Coretan Non-M: Shields Membutuhkan KO

CORETAN FINON MANULLANG JANUARI 2026

Rondeaktual.com – Tidak ada yang diragukan pada diri Claressa Shields [Amerika Serikat], saat maju menantang juara dunia WBA dan WBC kelas menengah Kaye Scott [Australia]. Ini untuk 10 ronde durasi 2 menit, di State Farm Arena di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Sabtu malam, 15 Agustus 2026, atau Minggu pagi WIB. Siap-siap siapa yang jatuh.

Shields membutuhkan KO untuk mendongkrak popularitasnya. Dia hebat tetapi jarang mencetak KO.

Minggu WIB, ia akan naik ring sebagai penantang, tetapi merupakan favorit kuat untuk mengakhiri dominasi Scott di kelas menengah. Sementara, Scott, meski status juara, dia datang sebagai underdog. Hampir tidak ada yang mengunggulkan Scott kecuali dirinya dan tim, dengan kepercayaan yang begitu hebat untuk menang.

Advertisement

SHIELDS TOPI MERAH SEKALI

SCOTT PENUH OTOT

Shields [atas] dan Scott [bawah]. Bertanding untuk 10 ronde durasi 2 menit di Atlanta, Minggu WIB. [Tangkapan layar]

Mengapa Shields Favorit dan Scott Underdog?

Shields menjadi favorit besar lantaran dia masih 31 tahun dan Scott 42 tahun. Ini adalah pertandingan beda usia. Shields lebih muda 11 tahun. Namun, umur bukan kunci penentu kemenangan. Dalam tinju wanita, umur 40-an banyak yang bisa merebut gelar juara dunia. Scott bukan satu-satunya juara dunia usia 42.

Advertisement

Shields belum terkalahkan dengan rekor panjang 18-0-0 [3 menang KO]. Scott menang-kalah-seri 5-1-1 [tanpa KO]. Pengalaman tanding profesional Shields jauh di atas Scott.

Di amatir, Shields belum pernah kalah. Dia merebut medali emas kelas menengah Olimpiade London 2012 dan diulanginya dengan merebut medali emas kelas menengah Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Selian dua emas olimpiade, Shields juga merebut 16 medali emas dari berbagai kejuaraan, yang dimulainya dari tingkat remaja [youth] hingga dewasa [elite] dari Kejuaraan Dunia, Pan Amerika, Kejurnas AS. Apa yang sudah diperoleh Shields di tinju amatir, tidak pernah kita temukan pada petinju amatir lain, termasuk legenda Irlandia, Katie Taylor, yang meraih medali emas kelas ringan Olimpiade London 2012 dan sekarang juara dunia undisputed kelas welter yunior.

Advertisement

Di amatir, Scott tidaklah kosong-kosong amat. Ia merebut medali perak kelas berat ringan Kejuaraan Dunia di Astana tahun 2016 dan medali perak kelas menengah Kejuaraan Dunia di New Delhi tahun 2023.

Di tinju pro, Scott membuat sejarah menjadi juara Australia pada pertandinagn pertamanya. Sementara, Shields membutuhkan dua pertandingan untuk merebut gelar profesional, yaitu sabuk regional kelas menengah.

Data berikut ini boleh dicatat; Shields sudah membuat rekor 15 kali memenangkan kejuaraan dunia. Tanpa pernah kalah. Scott baru tiga kali mengikuti kejuaraan dunia dengan hasil menang-kalah-seri 1-1-1. Meski baru tiga kali mengikuti kejuaraan dunia, ini adalah prestasi.

Advertisement

Dari tiga kejuaraan dunia, Scott kalah mutlak [unanimous decision] sepuluh ronde melawan Desley Robinson, untuk gelar kosong IBF kelas menengah. Scott seri tanpa pemenang melawan Olivia Cury untuk gelar kosong WBA dan WBA. Dalam tanding ulang di Fox Theater, Detroit, Michigan, Scott mengalahkan Cury dan menjadi juara dunia WBA dan WBC kelas menengah.

Belum sempat menikmati masa juaranya, Scott sudah harus berhadapan dengan petiju wanita nomor satu dunia, Claressa Shields.

Lonceng tanpa mulai pertandingan memang belum terdengar. Tetapi sebagai juara, Scott seharusnya dapat mencari lawan “di bawah” bukan menerima lawan “di atas”.

Advertisement

Itulah tinju pro. Uang sangat menentukan. Memilih lawan bayaran kecil. Menghadapi Shields, bisa mungkin Scott dibayar mahal.

Tidak ada yang salah ketika orang-orang –termasuk penulis—menyebut Scott datang ke tanah Amerika sebagai underdog. Dia petinju yang tidak diunggulkan. Dia memerlukan kerja keras untuk membuat sejarah sebagai orang pertama yang mematahkan langkah Shields.

Kemenangan atas Shields begitu penting bagi hidup Scott. Pertama, ia akan pulang dengan tengadah saat menuruni tangga pesawat. Kedua, ini yang paling penting, nama Scott akan tercatat dalam sejarah tinju sebagai orang pertama yang bisa mengalahkan Shields, yang menjuluki dirinya sendiri sebagai GWOAT [Greatest Women of All Time, atau wanita terhebat sepanjang masa].

Advertisement

Bila Scott mengalahkan Shields, tinju Australia akan mencatat sejarah baru. Bila Shields mengalahkan Scott misalnya, sepertinya biasa-biasa saja. Tidak ada yang fantastis. Sebab Shields sudah pernah menyandang gelar juara dunia kelas menengah. Bahkan menjadi juara dunia undisputed.

Shields adalah juara dunia di lima kelas berbeda, yang dimulainya dari kelas menengah super, turun ke kelas menengah, turun lagi ke kelas menengah yunior, naik ke kelas berat ringan, dan kelas berat.

Shield telah memotong perlawanan sejumlah nama besar seperti: Franchon Crews-Dezur [Amerika Serikat, dua kali], Savannah Marshall [Inggris], Ivana Habazin [Kroasia], Christina Hammer [Jerman kelahiran Kazakhstan], Hanna Gabriels [Argentina], Lani Daniels [Selandia Baru].

Advertisement

Kurang apalagi? Juara lima kelas sudah diraihnya dan ini sudah mentok. Shields mengambil laga kelas menengah ini karena ia menjadi petinju wanita pertama yang tampil sebagai partai utama [main event] di State Farm Arena di Atlanta.

Shields memang suka membuat sejarah, termasuk mendobrak bayaran petinju wanita menjadi tujuh digit. Kemenangan Shields atas Scott sangat ditunggu penggemar. Kalau bisa jangan unanimous decision lagi. Harus KO atau TKO, atau paling tidak membuat lawan terjatuh [knock down].

Shields sangat favorit untuk memenangkan pertandingan hari Minggu WIB. Tetapi, bila Scott mampu membalikan prediksi dengan mengalahkan Shields, maka para penulis tinju dunia akan termotivasi untuk membuat cerita yang luar biasa tentang perjalanan Scott ke Amerika.

Advertisement

Non-M adalah Finon Manullang, menulis untuk tinju.