Perjalanan Tinju Indonesia [31]: A Seng dan George Foreman di Surabaya

BUKU 31 A SENG COVER

Rondeaktual.com – Hanya ada sekali pertandingan tinju bertajuk Indonesia Emas 50 Tahun Merdeka. Tercatat sangat spesial.

Pertandingan tinju yang sengaja dikemas untuk Pesta Indonesia Emas 50 Tahun Merdeka disaksikan mantan juara dunia kelas berat tertua asal Amerika Serikat, George Foreman. Ini merupakan karya besar promotor A Seng Herry Sugiarto, yang terwujud di Gedung Go Skate, Jalan Embong Malang, Surabaya, Jawa Timur, Selasa malam, 22 Agustus 1995.

A Seng yang ketika itu mulai naik daun menuju promotor terbaik Indonesia, bersama Ketua Panitia Pertandingan Fadjar Siahaan, menampilkan partai internasional. A Seng mendatangkan petinju dari Filipina dan Thailand.

Mantan juara IBF Intercontinental kelas terbang mini Dominggus Siwalette kalah melawan Rudy Idanio (Filipina). Menurut lawan, Siwalette petinju bagus tetapi terlalu percaya diri. “Over confdence. He’s a good boxer. I respect him,” puji Idanio.

Kelas bulu 10 ronde, petinju yang bertanding dengan celana loreng, Nurhuda (Javanoea Malang, Indonesia) menang angka atas Joe Escriber
(Filipina).

Advertisement

Ajib Albarado versus Mudafar Dano

Kejuaraan Indonesia kelas welter yunior 12 ronde, menampilkan Ajib Albarado (Sawunggaling Surabaya) menyuguhkan pertarungan habis-habisan. Albarado menyerang dan memukul penantangnya Mudafar Dano dari Pirih Boxing Camp, Bratang, Surabaya.

Banyak penonton merasa kecewa, terutama mereka yang bertaruh untuk kemenangan Albarado melalui KO. Albarado gagal mencetak knockout seperti yang diharapkan para petaruh, karena semangat tanding yang diperlihatkan Mudafar Dano memang luar biasa. Pukulan maut Albarado–long hook dan upper cut—dapat diredam sang penantang. Albarado yang gagal mencetak KO, memberikan alasan bahwa kepalan kanannya masih trauma cidera. “Mau pukul keras takut bengkak lagi. Mudafar kuat. Dia tidak mau diam, selalu bergerak membuat konsentrasi saya terganggu,” kata Ajib Albarado.

Secara keseluruhan, tontonan tinju sukses meski tidak ada yang menakjubkan. Sementara, orang-orang yang berada di sekitar ringside memang luar biasa. Tidak ada tempat kosong. Full house. Bahkan kursi lipat disusun sampai berjarak hanya dua meter dari mulut pintu toilet. Semua terisi. Tidak pernah begitu sebelumnya. Biasanya kursi penonton berjarak sepuluh meter dari ujung pintu toilet. Ticket marketingnya top. Tidak ada yang datang gratis. Semua beli tiket, mulai ringside sampai yang termurah duduk di atas paling ujung. Undangan yang seharusnya cuma-cuma, pada kenyataannya banyak yang dijual dan laku keras. Selembar undangan untuk satu orang dipatok Rp 250 ribu. Harga mati alias tidak dapat ditawar.

Penulis tidak ingin memuji, tetapi itulah hebatnya penonton Jawa Timur. Malu datang jika memegang tiket gratis. Itu pula yang membuat bisnis tinju pro Jawa Timur nyaris tidak pernah gulung tikar. Para manajer atau para pengurus yang dianggap sudah “gila” tinju, selalu dikirimi tiket berlembar-lembar untuk dibayar. Sekali lagi, tidak ada yang gratis.

Advertisement

FOREMAN WIKIPEDIAIndonesia Emas 50 Tahun Merdeka

Malam tinju “Indonesia Emas 50 Tahun Merdeka” yang sangat bersejarah di Gedung Go Skate Surabaya, disaksikan lebih 3.250 penggemar. Ini merupakan kejadian yang belum pernah terlihat. Itu yang pertama. Sangat bersejarah.

Malam itu, malam yang penuh dengan rasa gembira, disaksikan antara lain

  • George Foreman, juara dunia tertua sepanjang sejarah kelas berat. Foreman datang dari AS bersama rombongan tinjunya, kemudian menuju Bali.
  • Gubernur Jawa Timur, H.M. Basofi Soedirman.
  • Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Imam Oetomo.
  • Ketua Umum KTI Pusat, Mayjen TNI AM Hendropriyono.
  • Ketua KTI Surabaya, PW Afandy, dan masih banyak tokoh tinju yang datang dari Jakarta dan kota besar lainnya.

Didampingi seorang penerjemah, Foreman berbicara begini: “Saya merasa senang dan ingin kembali lagi ke sini. Terima kasih kepada promotor A Seng dan masyarakat Indonesia, yang menyambut saya dengan gembira. Saya senang, seperti berada di rumah sendiri.”

Show boxing versi promotor A Seng Herry Sugiarto begitu lengkap. Tak akan terulang. [Sumber buku “Perjalan Tinju Indonesia” halaman 80-81, Finon Manullang menulis untuk tinju]

Advertisement