Rondeaktual.com – Kejuaraan Tinju Asia U-19 dan U-23 sudah dekat. Indonesia melalui Perbati telah mengadakan Pemusatan Latihan Nasional [Pelatnas] di Kampung Perigi Mekar, Jawa Barat. Sebanyak 25 petinju muda [12 U-19 dan 13 petinju U-23] dipersiapkan sepanjang hari. Saat ini mereka ditangani oleh tiga pelatih dan menjadi empat bersama pelatih yang dikontrak mahal dari Thailand, Kamanit Nareerakx.
“Di sini [Kampung Parigi Mekar, Ciseeng] ada tiga pelatih untuk mempersiapkan atlet menuju Asian Boxing Championships Men`s and Women`s U-19 and U-23,” kata Husni Ray, pelatih tertua yang ada di sana. “Pertama adalah Husni Ray, saya sendiri. Ada Patrick Timbowo [dari Sulawesi Utara] dan Ricky Notty [dari PPOP DKI Jakarta]. Masih ada pelatih lain seperti; Bayu Anggoro dan Amoragam, orangtua dari petinju Sunan Amoragam. Di sini setiap pagi dan sore latihan,” katanya. Berikut tentang tiga pelatih untuk Kejuaraan Asia.
Baca Juga
Advertisement
Husni Ray, dari Amatir ke Pro dan Kembali ke Amatir
Husni cukup dikenal. Pandai bicara dan sempat menjadi komentator tinju dunia, yang datang ke studio di Pulogadung dengan menggunakan ojek sepeda motor. Karier komentatornya putus.
Di mana-mana orang mengingat Husni sebagai petinju lincah. Karier amatirnya cukup bagus dan mewakili Provinsi DKI dalam PON 1985. Husni berhasil merebut medali perunggu kelas terbang mini. Di semifinal kalah melawan Susiadi dari Jawa Timur.
Setelah PON, Husni masuk tinju pro dan dengan cepat dikenal sebagai Husni Ray. Nama belakangnya diambil dari legenda tinju Sugar Ray Leonard, yang sangat dihormatinya.
Baca Juga
Advertisement
Di tinju pro, Husni Ray asal Betawi menjadi “Raja 47” alias juara kelas terbang mini tak terkalahkan oleh petinju dalam negeri. Ia hampir saja menjadi juara dunia, kalau saja dengkulnya tidak goyah sehingga sulit menyerang juara dunia asal Republik Dominika, Rafael Torres.
Pada tahun 1995, setelah pensiun dari tinju pro, Husni Ray langsung meneruskan karier pelatih dengan cara berganti-ganti alias kadang melatih petinju pro dan kadang melatih petinju amatir.
Sampai sekarang, tetangganya di daerah Cibitung City, mengenalnya sebagai pelatih.
Baca Juga
Advertisement
Patrick Timbowo, Meninggalkan Manado Bergabung ke Ciseeng
Patrick Timbowo mungkin nama baru. Pria 40 tahun ini adalah pelatih tinju amatir dari Sario Boxing Camp Manado, Sulawesi Utara. Sudah setahun ini Patrick bergabung di “perkampungan tinju” di Desa Parigi Mekar.
Patrick sangat setia dan memberikan hidupnya untuk tinju tanpa putus. Setelah berhenti tinju, ia menjadi pelatih di Manado.
Baca Juga
Advertisement
Suatu ketika, tenaganya dibutuhkan untuk mendampingi petinju asal Sulawesi Utara, yang berlatih di Kampung Pargi Mekar. Patrick harus siap menerima panggilan pelatnas.
“Setiap pagi, pukul empat sudah bangun,” kata Patrick Timbowo. “Setengah jam sebelum pukul enam kita sudah ada di sasana. Berjalan kaki, karena dekat. Pukul enam sudah mulai latihan.”
Baca Juga
Advertisement
Ricky Notty ke Bandung Menjumpai Istri
Ricky Notty adalah salah satu yang termuda. Ia menjalani profesi pelatih karena pernah mengukiti kursus kilat Pelatihan Nasional di GOR Laga Satria, pada tahun 2008. Semua peserta menerima sertifikat pelatih, karena semua lulus.
Ricky bernasib bagus dan menjadi salah satu pelatih di PPOP Ragunan Provinsi DKI Jakarta. Sudah masuk sepuluh tahun dia di Ragunan.
Ricky Notty, mantan petinju amatir Maluku Jaya Jakarta, harus pandai mengatur waktu, agar bisa setiap akhir pekan atau jika sedang tidak ada pertandingan boleh pulang ke Bandung.
Baca Juga
Advertisement
Di Bandung, Ricky menjumpai istrinya, seorang suster di sebuah rumah sakit terkenal. Selain bertemu sang istri, Ricky bertemu dengan putrinya yang sudah masuk sekolah dasar.
Sebelum meneruskan karier kepelatihan, Ricky sempat mengikuti Kejuaraan Terbuka Piala Gubernur DKI Jakarta, yang brlangsung di Kota Tua, pada tahun 2006. Ricky berhasil merebut medali emas kelas bulu dan terpilih sebagai petinju terbaik. *
Baca Juga
Advertisement