Rondeaktual.com – Husni Ray adalah seorang mantan petinju amatir, pemegang medali perunggu PON 1985, sekarang pelatih di “perkampungan tinju” Desa Parigi Mekar. Pada masa mudanya, Husni Ray bertanding sampai 12 ronde untuk kejuaraan dunia WBO di Senayan, Jakarta. Kalah angka.
Data Kejuaraan Dunia WBO
- Kejuaraan Dunia WBO 12 Ronde,Strawweight atau sama dengan kelas terbang mini 47.627 kilogram.
- Juara: Rafael Torres (Republik Dominika). Lahir di Santiago de los Caballeros, 17 April 1964. Usia 26 tahun. Rekor 10-0-0. Bertinju southpaw. Bayaran US$ 50.000, atau lebih Rp 90 juta, ketika itu.
- Penantang: Husni Ray (Benteng AMI/ASMI Jakarta, Indonesia). Lahir di Jakarta, 9 Mei 1963. Usia 27 tahun. Rekor 16-1. Bertinju orthodox. Bayaran US$ 5.000, atau lebih Rp 9 juta, ketika itu.
- Tempat: Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
- Waktu: Hari Selasa, 31 Juli 1990.
- Siaran: TVRI, pukul 22.30 WIB, langsung secara nasional.
- Harga tiket termahal Rp 100 ribu. Kelas menengah Rp 50 ribu. Kelas Ekonomi Rp 25 ribu. Tiket termurah Rp 10 ribu.
- Penonton: Sekitar 2.500.
- Promotor: Tourino Tidar dari TT Promotion Tanah Abang, Jakarta.
- Boxing announcer: Oloan Sitompul.
- Supervisor: Nick Kerasiotis (Amerika Serikat).
- Wasit: Marino Soto (Amerika Serikat).
- Hakim A: Mike Glienna (Amerika Serikat) memberikan nilai 118-112 untuk Torres.
- Hakim B: Gordon Volkman (Puerto Rico) 114-115 untuk Husni Ray.
- Hakim C: Aaron Kizer (Amerika Serikat) 115-114 untuk Torres.
- Hasil resmi: Split decision, Torres mempertahankan gelar juara dunia WBO kelas terbang mini yang pertama. Torres merebut gelar lowong melalui kemenangan angka 12 ronde atas Yamil Caraballo (Kolombia) di Santo Domingo, 30 Agustus 1989.
Sejarah WBO dan Husni Ray
Organisasi Tinju Dunia (WBO) adalah badan tinju dunia keempat, setelah yang tertua Persatuan Tinju Dunia (WBA), Dewan Tinju Dunia (WBC), Federasi Tinju Internasional (IBF).
Sejarah kejuaraan dunia World Boxing Organization (WBO) di Indonesia dimulai dari Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada hari Selasa, 31 Juli 1990.
Baca Juga
Advertisement
Promotor Tourino Tidar mendatangkan juara dunia WBO kelas terbang mini Rafael Torres, asal Republik Dominika, salah satu negara terkecil di dunia.
Torres bertarung 12 ronde dan menang angka melawan penantang Husni Ray (Benteng AMI/ASMI Jakarta, Indonesia).
Di atas ring, Torres pandai mengatur jarak sekaligus mematahkan semua serangan lawan. Torres seorang southpaw. Sementara, Husni Ray tidak terbiasa bertanding melawan petinju kidal.
Baca Juga
Advertisement
Kekalahan Husni bukan soal teknik atau nyali melainkan stamina. Husni tidak siap untuk pertarungan besar kejuaraan dunia WBO 12 ronde.
Apa penyebabnya? Ternyata, boleh percaya boleh tidak, Husni lemas karena masih dalam suasana pengantin baru. Dua pekan menjelang pertandingan, Husni menikah pujaan hatinya di Cilandak, Jakarta Selatan.
Padahal, peluang menang di dalam negeri sendiri sangat besar. Apalagi, Husni mencetak rekor tujuh kali berturut-turut memenangkan Kejuaraan Indonesia.
Baca Juga
Advertisement
Husni merebut gelar juara Indonesia yang lowong di Senayan, 24 Maret 1989, setelah menang angka 12 ronde atas Bagio (Caruban Cirebon). Husni Ray mempertahankan gelarnya melawan Tommy Sumawa (Gajayana Malang), John Ireng (Rajawali Lumajang), Budi (Jakarta), Arifin (Rajawali Surabaya), Eko Prasetyo (Satria Perkasa Surabaya), Ibrahim Sasoleh (Cempakaputih Jakarta), Said Iskandar (Nusantara Jakarta), dan Harnold Lontoh (Manado).
Sayang, lutut Husni bergetar. Kelincahan tangan dan kaki (foot work) tidak terlihat. Sampai ronde kelima, Husni masih bisa mengimbangi lawan. Jab-straight lepas mengenai muka Torres dan mengundang sorak-sorai penonton.
Pada ronde ketujuh, tiba-tiba wasit Marino Soto menghentikan pertandingan. Semua terkejut. Rupanya, Husni terluka dan berdarah, yang membuat mental bertanding mulai drop. Dokter memeriksa luka parah pada bagian alis kanan Husni Ray, sarjana muda AMI/ASMI Jakarta.
Baca Juga
Advertisement
Oke, luka tidak masalah. Dokter pertandingan membuka jalan bagi Husni untuk meneruskan perjuangannya.
Pada ronde kedelapan, Husni Ray dipaksa bertarung dengan wajah penuh darah, yang menetes dari luka di bagian alis kanan.
Pada saat interval ronde, sekondan berusaha menghambat darah. Tapi mungkin kurang pengalaman mengatasi luka saat bertanding. Vaselin yang menutupi luka tak mampu menahan tetesan darah.
Baca Juga
Advertisement
Sedih melihatnya. Husni Ray, kelahiran Betawi, 9 Mei 1963, tetap bertanding. Pantang menyerah. Ia masih sanggup berdiri dan melepaskan serangan sporadis. Memasuki ronde kesembilan, Husni Ray mencoba membangun semangatnya yang hilang. Melepaskan jab-straight sehingga membuka harapan. Husni masih terlihat berani di sisa-sisa perlawanannya sampai habis ronde. Husni Ray kalah angka dan itu terhormat.
Bertemu di Pelantikan Pengprov Pertina DKI
Hampir 33 tahun kemudian, penulis bertemu Husni Ray di dalam ring saat pelantikan Pengprov Pertina DKI Jakarta di Aula Perbakin, Senayan, Jakarta, Sabtu, 5 Februari 2022.
Penulis langsung saja bicara begini: “Dulu Bang Husni main kejuaraan dunia di Senayan terlihat lemas. Dengkul seperti bergetar.”
Baca Juga
Advertisement
“Haaaaa, itu ada rahasianya,” kata Husni Ray, menatap wajah penulis. “Waktu itu saya baru menikah. Pacar saya memaksa. Saya bentak, apa-apaan kamu. Saya tidak pernah “nyolek” kamu, mengapa memaksa saya. Eh dia malah menangis. Ternyata dia takut ditinggal kalau saya sampai juara dunia. Dulu temannya sudah tunangan, pas juara dunia ditinggal. Pacar saya itu takut saya tinggalin kalau saya menjadi juara dunia. Makanya dia cepat-cepat minta dinikahi, ha ha ha, jadi bongkar rahasia sendiri.” (Dikutip dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia”, Finon Manullang)