Rondeaktual.com – Kemarin sore, nada panggil ponsel penulis terdengar agak lama. Penulis baru saja meninggalkan pintu utama rumah sakit di Cibitung, Jawa Barat.
Ternyata dari Sikkat Pasaribu, SE. Tumben, tidak biasanya.
Sikkat Pasaribu biasanya bicara tentang tinju pro. Entah mengapa begitu jumlah organisasinya. Sudah bertahun-tahun tidak pernah menyelenggarakan Musyawarah Nasional [Munas]. Expired.
Baca Juga
Advertisement
Kemarin agak beda. Sikkat tiba-tiba saja bertanya tentang tinju amatir kita yang sedang terbelah. Ada apa gerangan?
Sikkat Pasaribu adalah kawan baik. Ia seorang mantan petinju pro. Mantan juara Indonesia kelas menengah. Mantan juara internasional PABA kelas menengah. Seorang promotor. Seorang pembawa acara sekaligus komentator tinju. Sangat terkenal. Di depan pemirsa, penyampaiannya selalu dengan bahasa yang muda dimengerti. Bicaranya kuat dengan intonasi yang tegas. Dialek Batak-nya yang sangat terasa sengaja dipertahankan.
Gaya itulah yang membuatnya disukai. Penggemarnya banyak dan salah satunya adalah Erick Thohir, yang sejak 17 September 2025 menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Kabinet Merah Putih.
Baca Juga
Advertisement
Sekali lagi, tumben. Lelaki baik hati itu menghubungi penulis. Sebelumnya kami sering bertemu. Bicara tentang tinju, termasuk ketika Sikkat jujur mengatakan tidak suka dengan penampilan penulis tanpa jas saat menjadi boxing announcer untuk pertandingannya di Auditorium Gelanggang Remaja Jakarta Timur.
Penulis pernah dua kali moderatar membawakan acara seminar tinju yang digelar Sikkat Pasaribu di Media Center, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Penulis harus menghentikan seminar 15 menit sebelum waktunya, karena debat sudah tidak sehat. Seorang mantan dari Taman Tanah Abang hampir saja menumbuk muka seorang wasit yang menjadi narasumber.
Ketika Sikkat Pasaribu menguhubungi, yang pertama penulis tanya adalah di mana sekarang. Penulis meminta 15 menit lagi supaya kembali menghubungi.
Baca Juga
Advertisement
Rumah sakit dengan ruang komputer penulis dekat, hanya 15 menit sudah sampai. Sikkat menghubungi penulis dan meneruskan pembicaraan tentang tinju amatir yang terbelah.
Bicara tentang tinju amatir bisa panjang. Penulis lebih suka tinju amatir masa lalu, bukan masa sekarang. Tinju masa lalu banyak kenangan. Banyak prestasi dan itu merupakan persahabatan yang tidak terlupakan.
Harus diterima. Tidak ada petinju Indonesia yang menembus pertandingan final ketika menjadi tuan rumah Asian Games XVIII/2018 di Jakarta. Indonesia gagal medali emas. Dua medali perunggu datang dari Huswatun Hasanah [putri kelas ringan] dan Sunan Amoragam [putra kelas bantam].
Baca Juga
Advertisement
Sikkat Pasaribu dan semua insan tinju amatir pasti menyadari bahwa kita sudah bertahun-tahun tidak berhasil mengantar petinju ke olimpiade. Ini bukan karena pengurusnya “berkelahi” rebutan jabatan. Berkelahi untuk mendapat jatah manajer dan jatah pelatih pelatnas. Rebutan memasukkan petinjunya sendiri ke pelatnas.
Ribut dan “berkelahi” berkepanjangan. Perang versi medsos. Tinju amatir terbelah. Muncul istilah “pihak seberang” untuk menyebut pihak yang satu. Entah kapan ini disudahi. Seakan sengaja dibiarkan berlarut-larut. Janji “ketuk palu” tak kunjung datang.
Padahal banyak yang harus dikejar. Tidak boleh lupa, sudah terlalu panjang tidak pernah mengikuti olimpiade. Indonesia gagal mengantar petinju ke:
Baca Juga
Advertisement
- Olimpiade Beijing 2008.
- Olimpiade London 2012.
- Olimpiade Rio de Janeiro 2016.
- Olimpiade Tokyo 2020 [tunda setahun menjadi 2021 akibat COVID-19 berkepanjangan].
- Olimpiade Paris 2024.
Lantas, bagaimana Olimpiade Los Angeles 2028? Ini yang menjadi tanda tanya besar. Dua tahun lalu, siapa yang akan mewakili Indonesia di LA28?
Ribut terus dan Sikkat Pasaribu terus bertanya tentang masa depan tinju amatir kita. Kasihan kan, kalau begini terus.
Pada SEA Games terakhir, SEA Games Thailand 2025, Indonesia mengirim 13 petinju:
- Merlin Tomatala, Papua Barat.
- Israellah Saweho, Sulawesi Utara.
- Nabila Maharani, Lampung.
- Alfianita Manopo, Jawa Barat].
- Maria Manguntu, Sulawesi Utara.
- Huswatun Hasanah, DKI Jakarta.
- Dio Koebanu, Nusa Tenggara Timur.
- Vicky Tahumil Junior, Sulawesi Utara.
- Flanuari Daud, Nusa Tenggara Timur.
- Jill Mandagie, DKI Jakarta.
- Asriudin Tapalaola, DKI Jakarta.
- Jeckry Riwu, Bali.
- Maikel Muskita, Jawa Barat.
Dari segitu banyak yang dikirim, Indonesia berhasil merebut satu medali emas dan ini sesuai target.
Advertisement
Sikkat Pasaribu juga bertanya tentang orang-orang yang mengurus tinju amatir saat ini. Siapa saja mereka.
Bagi penulis, itu tidak penting-penting amatlah. Jujur, di sini perlu pengawasan. Siapa petinju yang dipelatnaskan. Siapa pelatihnya dan darimana.
Sikkat seperti mengingatkan, tidak boleh main tunjuk. Harus melewati seleksi terbuka supaya bisa dipertanggungjawabkan.
Baca Juga
Advertisement
Itu saja belum cukup. Pelatnas harus jalan meski tidak ada pertandingan alias “pelatnas jangka panjang harus dihidupkan”. Pelatnas dengan cara “buka dan bubar dan buka lagi” tidak akan pernah menghasilkan petinju tangguh. Butuh bertahun-tahun. Butuh uang besar.
Letjen TNI [Mar] Purn Nono Sampono adalah Ketua Umum Pertina terakhir yang menjalankan pelatnas jangan panjang.
Setelah bicara lama dengan Sikkat Pasaribu, di tengah malam penulis penasaran, mau ke mana langkahnya?
Baca Juga
Advertisement
Penulis segera mengirim kalimat melalui pesan singkat WhatsApp. “Kalau boleh tahu, Sikkat mau ikut yang mana?”
Inilah balasan Sikkat Pasaribu. “Saya tetap promotor. Tetapi, boleh tahu kan legal standing [kedudukan hukum], untuk menjadi pengawas ketika saya menyelenggarakan pertandingan. Itu saja.” [Finon Manullang]
Baca Juga
Advertisement