Rondeaktual.com – Berikut adalah bagian dari kisah liputan tinju yang menarik, meski tidak melibatkan nama besar dalam olahraga tinju. Popularitas petinju yang bertanding biasa-biasa saja.
Bagi keluarga tinju pro Jawa Timur setidaknya pernah mendengar nama Hasanuddin Hasibe, seorang southpaw asal Sulawesi Tenggara yang berlatih tinju di Sasana Pirih Surabaya. Sedangkan Steven Togelang [asal Sangir berlatih di sasana tinju favorit Benteng AMI/ASMI Jakarta], adalah pemegang medali emas kelas bantam Kejurnas Bali 1990, yang kemudian turun sebagai petinju pro dan juara.
Pada masa itu, penulis terikat kerja sebagai wartawan harian pagi di Surabaya [Kompas Gramedia Grup]. Pada masa itu adalah masa emas bagi perusahaan pers. Koran laku keras dan untung besar. Karyawan mencapai ratusan orang. Itu luar biasa dan tidak akan terulang lagi. Era emas bisnis koran sudah selesai.
Baca Juga
Advertisement
Penulis mengambil perjalanan menuju Bekasi dengan menggunakan fasilitas Dinas Luar Kota [DLK]. Seluruh okomodasi termasuk uang saku untuk tiga hari kerja, penulis peroleh dari Sekretaris Redaksi, sehari menjelang keberangkatan bus malam dari Jalan Arjuna, Surabaya.
Pagi-pagi buta sudah tiba di Pulogadung, Jakarta Timur. Ini adalah terminal terbesar terlengkap di Indonesia, bahkan Asia. Suasana terminal masih gelap dan setengah bau busuk. Orang-orang di sana suka berdiri buang air kecil di sekitar ban bus yang parkir.
Seorang Ibu asal Dolok Sanggul jual kopi versi asongan mengingatkan kudu hati-hati. Konon di sana ada ribuan copet operasional sepanjang hari. Silap sikit dompet bisa pindah tangan.
Baca Juga
Advertisement
Tentang copet, sebetulnya tidak hanya di Pulogadung. Di mana-mana mereka berkelompok menjarah penumpang yang lengah. Copet merajalela. Dengan seribu modus atau pura-pura kena serangan stroke, copet beroperasi di atas angkutan kota dan angkutan pedesaan.
Di masa muda, penulis sempat sebelas tahun bekerja di Surabaya [lima tahun menangani Redaksional Majalah Tinju Indonesia dan enam tahun untuk koran nasional].
Kerja di koran paling enak. Penulis merasa seperti “anak emas”. Selalu mendapat kemudahan dari Redaktur Olahraga. Pertandingan yang hanya kejuaraan Indonesia saja, oleh kantor diizinkan untuk diliput, yang 100% menggunakan uang perusahaan.
Baca Juga
Advertisement
Itulah enaknya menjadi wartawan pada era 80-an. Berita tinju Indonesia laku dan menjadi prioritas utama setelah sepak bola. Penulis pergi ke mana-mana meliput pertandingan tinju. Tidak pernah ditolak. Melangkah sambil bersiul-siul karena sudah pasti mengantongi uang DLK.
Di GOR Kota Bekasi, Sabtu malam, 19 September 1992, promotor Tourino Tidar menggelar dua partai kejuaraan Indonesia. Lonceng pertama baru terdengar setelah pukul delapan malam, yang seharusnya pukul tujuh.
Tinju pro memang begitu. Tidak disiplin. Beda dengan tinju amatir, taat waktu dan tidak ada pertandingan setelah pukul sepuluh malam. Bahkan sekarang tinju amatir sudah buka pukul dua siang dan ini berlaku sama di seluruh dunia. Tinju pro bisa selesai hingga dini hari. Parah.
Baca Juga
Advertisement
Ketika Hasanuddin Hasibe dan Steven Togelang bertanding di GOR Kota Bekasi, ribut antarsuporter tak terhindarkan.
Malam itu, Steven Togelang [Benteng AMI/ASMI Jakarta] mengalahkan juara Indonesia kelas bantam, southpaw Hasanuddin Hasibe [Pirih Surabaya].
Penonton hampir saja baku tumbuk, antara Novi Lolowang dari kubu Steven Togelang dengan Butje Kojongian dari kubu Hasanuddin Hasibe. Novi Lolowang tidak suka dengan cara Butje Kojongian teriak-teriak karena petinjunya kalah. Ada tudingan wasit bermain curang. Condong untuk Steven Togelang. Beberapa orang memisahkan mereka. Tetapi, sampai meninggalkan pintu gedung, kedua orang itu masih mengomel. Saling menyalahkan.
Baca Juga
Advertisement
Di pertandingan ini, Hasanuddin Hasibe sebagai juara dibayar Rp 2,5 juta oleh promotor Tourino Tidar. Penantang Steven Togelang dibayar Rp 1,5 juta.
Di tahun itu, seorang juara sudah dihargai segitu. Sekarang, seorang juara paling murah sepuluh juta.
Promotor Tourino Tidar memberlakukan standarisasi dengan membayar juara baru Rp 2.500.000. Jika dia mempertahankan gelarnya, maka bayarannya menjadi Rp 3.000.000, atau naik Rp 500.000, dan begitu seterusnya.
Baca Juga
Advertisement
Partai lain, kejuaraan Indonesia kelas bantam yunior 12 ronde, juara Tarman Sutarman [Pirih Surabaya] mengalahkan Laurens Fongo [Gembronx Jakarta]. Tarman menerima Rp 2,5 juta. Laurens Rp 1,5 juta.
Jumpa Laurens Fongo di NTT
Lebih 29 tahun kemudian, atau pada hari Minggu, 7 November 2021, penulis bertemu Laurens Fongo di pinggir ring, Lapangan Boibalan, Amanuban Tengah, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
Penulis tidak mengenalinya lagi, tetapi kaus yang dipakainya [logo keluarga mantan petinju] membuka jalan untuk menyapanya.
Baca Juga
Advertisement
“Dapat dari mana ini baju,” penulis bertanya.
“Dari Jakarta.”
“Siapa nama?” kejar penulis.
Baca Juga
Advertisement
“Laurens Fongo.”
Disebut Laurens Fongo, penulis kaget bukan main dan langsung teringat pertandingannya melawan Tarman di Bekasi, 29 tahun yang lampau.
Sambil berjalan, penulis menyalami dan memuji tangannya yang masih kekar. Dia senang dan langsung buka cerita tinju masa lalu.
Baca Juga
Advertisement
“Tinju sekarang tidak bagus. Belum punya peringkat sudah juara,” sindirnya. “Dulu, kami main berdarah-darah untuk bisa dapat peringkat. Setelah ada peringkat baru boleh main kejuaraan. Minta maaf, masih bagus tinju dulu,” katanya. [Sumber dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia”, Finon Manullang, menulis untuk tinju]