Perjalanan Tinju Indonesia [32] – Anis Roga Terluka dan Gagal Juara Dunia

ANIS ROGA COVER

Rondeaktual.com – Malam itu, 30 Agustus 1997, hampir semua penonton tidak mengerti apa yang terjadi ketika wasit Ray Wheatley (Australia) tiba-tiba saja menghentikan pertandingan pada ronde kesembilan antara Anis Roga (Akas Probolinggo, Indonesia) dengan Manuel Jesus Herrera (Republik Dominika).

Itu merupakan kejuaraan dunia IBF kelas terbang yunior (light flyweight) gelar yang sedang kosong. Tidak ada juara. Roga dan Herrera sama-sama masuk ke dalam ring sebagai penantang.

Kejuaraan dunia merupakan karya promotor A Seng Herry Sugiarto, yang berlangsung di GOR Kertajaya, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu, 30 Agustus 1997.

Dalam aturan IBF, jika pertandingan dihentikan di atas ronde enam akibat luka parah sehingga petinju tidak dapat meneruskan pertandingan, maka keputusannya technical knock out (TKO) jika luka dianggap akibat pukulan sah, atau hitung angka sampai ronde sebelum pertandingan dihentikan.

Ketika wasit Wheatley menghentikan pertandingan pada ronde kesembilan, maka yang dinilai sampai ronde kedelapan.

Advertisement

Nilai 3 Hakim

  • Pascual Ingusan (Filipina) 76-76.
  • Jacob Limahelu (Indonesia) 76-76.
  • Bunruang Thakamfoo (Thailand) 76- 76.

Keputusan tersebut diumumkan setelah terjadi debat panjang di dalam ring. Menghabiskan waktu cukup lama, hampir satu jam. Tanya sana tanya sini. Tawar-menawar. Tidak biasanya begitu.

Supervisor Robert Lee Junior dari Amerika Serikat dan seorang hakim tinju dari Indonesia, sampai naik ke atas ring untuk membahas masalah keputusan apa yang harus diambil. Wasit dan dokter pertandingan juga saling bertukar kata-kata. Tida ada yang bisa memastikan luka akibat benturan atau pukulan.

Advertisement

Pemandangan seperti itu tidak boleh terjadi. Tidak pernah ada hakim yang sedang bertugas sampai naik ke atas ring. Dia seharusnya duduk sopan di area ofisial ring. Tidak boleh intervensi, apalagi terlalu jauh.

Sementara, ketika keputusan belum diumumkan, kubu Herrera sudah meninggalkan arena pertandingan. Herrera harus diselamatkan karena darah terus menetes. Kalah atau menang, bagi mereka, tidak penting-penting amat. Keselamatan jauh lebih penting.

Setelah diumumkan 76-76 tiga kali dengan hasil seri tanpa pemenang, supervisor Robert Lee Jr didampingi seorang panitia yang sepertinya mengerti berbahasa Inggris, bisa-bisanya mendatangi kubu Anis Roga di sudut merah.

Advertisement

Sambil memegang kertas rekapitulasi, Robert Lee menjelaskan kepada kubu Anis Roga tentang angka yang diberikan tiga hakim. Segitu hebohnya. Cara seperti itu seharusnya tidak boleh terjadi. Seorang supervisor yang bertanggung jawab atas semua kejadian selama pertandingan, seharusnya bisa tegas. Tidak boleh takut atau merasa punya utang kepada promotor.

Berawal dari Rangkulan Ronde 9

Semua kejadian bermula dari rangkulan pada ronde kesembilan. Herrera mencoba memisahkan diri dengan cara menarik tangannya yang terjepit di tangan Anis Roga. Sebelum Herrera menjauh, Roga melepaskan upper cut kiri luput dan akhirnya dia sendiri terjatuh. Herrera mundur dan menghapus darah dari alis kanannya. Roga berdiri lalu menempelkan tangan kanannya ke bagian kepala yang terluka.

Wasit melihat darah kemudian membawa petinju ke sudut netral. Dokter Eddy Herman menghapus darah dari alis Anis Roga yang robek. Herrera juga terluka. Bahkan lebih parah. Pertandingan tidak bisa diteruskan, yang menyisahkan satu menit dan 36 detik ronde kesembilan.

Advertisement

Dari sembilan ronde, ronde kedelapan merupakan ronde terbaik. Herrera bermain cepat dan tepat. Roga mengirim dua pukulan tidak telak. Herrera membalas delapan pukulan tanpa balas. Jab-jab-jab, tiga kali beruntun dan enak dilihat. Penonton kagum dan harus mengakui bahwa dalam tinju jab sangat penting untuk merusak pikiran lawan. Herrera terus bergerak membuat Anis Roga kehilangan tempo untuk melepaskan pukulan. Tiba-tiba Herrera terjatuh akibat air terlalu banyak tumpah di atas kanvas saat interval ronde. Roga langsung melepaskan dua pukulan. Karena dianggap pelanggaran –memukul lawan yang sudah jatuh—wasit menggingatkan Roga, tetapi belum sampai tingkat tertinggi, yaitu “warning” atau pengurangan poin. Ronde kedelapan juga merupakan ronde yang sangat mengkhawatirkan, setelah terjadi benturan yang membuat petinju Indonesia terluka.

Pada akhirnya, luka benturan itulah yang menghapus impian Anis Roga menjadi juara dunia di hadapan penggemarnya sendiri. Kesempatan untuk menjadi juara dunia hilang.

Hasil Partai Tambahan

  • Kelas minimum 12 ronde: Faisol Akbar (Akas Probolinggo, Indonesia) mengalahkan On Doowise Wandee Chor Chareon Singwancha (Thailand). Faisol merebut sabuk International Boxing Federation (IBF) Inter-Continental. Sebelumnya di Bangplee Regional Stadium, Samut Prakan, Thailand, 19 Oktober 1996, Chareon Singwancha mengalahkan Faisol dengan angka dalam pertandingan non gelar 8 ronde.
  • Kelas bantam 12 ronde: Andrian Kaspara (Pirih Surabaya, Indonesia) menang TKO ronde kelima atas Maxim Puganchev. Andrian merebut sabuk International Boxing Federation (IBF) Inter-Continental. Puganchev adakah petinju asal Saint Petersburg, Rusia.. [Dikutip dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia”, Finon Manullang, menulis untuk tinju].

Advertisement