Coretan Non-M: Petinju Indonesia yang Merebut Medali Asian Games

WIEM GOMMIES COVER

Rondeaktual.com – Menyebut Asian Games cabang olahraga tinju, penggemar pasti lebih cepat mengingat atau bahkan menyebut   nama Wiem Gommies.

Bisa jadi begitu. Sebab Wiem Gommies adalah yang terbesar. Beliau satu-satunya petinju Indonesia dengan tinta emas mencatat dua kali memenangkan medali emas kelas menengah Asian Games.

Emas Asian Games Wiem Gommies

Advertisement

  • Asian Games VI Bangkok 1970, Wiem merebut medali emas kelas menengah, setelah dalam final mengalahkan Arif Malik [Pakistan].
  • Asian Games VIII Bangkok 1978, Wiem merebut medali emas kelas menengah, setelah dalam final mengalahkan Jang Bong-mun [Korea Utara].

Petinju Indonesia yang merebut medali sepanjang Asian Games

Kelas terbang ringan

  • Hermensen Ballo [Nusa Tenggara Timur], merebut medali perunggu kelas terbang ringan Asian Games XII Hiroshima 1994. Dalam semifinal, Hermensen Ballo kalah di tangan petinju Filipina, Mansueto Velasco.

Kelas terbang

  • Idwan Anwar [DKI Jakarta], merebut medali perak kelas terbang Asian Games V Bangkok 1966. Dalam final, Idwan Anwar kalah melawan Son Young-chan [Korea].
  • Ferry Moniaga [DKI Jakarta], merebut medali perunggu kelas terbang Asian Games VI Bangkok 1970. Dalam semifinal, Ferry Moniaga kalah melawan Jee Yong-ju [Korea].
  • Johny Riberu [Bali], merebut medali perak kelas terbang Asian Games VIII Bangkok 1978. Dalam final, Johny Riberu kalah melawan Koki Ishii [Jepang].
  • Hermensen Ballo [Nusa Tenggara Timur], merebut medali perak kelas terbang Asian Games XIII Bangkok 1998. Dalam final, Hermensen Ballo kalah di tangan petinju Thailand, Pramuansak Phosuwan. Tiga tahun kemudian, Pramuansak memulai kerier tinju pro dan mengalahkan petinju Indonesia; Manahan Pasaribu, Eddy Permasugi, Anto Gores, Falazona Fidal, Julio De La Basez, Jemmy Godel, Noldi Manakane, dan Hendrik Barongsay. Pramuansak dua kali gagal merebut gelar dunia WBO kelas bantam yunior.

Kelas bantam

Advertisement

  • Frans Soplanit [DKI Jakarta], merebut medali perak kelas bantam Asian Games IV Jakarta 1962. Dalam final, Frans Soplanit kalah melawan Kiyoshi Tanabe [Jepang].
  • Idwan Anwar [DKI Jakarta], merebut medali perunggu kelas bantam Asian Games VI Bangkok 1970. Dalam semifinal, Idwan Anwar kalah melawan Ricardo Fontaleza [Filipina]. Pada Asian Games V Bangkok 1966, Idwan Anwar merebut medali perak kelas terbang.
  • Franky Mamuaya [Sulawesi Utara], merebut medali perunggu kelas bantam Asian Games XI Beijing 1990. Dalam semifinal, Franky Mamuaya kalah melawan petinju Filipina, Roberto Jalnaiz.
  • Sunan Amoragam [Maluku Utara], merebut medali perunggu kelas bantam Asian Games XVIII Jakarta 2018. Dalam semifinal, Sunan Amoragam kalah melawan Mirazizbek Mirzakhalilov [Uzbekistan]. Tiga tahun kemudian, Sunan Amoragam memilih tinju pro dan sudah tujuh kali naik ring.

Kelas bulu

  • Adrianus Taroreh [Sulawesi Utara], merebut medali perak kelas bulu Asian Games X Seoul 1986. Dalam final, Adrianus Taroreh kalah di tangan petinju tuan rumah Park Hyeong [Korea].
  • Nemo Bahari [Bali], merebut medali perunggu kelas bulu Asian Games XII Hiroshima 1994. Dalam semifinal, Nemo Bahari kalah melawan Somluck Kamsing [Thailand].

