Rondeaktual.com
Berikut adalah kisah pertandingan tinju profesioal di GOR Arie Lasut, Manado, Sabtu, 2 April 1994. Promotornya adalah Tourino Tidar dari TT Promotion Taman Tanah Abang, Jakarta, bersama Herman Sarens Soediro dari Komisi Tinju Indonesia, Jakarta.
Lima petinju tuan rumah yang bertanding dalam partai Kejuaraan Indonesia, tidak ada yang memenangkan pertandingan. Tumbang satu demi satu. Sepertinya ada yang salah dalam menyusun partai. Match maker tidak bisa dipercaya. Sebab ada semacam tradisi bahwa petinju tuan rumah harus juara.
Kursi Rotan Dibuang ke Dalam Ring
Setiap ke Manado, Sulawesi Utara, yang pertama terbayang di kepala penulis adalah peristiwa kursi rotan dibuang ke dalam ring. Malam itu, malam yang menakutkan di GOR Arie Lasut, Sabtu, 2 April 1994.
Baca Juga
Advertisement
Promotor Tourino Tidar menggelar lima partai Kejuaraan Indonesia. Penonton sulit menerima kekalahan Max Karamoy (Satria Bahu Boxing Camp Manado) atas juara Indonesia kelas ringan, Mudafar Dano (Pirih Boxing Camp Surabaya). Kalau mau jujur, seharusnya pemenang bukan Mudafar Dano.
Nilai Hakim Patut Dicurigai
Pieter Gedoan (Jakarta, wasit/merangkap hakim) memberikan nilai 116-114, Bambang Subagyo (Jawa Timur) 116-114, keduanya untuk Mudafar. Jootje Darmawan (Jawa Barat) 115-113 untuk Max Karamoy.
Setelah kemenangan Mudafar Dano diumumkan, seorang ibu setengah baya yang kemudian penulis ketahui adalah ibunda dari seorang legenda tinju besar Sulawesi Utara. Ibu itu marah bukan main. Dia mengangkat kursi rotan yang didudukinya sendiri kemudian membantingnya ke dalam ring. Kata-katanya sudah di luar batas kesadaran.
Baca Juga
Advertisement
Bukan ibu dari Kelurahan Bahu itu saja yang mengamuk. Penonton lain ikut terbakar emosinya. Hampir setiap sudut gaduh. Tumpukan minuman mineral serta minuman kaleng berjatuhan di atas kanvas ring. Sudah seperti hujan batu.
Tidak ada yang bisa menghentikan penonton. Sejumlah pria gagah perkasa berpakaian ormas tertua, yang sebelumnya berdiri di sudut Max Karamoy, mendatangi meja ofisial ring. Mereka menuntut kemenangan Mudafar Dano segera dicabut.
Inspektur Pertandingan tidak mau kalah di ujung gertak. Dia bertahan dengan keputusan yang sudah diumukan. Selama tidak ada kesalahan dalam menjumlah nilai, keputusan yang sudah diumumkan pantang dianulir. Kemenangan Mudafar Dano kuat dan sah.
Baca Juga
Advertisement
Beberapa mantan petinju, pelatih, manajer, dan pengurus tinju Nyiur Melambai, sengaja memanas-manasi situasi. Provokator bergerak dengan cepat. Orang-orang itu ke sana ke mari menciptakan gaduh.
Secara mental penulis takut dan itu alamiah saja. Penonton yang rumahnya di sekitar GOR Arie Lasut, juga ikut bersembunyi di balik tembok agar terhindar dari serangan orang-orang yang mengamuk.
Puluhan petugas keamanan dan seorang jenderal bintang satu purnawirawan dari Komisi Tinju Indonesia harus kerja keras untuk mengatasi situasi. Hampir satu jam dalam tekanan suasana yang sangat mencekam. Biasanya situasi kacau di sekitar ring bisa diselesaikan tak lebih dari 10 menit. Rusuh di sekitar ring GOR Arie Lasut terlalu panjang. Bagi penulis, ini menjadi salah satu aksi protes paling buruk dalam sejarah pertandingan tinju pro Tanah Air.
Baca Juga
Advertisement
Setelah puas melampiaskan marah, perlahan-lahan situasi mulai kondusif. Rasa takut mulai lepas.
Penulis melihat orang-orang yang tadi berontak dan membanting-bantingkan kursi rotan, satu-satu pergi meninggalkan arena pertandingan. Beberapa di antara mereka masih bertolak pinggang menatap meja juri. Sisa-sisa kemarahan masih membungkus muka mereka.
Bagi penulis, ketidakpuasan penonton sangat beralasan. Marah lantaran petinju favoritnya dikalahkan di kandang sendiri masih bisa diterima. Namun, siapa pun dia pasti tidak sependapat dengan tindakan brutal. Ini sudah mengganggu kenyamanan orang lain.
