Perjalanan Tinju Indonesia [29] – Kisah Kepiting Bertelur Versi Indramayu

FINON MANULLANG 30 DESEMBER 2023

Rondeaktual.com – Indramayu terletak di pesisir utara Pulau Jawa. Indramayu memiliki GOR Dharma Ayu. Terlihat besar dan terbuka. Sirkulasi udara cukup sehat. Sangat representative.

Di sana, Sabtu malam, 27 November 1993, Cheppy Holman (Red Cobra Bandung) menebus kekalahannya atas Monod (Javanoea Malang). Pada pertandingan pertama mereka di Bontang, Kalimantan Timur, 23 Desember 1990, Monod menang TKO ronde ketiga dari 12 ronde yang direncanakan untuk Kejuaraan Indonesia kelas bulu yunior. Monod mempertahankan gelar dan kembali ke Malang dengan uang tiga juta dari promotor. Cukup mahal ketika itu.

Di Indramayu, Jawa Barat, Cheppy bergeser dua kelas dan berstatus juara Indonesia kelas ringan yunior. Cheppy merebut gelar kelas ringan dari tangan juara kidal Gill Roberto Santos [Daniel Bahari Bali].

Advertisement

Cheppy gagal memukul KO Monod [fighter Arema Malang], seperti yang dijanjikannya, tetapi berhasil menebus kekalahannya melalui angka mutlak. Hakim Eddy Purnomo (Malang) memberikan nilai 118-112. Pieter Gedoan (Jakarta) 118-112. Jootje Darmawan (Bandung) 117-112. Semua untuk Cheppy Holman. Angka ideal adalah 117-112.

“Saya salah perhitungan,” kata Monod. “Saya mengira dia akan masuk menyerang ternyata tidak. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk. Saya kalah jangkauan dan kalah angka. Di Indramayu, Cheppy lebih bagus dari pertandingan di Bontang. Hormat saya untuk dia.”

Hasibe-Togelang III Berakhir Tragis

Promotor Tourino Tidar menampilkan trilogi Kejuaraan Indonesia kelas bantam 12 ronde antara juara Hasanuddin Hasibe dengan penantang Steven Togelang. Berakhir tragis.

Advertisement

Hasibe (Pirih Surabaya) menjatuhkan Togelang (Benteng AMI/ASMI Jakarta) persis di tengah ring, pada ronde kelima. Pukulan kanan Hasibe menghantam tepat di bagian hulu hati. Togelang jatuh dan tidak bangun sampai hitungan sepuluh yang datang wasit Pieter Gedoan.

Seakan kehabisan tenaga, Togelang bergerak perlahan-lahan dan muntah di tengah ring. Muntah nasi.

Robby Rahangmetan, seorang petinju yang pada malam pertandingan tugas di sudut ring, segera menarik tandu yang disembunyikan tim medis di kolong ring. Robby mendorong tandu ke dalam ring. Pelatih Chris Rotinsulu melepas sarung tinju yang membungkus kedua tangan Togelang.

Advertisement

Togelang dapat menolong dirinya sendiri lalu berdiri. Perlahan-lahan menuruni tangga ring tanpa dipapah. Sedih sekali melihatnya, dibiarkan berjalan sementara kedua lututnya belum kuat. Kasihan.

Pada pertandingan pertama mereka di GOR Bekasi yang ditandai ribut suporter, Togelang menang split dan menjadi juara Indonesia kelas bantam. Rematch di Go Skate Surabaya, Togelang tumbang TKO pada ronde ketujuh dan muntah akibat makan soto ayam khas Suroboyo di Jalan Embong Malang, dekat arena pertandingan, terlalu banyak. Togelang segera dilarikan ke rumah sakit di daerah Karangmenjangan, Surabaya. Setelah menjalani perawatan, dokter menyatakan tidak ada masalah dan boleh pulang.

Di Indramayu dalam trilogy mereka, Hasibe menutup pertandingan dengan KO pada ronde kelima. Kedudukan 2-1 untuk Hasanuddin Hasibe, pria asal Sulawesi Tenggara.

Advertisement

Ketika pertandingan di Indramayu, hujan turun. Deras sekali. Pekarangan gedung olahraga itu hampir tertutup air. Seorang Letkol Polisi (sekarang AKBP) yang penulis kenal di arena pertandingan, bermurah hati mengantar ke sebuah Wartel, atau warung telekomunikasi.

Pada era itu memang era Wartel, belum era HP. Di mana-mana berdiri bisnis wartel. PT Telkom memberikan kelonggaran potongan bayar hingga 50% jika sudah di atas pukul sepuluh malam.

Ketika penulis tiba di pintu wartel, jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.45. Penulis langsung saja melaporkan hasil pertandingan melalui sambungan telepon interlokal ke koran tempat berkarya di Surabaya.

Advertisement

Penulis sempat dibentak. Dianggap lelet. Tidak cekatan. Terlalu malam melaporkan hasil pertandingan. Seenaknya orang itu saja mengomel. Dia tidak tahu, tinju memang begitu, selalu ditutup sampai jauh malam. Bahkan saat ini, tinju dunia yang hampir setiap akhir pekan berlangsung di Arab atau di Las Vegas, untuk main event selalu dimulai tengah malam.

Setelah mengirim laporan hasil pertandingan tinju Indramayu, hujan berhenti. Becak mengantar penulis pulang ke hotel. Di ujung malam yang gelap, penulis memesan nasi goreng, tak jauh dari ruko tempat penulis memesan kepiting dicampur telur.

Sebelum meliput pertandingan, penulis order makanan favorit, yaitu kepiting bertelur, tetapi yang datang kepiting campur telur. Kepiting dimasak kemudian dicampur telur bebek semi goreng. Jadilah kepiting bertelur versi Indramayu.

Advertisement

Padahal bukan begitu ceritanya. Ketika order, penulis menyebut minta kepiting bertelur, bukan kepiting campur telur lalu digoreng. Harganya juga beda. Kepiting bertelur lebih mahal dari kepiting tidak bertelur.

Sepanjang hidup, baru sekali itu makan kepiting campur telur. Mau protes tidak jadi. Ya sudah, nikmati saja. Tidak terlupakan sampai sekarang. [Sumber dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia”, halaman 75 dan 76. Ikuti tulisan berikut “Malam yang Menakutkan di GOR Arie Lasut Manado”]

Advertisement