Rondeaktual.com – Setelah tragedi 12 Oktober 1985 yang memilukan, penulis tiga kali bertemu dengan Yani “Hagler” Dokolamo. Sekali di GOR Bulungan Jakarta 1986, kemudian di Surabaya ketika Yani datang dengan wig tahun 1986, dan terakhir di pinggir ring Pra PON Wilayah Timur dan Tengah di GOR Laga Satria Bogor tahun 2019. Selebihnya melalui sambungan telepon, termasuk sehari sebelum tulisan ini publish.
Data Kejuaraan Dunia IBF
- Kejuaraan dunia IBF kelas terbang ringan atau sama dengan kelas terbang yunior, 15 ronde durasi 3 menit.
- Kidal Dodie “Boy” Penalosa (Filipina) versus kidal buatan Yani “Hagler” Dokolamo (Indonesia).
- Tempat pertandingan: Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
- Waktu pertandingan: Sabtu, 12 Oktober 1985, pukul 22.30 WIB, siaran langsung TVRI.
- Promotor: Boy Bolang.
- Wasit: Lucien Joubert (Amerika Serikat).
- Hakim A: Oscar Bryan (Amerika Serikat), menilai 20-15.
- Hakim B: Godofredo Fandialan (Filipina), menilai 20-15.
- Hakim C: Leon Johannes (Indonesia), menilai 20-15.
- Hasil pertandingan: Penalosa menang TKO ronde ketiga dan sukses tiga kali mempertahankan gelar juara dunia IBF kelas terbang ringan. Penalosa merebut gelar lowong di Osaka, Jepang, 10 Desember 1983, menang TKO ronde 12 atas Satoshi Shingaki (Jepang).
Yani Hagler [kiri] bersama Yani Malhendo.
Baca Juga
Advertisement
Yani Hagler dan Tragedi 12 Oktober 1985
Inilah satu-satunya kejuaraan dunia yang sama sekali tidak berimbang, diselenggarakan di Indonesia. Sang juara southpaw Diasdado ”Dodie Boy” Penalosa (Filipina, 22 tahun) memukuli dan memaksa penantangnya southpaw buatan Yani Hagler Dokolamo (Sawunggaling Surabaya, Indonesia, 18 tahun) jatuh-bangun sampai empat kali kemudian dihentikan wasit. Berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu, 12 Oktober 1985.
Yani bukan kidal tetapi sengaja berlatih dengan tangan kidal sehingga setiap bertanding selalu kidal. Tangan kanan di depan dan tangan kiri di belakang. Tetapi, ketika berhadapan dengan Penalosa, Yani hampir tidak pernah memanfaatkan serangan kidal buatannya sendiri. Ia berdiri dan bertanding sebagai orthodox. Mungkin ia mengira, jika bermain dengan kidal buatan, maka akibatnya akan jauh lebih buruk.
Penalosa menutup pertandingan pada ronde ketiga yang baru berjalan 50 detik. Cepat sekali. Ini merupakan kejuaraan dunia IBF ketiga di Indonesia, yang ditangani promotor Boy Bolang, seperti ditulis dalam buku “Perjalanan Tinju Indonesia”, Finon Manullang edisi 2023.
Baca Juga
Advertisement
Dodie Boy Penalosa adalah petinju kidal, yang terungkap menderita polio sejak lahir. Polio itu membuatnya harus bertinju dengan tangan kidal. Tetapi, kekuatan aslinya tetap di tangan kanan, bukan di tangan kiri.
Kehadiran Yani Hagler di pentas dunia sempat membuat publik tinju berdecak kagum dan berharap banyak dari tangan kidal buatannya sendiri.
Yani bukan kidal. Ia meniru idolanya, seorang juara dunia kelas menengah yang luar biasa asal Newark, New Jersey, Amerika Serikat, Marvin Hagler, kidal asli dan gundul.
Baca Juga
Advertisement
Ketika bel tanda ronde pertama terdengar, Penalosa langsung menyerang Yani. In-fight dan tanpa harus mengukur kekuatan lawan terlebih dahulu. Penalosa seolah sudah hapal betul bagaimana permainan termasuk kekuatan Yani Hagler. Bisa dipastikan dia sudah mendapat bocoran dari orang yang tidak suka melihat petinju Indonesia berhasil.
Penulis, sambil memegang kamera, sengaja berdiri di bawah ring sudut netral. Beberapa rekan dari berbagai surat kabar, juga berdiri di pinggir ring. Rebutan untuk tujuan mendapatkan gambar yang tajam.
