Buku “Perjalanan Tinju Indonesia” [23] Nico Thomas Juara Dunia 96 Hari

1 BUKU PERJALANAN TINJU INDONESIA

Rondeaktual.com – Sepanjang karir tinju pronya, southpaw Nicholas Thomas atau Nico Thomas, sekali membuat sejarah menjadi orang Indonesia kedua yang berhasil merebut gelar juara dunia tinju profesional. Nico melakukannya melalui kemenangan mutlak [unanimous decision] dua belas ronde atas juara Samuth Sithnaruepol [Thailand] di Senayan, Jakarta, Sabtu, 17 Juni 1989.

Itu adalah pertandingan ulang. Pada pertandingan sebelumnya di tempat yang sama, Sithnaruepol-Thomas berakhir seri tanpa pemenang.

Sithnaruepol-Thomas II dipimpin wasit Abraham Pacheco [Amerika Serikat]. Hakim Louis Race [Hawaii] memberikan nilai 115-111 untuk Nico Thomas. Hakim Alex Villacampa [Filipina] memberikan nilai 115-111 untuk Nico Thomas. Hakim Hideo Arai [Jepang] memberikan nilai 119-108 untuk Nico Thomas. Pada malam kemenangannya, Nico Thomas berusia 23 tahun dan 37 hari.

Advertisement

Nico Thomas Juara Dunia 96 Hari

Setelah menjadi juara dunia, Nico Thomas harus mempertahankan gelarnya melawan penantang pertama asal Filipina, kidal Eric Chavez. Nico Thomas tidak mendapat hak choice, alis boleh memilih lawan.

Ketika itu, penulis datang dari Surabaya untuk meliput pertandingan Nico Thomas, dengan harapan bisa melihat sang juara mempertahankan gelar juara dunianya yang pertama.

Ternyata salah menduga. Dalam upaya mempertahankan gelar yang pertama, Nico Thomas gagal. Gelar juara dunia IBF yang disandang Nico Thomas terlalu cepat berlalu. Hanya tiga bulan, atau kalau hitung mundur hanya berumur 96 hari.

Advertisement

Nico kehilangan gelar setelah tumbang KO pada ronde kelima di tangan kidal Eric Chavez, yang berlangsung di GOR Basket, Taman Hiburan Rakyat [THR] Lokasari, Kelurahan Tangki, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Kamis, 21 September 1989.

Nico tidak sempat menikmati gelar juara dunianya. Orang bilang, Nico juara dunia 96 hari.

Kekalahan Nico atas Erick Chavez adalah kekalahan di luar perhitungan. Nico tumbang KO pada ronde kelima, setelah tangan kiri petinju Filipina itu menghantam bagian perut Nico.

Advertisement

Hanya dengan satu ayunan tangan kidal dari Chavez, Nico habis. Upper cut yang sangat mematikan. Malam itu terasa sedih. Sabuk dunia IBF kelas terbang mini milik Nico Thomas terlalu cepat berlalu.

Kejuaraan dunia di GOR Basket Lokasari sepi penonton. Itu satu-satunya kejuaraan dunia berkarcis yang hanya disaksikan sekitar 1.250 orang.

Di era itu tidak ada pertandingan tinju sepi penonton. Untuk partai kejuaraan dunia, sedikitnya bisa tiga sampai lima ribu penonton. Sayang, kejuaraan dunia satu-satunya di Lokasari sepi. Sebelum kejuaraan dunia berlangsung, atau pada pukul 21.30, panitia sudah membuka pintu masuk. Sengaja digratiskan dan tidak ada penonton tambahan.

Advertisement

Lokasari bukan lokasi tinju. Lokasari terkenal sebagai salah satu pusat belanja paling lengkap. Di sana ada pusat hiburan malam diskotek yang dibiarkan buka sampai pagi, karaoke, dan panti pijat kelas kamuflase.

Di balik kekalahan Nico Thomas, adakah yang salah? Tidak ada. Chavez datang ke Lokasari sudah berusia 27 tahun dan Nico 23 tahun. Bedanya, mungkin karena Chavez lebih pengalaman dan pernah memukul KO petinju Indonesia, Udin Baharuddin dalam partai tambahan kejuaraan dunia WBA kelas bantam yunior antara Khaosai Galaxy (Thailand) melawan Ellyas Pical (Indonesia), di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 28 Februari 1987.

