Rondeaktual.com – Penulis merasa bersyukur, pernah melihat langsung Sri Sultan Hamengkubuwono X menyaksikan pertandingan tinju profesional di lapangan terbuka, lapangan sepakbola yang legendaris bernama Stadion Kridosono, Yogyakarta.
Peristiwa itu sangat bersejarah dan tersimpan dalam buku harian Coretan Finon Manullang, yang terjadi pada hari Sabtu malam, 3 Juni 1989.
Sri Sultan Hamengkubuwono X berada di antara ribuan penonton, menyaksikan pertandingan tinju profesional. Ada lima partai kejuaraan Indonesia dan itu merupakan rekor. Untuk pertama kali, lima kejuaraan Indonesia dipertandingkan dalam semalam, karya besar promotor Agus Mulyanto dari Malang, Jawa Timur. Pertandingan di bawah pengawasan Komisi Tinju Indonesia (KTI).
Baca Juga
Advertisement
Ketika itu, KTI satu-satunya ofisial ring untuk tinju pro. Beda dengan sekarang, sudah terlalu banyak dengan enam organisasi tinju, yang dimulai dari:
- Komisi Tinju Indonesia, KTI.
- Asosiasi Tinju Indonesia, ATI.
- Komisi Tinju Profesional Indonesia , KTPI.
- Federasi Tinju Indonesia, FTI.
- Federasi Tinju Profesional Indonesia, FTPI.
- Dewan Tinju Indonesia, DTI.
Gerimis Turun di Partai Terakhir
Tinju pro Stadion Kridosono Yogyakarta ditutup sampai tengah malam. Gerimis deras turun hingga partai terakhir.
Meski situasinya tidak memungkinkan, Sri Sultan Hamengkubuwono X tidak langsung meninggalkan Stadion Kridosono. Beliau masih sempat memberikan waktunya untuk bercakap-cakap dengan sejumlah orang-orang yang mendekatinya. Dedengkot tinju dan pendiri Sawunggaling Boxing Camp Surabaya, Setijadi Laksono, wasit/hakim asal Bandung, Daman, dan orang-orang tinju lainnya termasuk penonton, akrab bersama Sri Sultan.
Baca Juga
Advertisement
Kepada orang-orang yang mengelilinginya, Sri Sultan Hamengkubuwono memuji penampilan para petinju yang menjunjung tinggi sportivitas. Salah satu partai paling mendebarkan, seperti disampaikannya, adalah partai kejuaraan Indonesia kelas bulu antara Noce Lukman (Cakti Boxing Camp Jakarta) melawan panantang pantang mundur Sambung (Raung Boxing Camp Jember).
Sebelum berpisah, tokoh tinju Jawa Timur Setijadi Laksono memuji animo masyarakat Yogyakarta yang tinggi untuk melihat tinju profesional. Setijadi meminta supaya Yogyakarta terus mengangkat tinju bayaran.
Mendengar saran Setijadi, Sri Sultan Hamengkubowono menjadi tersenyum dan berharap pada pertandingan berikutnya pihak penyelenggara menyertakan petinju asal Yogyakarta.
Baca Juga
Advertisement
Kehadiran Sri Sultan Hamengkubowo di tengah-tengah pertandingan tinju sangat spesial. Selama bertahun-tahun, dari dulu sampai sekarang, sejauh yang terdata, baru sekali Sri Sultan Hamengkubuwono menyaksikan langsung pertandingan tinju di bawah gerimis deras yang turun sepanjang pertandingan. Seorang lelaki memegang payung, berdiri di samping Sri Sultan.
Liputan tinju Yogyakarta salah yang fenomenal. Selain melihat Sri Sultan Hamengkubuwono X berada di antara ribuan penonton, penulis sempat masuk ke gedung bioskop nonton bareng bersama pelatih Kid Francis.
Pulang dari bioskop, kami bertemu pelatih asal Bali, Daniel Bahari, di sebuah warung sate terkenal di pinggir jalan. Orang yang datang antre sampai di luar pintu.
Baca Juga
Advertisement
Sambil menghabiskan sisa sate di atas piring, pemulis melihat Daniel Bahari meracik sendiri sate yang dipesannya.
Konon, sate racikan itu bisa membuat kuat dan perkasa. Daniel Bahari menikmati racikannya.
Bahagia sekali. Tetapi, sangat kecewa dengan hasil pertandingan ketika secara tidak disangka-sangka Ricardo Simanungkalit (Scorpio Boxing Camp Jakarta) menang spit dua belas ronde atas juara Indonesia kelas menengah, Ketut Udiyana (Cakti Boxing Camp Bali).
Baca Juga
Advertisement
Betapa marahnya Daniel Bahari mendengar putusan tersebut. Impossible. Mustahil baginya. Tetapi mau bilang apa. Tinju pro, di mana-mana, tidak di Las Vegas tidak di Indonesia, memang begitu. Ada yang fair, ada yang berbau kontroversial. Ada yang acuh. Ada pula yang pura-pura tidak peduli. Masa bodoh. Kalau tidak puas, biasanya diselesaikan dengan cara tanding ulang. Rematch satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah, sampai sekarang.
Sulit bagi Daniel Bahari untuk menerima kekalahan petinjunya. Biarlah keputusan itu dianggap tidak bagus. Biarlah kekalahan Udiyana dianggap sengaja dirampok di Stadion Kridosono Yogyakarta.
Penulis berdiri di tepi ring sambil memegang kamera sepanjang dua belas ronde. Terlepas ditandai kontroversi, penulis harus menghargai perjuangan luar biasa Ricardo Simanungkalit. Dia seorang underdog besar dan menjadi target KO tak lebih dari 6 ronde. Ternyata Ricardo bertahan sampai dua belas ronde dan menjadi juara Indonesia kelas menengah. Dalam tinju, apa saja bisa terjadi.
Baca Juga
Advertisement
Ismail Tualeka, seorang petinju kelas ringan yang ikut membantu pelatih Kid Francis, masuk ke dalam ring. Ismail menggendong Ricardo di atas bahunya dan melakukan selebrasi keliling ring.
Hasil Kejuaraan Indonesia
- Kelas terbang 12 ronde, Akri Surya (Surya Malang) mempertahankan gelar, setelah mematahkan ambisi Ippo Gala (Garuda Jaya Jakarta). Pertarungan berjalan cepat dan saling bertukar pukulan. Tidak ada pelanggaran. Tidak ada yang jatuh. Ini menjadi salah satu partai terbaik sepanjang sejarah kejuaraan Indonesia kelas terbang.
- Kelas welter yunior 12 ronde, Suwarno Perico (Sawunggaling Surabaya) kehilangan gelar menyusul kekalahan angka atas Bongguk Kendy (Garuda Jaya Jakarta).
- Kelas bulu yunior 12 ronde, Robby Rahangmetan (Pirih Surabaya) mempertahankan gelar melalui KO ronde keempat atas penantang tidak terkenal Mario dari Wijaya Bandung.
- Kelas bulu 12 ronde, Noce Lukman (Cakti Jakarta) mempertahankan gelar melalui kemenangan angka atas penantang yang luar biasa Sambung (Raung Jember). Noce-Sambung menjadi partai paling mendebarkan dari lima kejuaraan Indonesia, persembahan promotor Agus Mulyanto. Wajah Sambung terluka dan penuh darah tetapi tidak membuatnya mundur. Sambung terus menyerang melalui pukulan andalannya, hook dan upper cut. Tetapi harus diakui, malam itu Noce memang seorang juara yang tangguh. (Dikutip dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia” edisi 2023, Finon Manullang menulis untuk tinju)
Baca Juga
Advertisement