dan ini berlaku sama di seluruh dunia.

Hengky Gun dibayar promotor Tinton Soeprapto Rp 3 juta plus tiga tiket Surabaya-Padang-Surabaya. Ia meraih kemenangannya dengan bersih. Sepanjang 12 ronde bertarung dengan satu strategi, yaitu menyerang dan terus menyerang sampai bel panjang terdengar dari meja timekeeper.

Advertisement

Menang, mata kiri Hengky Gun terluka dan nyaris tertutup dihantam tangan kanan Chor Haphalang. Hengky Gun menebar senyum sepanjang selebrasi di atas ring. Menikmati kemenangan dengan berbagai sanjungan dan menerima bonus spontan Rp 1 juta dari tangan A Seng, yang datang dari Surabaya sebagai penonton. Ketika itu A Seng dikenal penggemar tinju, belum terjun sebagai promotor.

Uang diserahkan di atas ring. Langsung diterima Hengky Gun. Hampir mirip seperti para petarung di Thailand, yang kebanjiran bonus di atas ring.

Sehari kemudian di lobi hotel rombongan tinju menginap, pengusaha H. Djilis Taher melalui promotor Tinton Soeprapto menyerahkan bonus Rp 1 juta, disaksikan pelatih Setijadi Laksono, pelatih pendamping Didik Mulyadi, dan tokoh Pertina Bob Nasution.

Advertisement

Di dalam pesawat menuju pulang ke Surabaya, Hengky Gun langsung memisahkan sebagian rezekinya masing-masing untuk:

  • Dua orang juru masak di markas Sawunggaling Boxing Camp Surabaya.
  • Pelatih Didik Mulyadi.
  • Para petinju Sawunggaling.
  • Majalah Tinju Indonesia (pada era itu penulis berkarya untuk Majalah Tinju Indonesia, yang menangani Redaksional).

Menurut Hengky Gun, pemberian uang itu tidak lebih dari ucapan terima kasih yang telah membantunya selama mempersiapkan diri. Tidak banyak dan diistilahkannya sebagai “uang kopi”. Meski hanya uang kopi, tetapi cukup nendang alias terasa nominalnya.

Hasil Pertandingan lainnya

  • Kejuaraan Indonesia kelas bulu 12 ronde, Noce Lukman (Cakti Jakarta) menang TKO-9 atas Marthen Kasangke (Tonsco Jakarta). Ini partai seru. Saling menyerang sampai akhirnya Kasangke memilih mundur, setelah matanya bengkak dan nyaris tidak dapat melihat. Pilihan terbaik sebelum berakibat fatal.
  • Kelas terbang 8 ronde: Michael Arthur (Javanoea Malang) menang TKO-5 atas Nixon Gabriel (Jakarta). Nixon tidak kalah teknik tetapi kalah stamina.
  • Kelas bulu 8 ronde: Weynand Jurangga (Manahan Jakarta) menang TKO-3 atas Oscar (Garuda Jaya Jakarta). Tangan kanan Weynand yang terlihat lebih besar berhasil menumbuk muka lawan.
  • Kelas terbang ringan 8 ronde: Effendy Siregar (ARH Jakarta) menang angka atas Ibrahim (Amar Sport Jakarta).

(Dikutip dari buku Perjalanan Tinju Indonesia edisi tahun 2023, Finon Manullang menulis untuk tinju)

Advertisement