Baca Juga
Advertisement
Penonton marah karena southpaw Max Karamoy yang mendominasi pertandingan dinyatakan kalah. Para pendukung Max Karamoy menuding dua hakim tinju yang memenangkan Mudafar Dano, sudah tidak bisa dipercaya. Harus dipecat.
Nilai 115-113 untuk Max Karamoy, yang datang dari hakim Jootje Darmawan (Jawa Barat), dianggap paling pas.
Untuk menghindari kemungkinan menjadi sasaran kemarahan pendukung Max Karamoy, Mudafar Dano segera meninggalkan ring dan masuk ke dalam kamar ganti petinju. Dia aman di sana. Penonton marah bukan kepada petinju, melainkan hasil keputusan yang dianggap sangat kontroversial. Bisa-bisanya memenangkan Mudafar Dano.
Baca Juga
Advertisement
Percakapan Terakhir dengan Mudafar Dano
Sebulan menjelang buku “Perjalanan Tinju Indonesia” naik cetak, penulis masih sempat menghubungi Mudafar Dano di Blitar, Jawa Timur, melalui telepon selulernya. Inilah yang dikatakannya: “Saya masih ingat kejadiannya. Sangat menakutkan waktu itu. Saya pikir orang kalah terus melakukan protes itu biasa. Tapi ini tidak biasa. Orang-orang marah dan mengamuk. Sabuk juara saya terima di bawah ring, bukan di atas ring. Segitu parahnya. Tidak ada dendam di antara kami. Hubungan saya dengan Max Karamoy tetap bagus. Tetap menjalin komunikasi. Saya hormat Max Karamoy.”
Tidak lama kemudian Mudafar Dano meninggal dunia di rumah sakit di Karangmenjangan, Surabaya, akibat sakit komplikasi.
Pertandingan Tinju Pro ke-24
Malam itu merupakan malam tinju profesional ke-24 di Bumi Nyiur Melambai. Promotor Tourino Tidar dari Jakarta datang ke Manado dengan menampilkan lima partai kejuaraan Indonesia.
Baca Juga
Advertisement
Lima penantang, semuanya tuan rumah, tidak ada yang berhasil merebut gelar juara. Itu merupakan malam yang buruk bagi tuan rumah. Sepertinya salah menyusun partai. Seharusnya petinju tuan rumah menghadapi lawan yang levelnya di bawah. Ini tidak, malah dua kelas di atas lawan. Keterlaluan orang yang menyusun partai.
5 Hasil Pertandingan Kejuaraan Indonesia
- Mudafar Dano – Kelas ringan 12 ronde: Mudafar Dano (Pirih Surabaya) menang angka tidak mutlak atas Max Karamoy (Satria Bahu Manado). Terlepas keputusan kontroversial, ini merupakan partai terbaik dari lima partai kejuaraan Indonesia.
- Nico Thomas – Kelas terbang mini 12 ronde: Nico Thomas (Tonsco Jakarta) menang KO ronde 6 atas Roy Bima (Porodisa Manado). Sampai ronde ketiga selesai, Roy Bima masih tangguh. Masih bisa melayangkan tangannya dan mengenai muka lawan. Setelah itu menjadi tidak berimbang dan tumbang KO.
- Bugiarso – Kelas bulu yunior 12 ronde: Bugiarso (Akas Probolinggo) menang KO ronde pertama atas Dickson Lawonggo (Porodisa Manado). Bugiarso terlalu cepat menghabisi lawan, yang sudah kalah mental sebelum bertanding.
- Boy Aruan – Kelas bantam yunior 12 ronde: Boy Aruan (Sawunggaling Surabaya) menang angka atas Daniel Liwutang (Satal Manado).
- Cheppy Holman – Kelas ringan yunior 12 ronde: Cheppy Holman (Red Cobra Bandung) menang TKO ronde kedelapan atas Run Tangkilisan (Mahatidana Manado). Meski kalah bobot pukulan, Run Tangkilisan tidak pernah berhenti melakukan serangan sampai akhirnya TKO. Dia petarung sejati.
21 Tahun Kemudian Kondisi GOR Arie Lasut
Pada tahun 2015, atau 21 tahun kemudian setelah peristiwa lempar kursi rotan ke dalam ring, penulis pernah dua minggu tinggal di rumah seorang sahabat di pinggir jalan tol di Kelurahan Kairagi Dua, Kecamatan Mapanget, atau hanya beberapa rumah dari belakang GOR Arie Lasut Manado.
Penulis ke sana. Karena tidak ada orang, diam-diam masuk dari samping kanan, seperti lorong kecil. Pintu itu tidak dikunci.
Baca Juga
Advertisement
Melihat kondisi GOR Arie Lasut, ketika itu, sudah jauh berubah. Sepertinya sudah tidak diurus. Dibiarkan kotor dan parahnya lagi bau pesing. Sudah tidak sehat. [Dikutip dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia” halaman 77, 78, 79, Finon Manullang menulis untuk tinju]