Penulis melihat orang Filipina itu melepaskan pukulan sekuat tenaga. Serangan Penalosa benar-benar bertubi-tubi. Tidak mengenal iba. Itu tangan yang sangat mematikan, membuat tubuh merasa bergetar.
Baca Juga
Advertisement
Itu baru ronde pertama. Ronde kedua, penulis melihat Yani Hagler, petinju kidal buatan dari Sawunggaling Surabaya, terus berjuang. Yani Hagler memberikan perlawanan sekuat tenaga yang dia miliki. Orang-orang yang berdiri di pinggir ring melihat tubuh Yani Hagler jatuh dan bangun. Dua kali knock down yang sangat parah tidak membuat nyalinya putus. Yani melawan. Melepaskan jab-straight dan hook serta upper cut. Sayang tidak ada yang masuk. Semua ditangkis sang juara, yang memang memiliki pertahanan sangat tangguh.
Penulis dan ribuan penonton memastikan tidak ada pukulan Yani yang bisa menghasilkan poin. Kalah secara total.
Ronde ketiga, Yani Hagler pengagum raja kelas menengah Marvin Hagler mencoba tenang. Dengan gaya plontos mirip Hagler asli dan di usianya yang baru 18 tahun, ia melindungi dirinya dengan double cover, tetapi kakinya tidak bergerak. Diam di tempat. Itu sangat menguntungkan lawan karena tangan Penalosa memang kering dan menyengat. Timing yang bagus dan lagi-lagi menjatuhkan Yani.
Baca Juga
Advertisement
Jatuh dan jatuh lagi. Apa boleh buat. Tidak ada pilihan. Wasit Lucien Joubert (Amerika Serikat) menghentikan pertandingan. Kondisi Yani sangat menyedihkan. Dia sempat menatap meja ofisial ring, seakan-akan meminta pertolongan. Semua orang-orang yang duduk enak di barisan meja ofisial ring membisu.
Akhirnya dengan sekuat tenaga Yani Hagler mampu berdiri. Yani, sambil menundukkan mukanya, bisa kembali ke sudut biru sudutnya sendiri. Yani sudah ditunggu dua pelatihnya; Didik Mulyadi di dalam ring dan Setijadi Laksono di bawah ring.
Setelah tragedi jatuh-bangun, penonton mulai gaduh. Yani dianggap belum waktunya maju untuk kejuaraan dunia. Terlalu muda, 18 tahun.
Baca Juga
Advertisement
Promotor Boy Bolang dan orang-orang tinju mendapat kritik. Dituding ambisius mendorong Yani untuk title fight. Padahal, menurut penonton yang sudah marah, belum waktunya.
Sebelum tragedi 12 Oktober 1985, Yani Hagler menyimpan rekor tanding belum terkalahkan dengan prestasi juara Indonesia kelas terbang ringan. Beda dengan Ellyas Pical, yang sudah teruji dengan merebut gelar OPBF di Korea dan sekali mempertahankannya dengan memukul KO pada ronde keenam penantang Mutsuwo Watanabe, petinju Jepang di Jakarta.
Yani terlalu cepat diorbitkan, inilah konklusi umum. Ia merebut gelar juara Indonesia kelas terbang ringan melalui 12 ronde melawan juara Tubagus Jaya di Surabaya, 23 September 1984. Ketika itu Tubagus Jaya sudah berantakan. Sudah putus dari Garuda Jaya.
Baca Juga
Advertisement
Setelah juara Indonesia, Yani bertanding imbang 10 ronde melawan Little Baguio (Filipina).
Itu saja belum cukup untuk menghadapi seorang juara dunia sehebat Penalosa, yang tidak pernah berhenti memukuli Yani Hagler. Penalosa bukan saja luar biasa ketika melepaskan jab-straight, namun hook dan upper cut yang dia miliki sulit dihindari. Semua pukulan Penalosa berhasil mengenai tubuh dan kepala Yani. Sepanjang tiga ronde, hampir tidak ada perlawanan. Ini kejuaraan dunia paling menyedihkan.
Tidak sedikit penonton, terlebih wanita, hanyut dalam kesedihan yang dalam. Menangis, kemudian diam-diam pergi meninggalkan Istora Senayan. Bagi mereka, itu bukan tontonan yang sehat, tapi pembantaian. [Ikuti tulisan berikut “Dendam Little Holmes Tak Pernah Terbayar”, dikutip dari buku Perjalaan Tinju Indonesia edisi 2023, Finon Manullang menulis untuk tinju]
Baca Juga
Advertisement