Diduga Banyak Pelanggaran, Petinju Pro Meninggal di Pertandingan Amatir

MARIKUN COVER
Joe Marikun terjatuh, wasit Chamid menghitung, dan Faturohman berdiri tidak jauh dari posisi lawan. Dari sini saja sudah terlihat salah. [Tangkapan layar]

Rondeaktual.com – Nasib tragis menimpa seorang petinju profesional [pro] asal Banjarnegara, Jawa Tengah, Joe Marikun, 40 tahun. Ia bertanding di atas ring tinju amatir menghadapi lawan yang terlihat jauh lebih besar bernama Fathurohman, 39 tahun, yang memiliki pengalaman bertanding sampai ke Australia. Berlangsung dalam Kejuaraan Tinju Amatir dan Combat Boxing Piala Bupati Wonosobo berlangsung di Gedung Sasana Adipura Kencana, Wonosobo, 23-25 Juni 2026.

Sejumlah petinju pro Jawa Tengah yang dihubungi, lebih suka menolak dan menjawab “kebetulan saya tidak ikut mengurus pertandingan tersebut”.

Seorang mantan petinju pro Borokanda Boxing Camp Jakarta, domisili Solo mengirim video pertandingan Joe Marikun versus Fathurohman. Dia menilai sebagai pertandingan beda kelas. Terlalu dipaksakan. “Tidak seharusnya terjadi. Banyak pelanggaran,” katanya. Marikun sudah beberapa tahun tidak naik ring. Sedangkan Fathurohman belum lama bertanding di Australia.

Advertisement

“Barangkali tidak ada izin,” kata tokoh tinju amatir Jawa Tengah, Muhar Sutan. “Saya sendiri di sana, sebagai wasit untuk tinju amatir Piala Bupati Wonosobo dan tidak ada masalah. Tetapi, panitia menampilkan satu partai pro sebagai penutup. Wasitnya Chamid, mantan petinju Semarang. Pertandingan berjalan lambat, tiba-tiba Marikun terjatuh. Dilarikan ke rumah sakit. Dua hari setelah menjalani operasi dikabarkan sudah meninggal dunia,” ujar Muhar Sutan, adik mendiang pelatih legendaris Sutan Rambing.

MARIKUN 3

MARIKUN 6

Advertisement

MARIKUN 5

Kematian Tragis Marikun Pelajaran Penting

Tokoh tinju pro Banjarnegara, Budi Wizon yang sedang berada di India menjelaskan sudah mendengar berita duka tersebut.

“Anak saya ikut bertanding,” katanya. “Marikun dan Fathurohman bukan petinju saya. Setahu saya, Marikun sudah lama tidak bertanding. Penyelenggara harus dipanggil. Tanyakan, mengapa pertandingan itu dilaksanakan. Badan tinju apa yang mengawasi. Walaupun alasannya ekshibisi, harus diperiksa oleh dokter, boleh tidak bertanding. Ini pelajaran penting bagi setiap orang. Jangan segampang itu menyelenggarakan pertandingan. Akibatnya nyawa melayang. Siapa yang harus disalahkan?” Budi Wizon, mantan petinju era siaran langsung, bertanya.

Advertisement

Inilah Pengakuan Fathurohman

Dengan susah payah, Rondeaktual.com berhasil menghubungi Fathurohman, yang tinggal di Karangkobar, Banjarnegara. Berikut adalah percakapan Fathurohman.

“Sebenarnya kita hanya meramaikan saja. Saya dan Marikun main di hari penutup. Semua tinju amatir.”

“Marikun [menetap di Desa Rakit] sudah lama tidak main. Minta ke Nanang [panitia tinju] supaya bisa main. Nanang tidak mau karena sibuk mengurus tinju amatir. Marikun meminta supaya kami main. Saya bilang nanti dulu. Tanyakan panitia, setuju tidak. Marikun bilang panitia Nanang senang.”

Advertisement

“Pada pukul dua pagi, pas saya nonton bola, panitia telepon minta supaya saya main melawan Marikut. Ini buat meramaikan saja. Saya tidak langsung menjawab setuju. Pagi-pagi saya baru menjawab oke. Tawaran itu saya terima.”

Buat ramai saya. Pagi-pagi saya jawab oke. Setelah itu, Marikun datang. Siap ya, siap ya.”

“Untuk acara itu, saya Cuma dibayar satu juta dan Marikun satu juta. Rencana main empat ronde, tapi dua ronde sudah habis. Wasit [Chamid] stop. Selesai.”

Advertisement

“Sepanjang pertandingan, saya tidak pernah memukul dengan tangan keras. Pelan dan saya ambil perut.”

“Setelah selesai, saya turun. Tiba-tiba istri saya bilang, itu Marikun pingsan. Saya masuk ke dalam ring. Saya bilang, bangun bro, bangun. Tim medis segera datang. Marikun dilarikan ke rumah sakit.”

“Kejadian Kamis malam [25 Juni] dan meninggal Senin sore [29 Juni].”

Advertisement

Jenazah dimakamkan di Desa Rakit. Dari keluarga, menurut Fathurohman sudah iklhas menerima sebagai takdir.

Nanang sebagai anggota panitia yang dihubungi menyatakan ikut mengantar Marikun ke rumah sakit. “Saya menunggu terus. Keluarga tahu semua dan menerima. Takdirnya Marikut. Sudah iklahs tidak menyalahkan panitia. Ini pertandingan eksibishi. Kita tidak tahu terjadi musibah,” kata Nanang, mantan petinju dan sekarang pelatih.

Patut dipertanyakan, antara lain

  • Apakah pertandingan Marikun versus Fathurohman mendapat izin?
  • Badan tinju apa yang mengawasi pertandingan. Tinju pro Indonesia memiliki enam badan tinju: KTI, ATI, KTPI, FTI, FTPI, DTI. Hampir semua bermasalah dengan masa kepengursan.
  • Siapa yang menandatangani kontrak pertandingan.
  • Asuransi apa yang dipakai untuk pertandingan.
  • Apakah petinju menjalani penimbangan dan periksa kesehatan.
  • Apakah petinju memperlihatkan buku riwayat pertandingan [record book].
  • Surat rujukan rumah sakit di mana.
  • Tabung oksigen dan tandu harus sedia.
  • Ambulans harus berada tidak jauh dari depan pintu gedung.

Semoga kasus kematian seperti yang dialami Joe Marikun tidak terulang kembali. *

Advertisement