Perjalanan Tinju Indonesia [35] – Pertandingan Terakhir Rahman Kilikili

CORETAN FINON MANULLANG JANUARI 2026

Rondeaktual.com – Penulis merasa bersyukur bisa meliput pertandingan terakhir seorang petinju berbakat besar, yaitu mantan juara Indonesia dua kelas (kelas bantam dan kelas bulu yunior) Rahman Kilikili Taliak.

Berdasarkan hasil timbang badan, Rahman bertanding di kelas bulu dan menang angka non gelar sepuluh ronde melawan Eddy Comaro, petinju asal Cilacap, yang mempersiapkan diri di Bulungan Boxing Camp Jakarta bersama pelatih Misiyanto alias Little Holmes.

Itulah merupakan pertandingan terakhir Rahman Kilikili, yang berlangsung di Gelora
Patra, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu, 5 Maret 2005.

Malam itu, dua wartawan dari Jakarta datang ke Balikpapan untuk meliput pertandingan; Finon Manullang [penulis sendiri] dan rekan reporter RRI Pusat, Firmansyah Gindo.

Kami dari Jakarta diundang oleh promotor Marthen Walewangko, yang juga mengundang Tarida Sastroamidjojo dan putranya Nino Benigno Bolang.

Kilikili-Comaro disusun sebagai partai terakhir, setelah partai Kejuaraan Indonesia kelas menengah yunior 12 ronde antara juara Elfn Marbun (Trans Boxing Camp DKI Jakarta) melawan penantang kuat Ade Alfons (Kamase Boxing Camp Jakarta). Marbun mengalahkan Alfons.

Advertisement

Marbun-Alfons bertukar pukulan. Itu pertandingan yang sangat kompetitif. Marbun lebih rajin
melepaskan jab-straight, mengantarnya pemenang sekaligus mempertahankan gelar. Alfons yang lebih matang di amatir entah mengapa menjadi malas melepaskan jab-straight.

Partai Terakhir Paling Puas Dilihat

Dalam coretan penulis, Kilikili-Comaro merupakan partai terakhir atau partai penutup malam tinju pro Balikpapan. Ini menjadi tontonan paling memuaskan pengunjung, yang berjumlah hanya sekitar 750 orang.

Tidak ada yang tahu bahwa malam tinju pro di Gelora Patra, Balikpapan, merupakan pertandingan terakhir bagi Rahman Kilikili. Orang-orang dekatnya, seperti pelatih Chris
Rotinsulu yang mendampinginya selama di Balikpapan, sudah mengetahui bahwa Kilikili sedang berusaha “sembuh” dari seluruh persoalan hidupnya. Kilikili sudah berjuang agar bisa menjauh dari barang haram itu.

Untuk “bersih” memang tidak mudah, tetapi setidaknya ada usaha untuk “bersih” itu sudah bagus. Keinginan untuk tidak menjamah barang itu lagi setidaknya telah diperlihatkan Kilikili dengan cara menjalani latihan yang keras dan sangat disiplin di Bina Taruna Boxing Camp, di Rumah Susun Pulomas, Jakarta Timur. Susun itu sekarang sudah diambrukkan dan berubah menjadi tempat mewah.

Advertisement

Sepanjang pertandingan 10 ronde, Kilikili tetap seperti Kilikili sebelumnya. Dia mampu memperlihatkan sisa-sisa kehebatannya. Gerak kaki (footwork) yang amat lincah dan enteng jelas adalah identitasnya yang kuat. Jab-straight masih cepat dan mendarat telak di tubuh lawan. Sudah merupakan tontonan yang enak dilihat.

Sementara, serangan tunggal Eddy Comaro yang sering datang tidak disangka-sangka, bisa dihindari Kilikili, kemudian terdengar suara tepuk tangan penonton. Mereka suka melihat gaya Rahman Kilikili, mantan petinju amatir dan penghuni pelatnas cukup lama.

Penulis tidak mencatat angka-angka yang diberikan para hakim, tetapi sempat melihat rekaputilasi yang diberikan Inspektur Pertandingan [IP] Eddy Pirih dari Surabaya sekaligus mewakili KTI Pusat.

Selama pertandingan, Eddy Comaro memberikan perlawanan dan memenangkan pertandingan setidaknya empat ronde. Sisa enam ronde menjadi milik Rahman Kilikili.

Menurut orang-orang tinju, tidak semua petinju Indonesia bisa bermain indah seperti Rahman Kilikili. Dia satu-satunya. Seharusnya sudah menjadi juara dunia, kalau tidak salah jalan.

Malam itu, Rahman Kilikili menjadi petinju favorit bagi penonton Balikpapan. Dia sangat dihormati di sana.

Advertisement

Rahman Kilikili adalah kelahiran Bitung, Sulawesi Utara, 15 Oktober 1974. Berusia 30 tahun di pertandingan terakhirnya. Kilikili pernah disebut-sebut sebagai petinju berbakat besar dan
calon juara dunia. Jika dia sudah berada di atas ring, penonton tidak hanya terhibur, tetapi dibuat kagum. Gaya bertinjunya –menyerang dan menghindari pukulan—seringkali mendatangkan rasa bangga. Dia memiliki talenta yang hebat. Tidak berlebihan, bahwa dia tidak tersamai sampai sekarang.

Sayang sekali, di tengah jalan Rahman Kilikili gagal mengalahkan dirinya sendiri. Dia tidak bisa mengalahkan ”seribu masalah”, yang membuatnya harus berhadapan dengan hukum dan dia kalah.

Kesembuhan yang telah diraihnya seperti terlihat ketika mengalahkan Eddy Comaro di Balipapan, ternyata bukanlah kesembuhan sejati. Kumat lagi dan bermasalah lagi sampai akhirnya datang berita buruk yang sangat menggemparkan dunia olahraga Indonesia atas kepergiannya dengan cara yang tidak biasa; bunuh diri.

Orang pertama yang mengabarkan berita duka atas kepergian Rahman Kiliki adalah Redaktur Olahraga Koran Tempo, Yon Moeis. “Non, Rahman Kilikili sudah tidak ada,” kata Yon Moeis, ketika itu.

Keterangan Usman Tess, Paman Rahman Kilikili

Hampir dua tahun setelah mengalahkan Eddy Comaro, Rahman Kilikili memilih jalan lain. Ia ditemukan tewas gantung diri di rumah pamannya, yaitu seorang mantan petinju bernama Usman Tess, yang tinggal di Kawasan Lorong Haji Anam RT 54 Nomor 913, Talangbetutu, Palembang, Sumatera Selatan.

Advertisement

Rahman Kilikili menghabisi hidupnya pada hari Kamis pagi, 22 Februari 2007. Jenazah Rahman Kilikili pertama kali ditemukan oleh Nani, bibi Kilikili saat hendak memandikan kedua anaknya sekitar pukul 06.00 pagi. Kilikili menggantungkan dirinya di tiang pintu dapur dengan kain.

Menjelang buku “Perjalanan Tinju Indonesia” terbit, Usman Tess, sang paman, menjelaskan bahwa ayah Rahman Kilikili bernama Eddy Kilikili Taliak, asal Maluku. Ibu Kilikili bernama Sari Tess, asal Bitung, Sulawesi Utara. Sari Tess adalah adik perempuan Usman Tess.

“Tak sangka akhir hidup Rahman seperti itu. Tak ada tanda-tanda atau firasat buruk. Kejadian itu sangat tragis. Tak terbayangkan. Kami semua terkejut,” kata Usman Tess, yang menjadi pelatih tinju amatir untuk Pertina Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir. [Dikutip dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia”. Finon Manulang menulis untuk tinju]