Kelas ringan

  • Jootje Waney [Sulawesi Utara], merebut medali perunggu kelas ringan Asian Games VI Bangkok 1970. Dalam semifinal, Jootje Waney kalah melawan Kim Yun-chi [Korea]. Putra Jootje Waney, yaitu Royke Waney adalah wasit tinju PON Papua 2021 dan PON Aceh-Sumatera Utara 2024.

Kelas welter ringan

Advertisement

  • Johny Bolang [DKI Jakarta], merebut medali perunggu kelas welter ringan Asian Games IV Jakarta 1962. Dalam semifinal, Johny Bolang kalah melawan Kim Deuk–bong [Korea].
  • Said Fidal [Sumatera Utara], merebut medali perak kelas welter ringan Asian Games V Bangkok 1966. Dalam final, Said Fidal kalah melawan Niyom Prasertsom [Thailand]. Dua putra Said Fidal –Khadafi Fidal dan Falazona Fidal—sempat dikenal sebagai petinju pro tangguh di Jakarta.
  • Willem Papilaya [DKI Jakarta], merebut medali perak kelas welter ringan Asian Games XIII Bangkok 1998. Dalam final, Willem Papilaya kalah di tangan petinju Uzbekistan, Muhammad Abdullaev.

Kelas welter

  • Frans van Bronckhorst [DKI Jakarta], merebut medali perunggu kelas welter Asian Games VII Teheran 1974. Dalam semifinal, Vrans van Bronckhorst kalah melawan Kim Ju-seok [Korea].

Kelas menengah ringan

  • Hendrik Simangunsong [Sumatera Utara], merebut medali perunggu kelas menenah ringan Asian Games XI Beijing 1990. Dalam semifinal, Hendrik Simangunsong kalah melawan Abrar Hussain [Pakistan].

WIEM GOMMIES CVS SALEH BASARAH BATAM 2001Para legenda tinju.

Advertisement

WIEM GOMMIES DESEMBER 2024

Kelas menengah

  • Alex Abast [DKI Jakarta], merebut medali perunggu kelas menengah Asian Games IV Jakarta 1962. Dalam semifinal, Alex Abast kalah melawan Kim Duk-pal [Korea].
  • Wiem Gommies [Maluku], merebut medali emas kelas menengah Asian Games VI Bangkok 1970. Dalam final, Wiem mengalahkan Arif Malik [Pakistan].
  • Wiem Gommies [Maluku], merebut medali emas kelas menengah Asian Games VIII Bangkok 1978. Dalam final, Wiem mengalahkan Jang Bong-mun [Korea Utara].

Pino Bahari merebut medali emas Asian Games Beijing 1990.

Advertisement

Kelas berat ringan

  • Paruhum Siregar [Sumatera Utara], merebut medali perak kelas berat ringan Asian Games IV Jakarta 1962. Dalam final, Paruhum Siregar kalah melawan Muhammad Safdar [Pakistan]. Empat putra Paruhum Siregar adalah petinju dan Liston Siregar salah satu yang menjadi raja kelas berat Indonesia.
  • Rudy Siregar [Sumatera Utara], merebut medali perunggu kelas berat ringan Asian Games VI Bangkok 1970. Dalam semifinal, Rudy Siregar kalah melawan Mamit Triarooniaks [Thailand]. Rudy Siregar adalah adik dari Paruhum Siregar. Di masa hidupnya Rudy Siregar [tulang atau paman Hendrik Simangunsong] dikenal sebagai petinju pro yang hebat di Jakarta dan merupakan raja kelas menengah Indonesia. Di hari-hari terakhirnya, Rudy Siregar menetap di Bogor, Jawa Barat.
  • Benny Maniani [Papua], merebut medali perunggu kelas berat ringan Asian Games VI Bangkok 1978. Dalam semifinal, Benny Maniani kalah melawan Iqbal Muhammad [Pakistan].

Non-M adalah Finon Manullang, menulis untuk tinju, pendiri Ronde Maret 2001.

Advertisement