Udin KO ronde 5, setelah dihantam tangan kiri Chavez. Nico yang juga kidal, tumbang KO ronde 5, setelah dihantam tangan kiri Chavez.

Advertisement

Kekalahan itu datang terlalu cepat. Seperti mimpi. Sebab, sampai tiga ronde pertama, Nico masih bisa mengungguli lawan. Serangan kidal Nico bergelora membuat lawan sering memasang double cover atau menarik langkah mundur.

Nico terus menggempur benteng pertahannan lawan dan setidaknya, sampai tiga ronde, unggul dalam pengumpulan angka 29-28.

Memasuki ronde kelima, Eric Chavez melakukan perubahan secara frontal. Dia langsung memotong serangan sang juara. Melalui sentakan upper cut kiri yang mendarat di bagian hulu hati, Nico selesai.

Advertisement

Setelah KO, Nico Thomas berkata: “Saya minta maaf. Saya gagal mempertahankan gelar.” Sedih mendengarnya.

“Sudah, jangan bersedih. Masih ada hari esok,” hibur promotor Jusuf Hamka.

4 Kejuaraan Dunia Nico Thomas

  • Draw Paling Kontroversial: Berlangsung diSenayan, Jakarta, Kamis, 23 Maret 1989, Nico Thomas, southpaw asal Maluku, bertarung luar biasa sepanjang 12 ronde, tetapi diumukan draw melawan juara dunia IBF kelas minimum asal Thailand, southpaw Samuth Sithnaruepol. Keputusan draw tanpa pemenang membuat juara tetap juara. Ini merupakan keputusan kontroversial terburuk sepanjang sejarah kejuaraan dunia di Indonesia. Promotor Ferry Moniaga.
  • Merebut Sabuk Juara Dunia: Berlangsung di Senayan, Sabtu, 17 Juni 1989, Nico Thomas menang angka 12 ronde atas juara dunia IBF kelas terbang mini asal Thailand, Samuth Sithnaruepol. Nico Thomas menjadi petinju Indonesia kedua yang berhasil merebut gelar juara dunia tinju, setelah kidal Ellyas Pical. Promotor Marten Walewangko.
  • Tumbang KO di Lokasari: Berlangsung diGedung Basket, THR Lokasari, Jalan Mangga Besar, Jakarta Barat, Kamis, 21 September 1989, Nico Thomas tumbang KO ronde kelima di tangan penantang kidal asal Filipina, Eric Chavez. Sebelum terjadi KO atau sampai ronde keempat, dua hakim [Alex Villacampa, Filipina dan Russ Menadue, Australia] memenangkan Chavez 39-37 dan 39-37. Hakim dari Indonesia [Jopie Limahelu] memenangkan Nico Thomas 38-37. Ini merupakan kejuaraan dunia yang jauh dari publikasi. Jumlah penonton sekitar 1.250, yang datang dengan cara membeli tiket masuk. Pada pukul 21.30, pihak penyelenggara sengaja membuka pintu masuk. Digratiskan, namun penonton tidak bertambah. Promotor Jusuf Hamka.
  • Gagal di Thailand: Berlangsung di Suranaree Camp Stadium, Nakhon Ratchasima, Thailand, Minggu, 14 Maret 1993, Nico Thomas mengalami KO pada ronde ketujuh setelah menerima pukulan beruntun yang dilepaskan petinju tuan rumah, Anucha Phothong Ratanapol Sor Vorapin. Sebelum KO, atau sampai ronde keenam, tiga hakim memenangkan petinju Thailand dengan skor 60-54 [Charlie Lucas, Filipina], 59-55 [Pieter Gedoan, Indonesia], 60-54 [Sakad Ploemchat, Thailand]. Promotor Kolonel Bunju Ongsangkoon. [Dikutip dari “Perjalanan Tinju Indonesia”, sebuah buka Finon Manullang, menulis untuk tinju]

Advertisement