Coretan Non-M: Sedih Tanpa Medali, Saatnya Menghapus Istilah Terbelah

FINON MANULLANG CORETAN 2024

Rondeaktual.com – Menghadapi Asian Games ke-20 di Jepang 2026, Indonesia mengirim lima petinju [dua putri dan tiga putra]. Tidak ada petinju Indonesia yang memenangkan pertandingannya, kecuali Maikhel Muskita, yang berhasil memperoleh satu kemenangan.

Muskita sempat membuka harapan, namun pada pertandingan keduanya kalah di tangan petinju Korea, Minseong Kim, dalam pertandingan 8 Besar [quarterfinal] di Nishio Gymnasium, Nagoya, Jepang, hari ini, Minggu, 27 September 2026.

Dari lima petinju Indonesia yang mengikuti AG-XX 2026, tidak ada yang menembus pertandingan semifinal. Tidak ada yang pulang membawa medali.

Advertisement

Sedih. Tetapi ini bukan harga mati. Tinju amatir kita masih bisa berbuat, asal semua orang berani menghapus istilah “terbelah”.

Perjalanan lima petinju Indonesia di AG-XX 2026

  • Nabila Maharani, kelas bantam putri. Pada hari Selasa, 22 September 2026, atau pada hari kedua pertandingan cabor tinju Asian Games, Maharani kalah di babak pertama. Menderita Referee Stops Contest [RSC] di tangan petinju Korea Utara, Pang Chol-mi. Wasit Gintaras Sniuksta [Lituani] menghentikan pertandingan pada ronde 2 yang sudah berjalan 48 detik.
  • Huswatun Hasanah, kelas welter ringan putri, kalah pada pertandingan pertamanya.Pada hari Kamis, 24 September 2026, Letda-K Huswatun Hasanah kandas di tangan petinju Iran, Sarina Naghsi.Hakim dari Alzajair dan Maroko [Athmen Lazizi dan Souilmi Moushine] memenangkan Hasanah. Tiga hakim lainnya dari Montenegro, Jepang, dan Serbia memenangkan petinju Iran. Apa boleh buat, meski Hanasah mencerak rekor tiga kali medali emas PON, tetapi ia gagal.
  • Jill Mandagi, kelas bantam putra, kalah di babak pertama. Pada pertandingan terusan [evening session 4] atau partai terakhir hari kedua, preliminaries men`s 55kg, kidal Mandagie harus mengakui keunggulan petinju muda Kirgizstan, Zafarbek Kamilov. Hakim asal Tunia, Sarra Bouhlel satu-satunya yang memenangkan Mandagie dengan 29-28. Empat hakim lainnya memenangkan Kamilov.
  • Asriudin Tapalaola, kelas ringan putra, kalah pada pertandingan pertamanya di tangan Daniyal Shahbakhsh [Iran]. Ini adalah partai miskin pengalaman internasional melawan petinju yang sudah sering bertanding di berbagai negara.
  • Maikhel Muskita, kelas berat ringan putra, sukses memenangkan pertandingan pertamanya melawan Kai Toriyabe [Jepang], Rabu, 23 September 2026 [Day 3 Evening Session 6].

Sayangnya, hari ini, Minggu, 27 September 2026, langkah Muskita berhenti menyusul kekalahan atas petinju Korea, Minseong Kim.

Hapus Istilah Tinju Amatir Terbelah

Apa penyebab kekalahan petinju Indonesia di Asian Games XX/2026?

Advertisement

Alasan paling dapat diterima adalah kalah pengalaman bertanding. Lawan petinju Indonesia adalah petinju yang sudah bertanding ke mana-mana sejak tingkat muda [junior], kemudian tingkat remaja [youth] dan diteruskan di tingkat dewasa [elite].

Beberapa petinju yang bertanding di Kejuaraan Asia U-23 di Gedung Basket Jakarta, Juli 2026, mewakili negaranya di Nishio Gymnasium, Nagoya.

Lantas apa yang akan terjadi setelah kegagalan petinju Indonesia di Asian Games XX/2026?

Advertisement

Rencana paling bagus sudah pasti evaluasi. Ini tidak bisa dilewati.

Lantas, apakah tinju amatir kita bisa kembali ke masa lalu dengan cara mendatangkan pelatih Jerman, Kuba, Kazakhstan, atau tetap mempertahankan pelatih asal Thailand yang sudah masuk tahun kedua? Perlu dipikirkan.

Atau, apakah tinju amatir kita berani menyerahkan sepenuhnya kepada pelatih Indonesia?

Advertisement

Bukankah pelatih tinju amatir yang bagus-bagus ada di hampir setiap provinsi? Masalahnya sulit bersatu. Selalu merasa paling hebat. Merasa paling berhasil mengantar petinju sampai juara.

Faktanya, di pelatnas masa lalu, para pelatih nasional kita bermusuhan. Saling tumbuk dari belakang. Saling diam tidak menyapa.

Atau barangkali –tetapi yang satu ini terserah saja—sudah waktu tinju amatir menghapus istilah “terbelah”.

Advertisement

Tinju amatir kita harus bisa lebih baik dari hari ini. Caranya, silakan duduk satu meja. Tidak boleh dengan hati marah. [Non-M adalah Finon Manullang, menulis untuk tinju]