Perjalanan Tinju Indonesia [34] – Lipstick Pembawa Papan Ronde Tertinggal

BUKU 34

Rondeaktual.com – Kalau mau mencari hiburan pergilah ke Karawang. Kalau mau selingkuh bermainlah dengan cantik. Menjaga rahasia itu sangat penting.

Penulis pernah lima kali ke sana untuk tujuan meliput tinju amatir dan pertandingan tinju profesional era Gelar Tinju Profesional Indosiar atau sering disebut GTPI.

Karawang adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Barat, yang terjepit di antara Kabupaten Bekasi dengan Kabupaten Subang. Karawang tidak jauh kalau diukur dari domisili penulis sekarang.

Advertisement

Kunjungan pertama hingga kunjungan ketiga lupakan saja. Datanya sudah terhapus.

Kunjungan keempat terjadi pada hari Sabtu, tanggal 1 April 1989, meliput Kejuaraan Indonesia kelas bulu yunior 12 ronde yang sangat dramatis antara juara Robby Rahangmetan (Pirih Surabaya) melawan penantang Boy Kelung (Benteng AMI/ASMI Jakarta). Sejak
bel pertama terdengar, kedua petinju langsung menyerang. In fght sepanjang ronde membuat tontonan sangat disukai. Banyak yang bersorak karena menang taruhan.

Boy Kelung, salah satu penantang tangguh dan paling berani menjalankan intruksi “jual-beli” pukulan, jatuh-bangun setiap ronde. Dia memang seorang dagu kaca. Sedikit saja rahangnya kena sambar pukulan lawan, maka tubuhnya dengan tiba-tiba sudah di atas kanvas ring. Robby memenangkan pertandingan melalui TKO pada ronde keempat, yang dihentikan wasit setelah Boy Kelung tiga kali terjatuh pada ronde keempat.

Advertisement

Kunjungan kelima, Jumat, 27 Juli 2001. Karawang cerah. Partai yang menyita perhatian penonton adalah Chris John menghadapi Thongchai Treeviset (Thailand), kelas bulu 10 ronde.
Dua jam sebelum Chris John naik ring, penulis sudah di sana dan berdebat dengan penonton yang menjagokan Chris John. Orang itu lancar sekali bicara dan sepertinya sok tahu. Penasaran dibuatnya kemudian bertanya kepadanya.

“Siapa nama?” tanya penulis.

“Asep.”

Advertisement

“Kang Asep petinju?”

“Tidak. Saya tarkam [pemain sepak bola antar kampung]. Kalau ada pertandingan sepakbola kampung, saya pasti diajak. Saya penyerang.” Rupa atlet sepak bola. Bangga sekali bicaranya.

“Chris John menang KO atau angka?” Penulis penasaran sehingga ingin tahu sedalam apa ilmu Kang Asep tentang tinju.

Advertisement

“Kalau KO kayaknya tidak,” jawabnya. “Petinju Thailand rata-rata badak. Tahan pukul. Paling angka untuk Chris John.”

Ternyata prediksi Kang Asep tidak meleset. Serangan Chris John yang bertubui-tubi, jab-straight maupun upper cut, tidak menghasilkan KO.

Pada ronde terakhir, Chris John seakan berambisi untuk menjatuhkan lawan. Pukulan kanannya hampir saja nyangkut di rahang. Thongchai Treeviset, petinju Thailand yang juga bernama Kongthawat Sor Kitti, bukan petinju yang gampang dirobohkan. Dia memberikan perlawanan ketat dan berani. Meski tubuhnya sempat terlempar ke tali ring, Sor Kitti mampu bertahan sampai habis ronde dan dia kalah angka dalam permainan kelas bulu sepuluh ronde. Penonton Karawang puas. Penulis lupa bertanya; apakah Kang Asep menang taruhan?

Advertisement

Lipstick Roundgirls Karawang Tertinggal di Dalam Mobil Sekolah

Seminggu setelah pertandingan di Stadion Singaperbangsa Karawang, heboh. Tidak tentang kemenangan Chris John, melainkan tentang lipstick roundgirls Karawang, yang tertinggal di dalam mobil sekolah milik teman penulis di daerah Tomang, Grogol, Petamburan, Jakarta Pusat. Istri teman marah-marah. Setengah over acting. Dia meletakkan secangkir kopi panas di atas meja makan. Di samping cangkir ada lipstick merah tua. Lipstick itu sepintas kelas minimarket. Istri teman itu yang meletakkannya.

Tidak mengerti dan bingung. Apa kolerasi kopi dengan lipstick?

“Tuuuh ambil,” nada istri tuan rumah. Cara bicaranya mulai tidak sedap. “Lipstick murah. Punya selingkuhanmu.” Istri teman itu langsung pergi ke dapur, setelah meletakkan lipstick persis di depan secangkir kopi.

Penulis dipaksa berpikir sendiri dan tidak menemukan apa-apa sampai akhirnya tuan rumah yang teman penulis dan seorang manajer tinju, datang dan duduk sambil mengisap rokok.

Advertisement

“Jangan diambil hati,” ujarnya, bermaksud menetralisir suasana. “Perempuan memang begitu. Cemburunya seember. Itu punya Inem (bukan nama sebenarnya). Ketinggalan di mobil. Pagi-pagi pas antar anak sekolah ketahuan.”

Hmmm! Penulis mengerti sekarang. Ternyata lipstick Inem, si pembawa papan ronde yang besar dan bohai itu, tertinggal di jok belakang.

Inem adalah salah satu roundgirls favorit, yang ikut menyaksikan pertandingan tinju di Stadion Singaperbangsa Karawang. Inem selingkuhan teman kami. Teman kami itu profesinya setiap hari mengurus pertandingan tinju.

Pada malam pertandingan tinju di Karawang, teman kami mendadak tidak bisa bersama Inem. Padahal, dia sudah janjian hendak “berlayar” satu-dua ronde sampai kandas. Dia mendadak harus mendampingi mitra bisnisnya. Kasihan Inem ditinggal begitu saja. Tidak ada kompensasi. Tega-teganya tidak kasih ongkos pulang.

Pada era itu memang sedang ramai-ramainya para insan tinju [mulai dari petinju, pelatih, manajer, pembina, promotor, ofisial ring] mengejar-ngejar pada pembawa papan ronde. Kepentingannya macam-macam. Ada yang serius untuk dijadikan istri. Ada pula yang iseng-iseng supaya tidak bosan di rumah terus, diurus sebagai selingkuhan.

Advertisement

Lantaran kasihan melihat Inem dan dia adalah selingkuhan teman sendiri, mau tidak mau kami terpaksa mengantar Inem sampai di ujung gang rumahnya, di Desa Pengasinan, Jawa Barat. [Dikutip dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia”, halaman 92 dan 93, Finon Manullang, menulis untuk tinju]