Rondeaktual.com – Inilah satu-satunya sisa pertandingan Wongso Suseno yang sempat penulis liput. Berlangsung di GOR Krida Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu, 3 Maret 1984. Judul asli Pertandingan Perpisahan Legenda Tinju Jatim Wongso Suseno. Tulisan berikutnya Boy Bolang Datangkan Petinju Amerika”.
Matchmaker Setijadi Laksono menampilkan partai Wongso Suseno versus Kai Siong. Wongso dan KaI Siong adalah murid Setijadi. Bedanya, Wongso di Sawunggaling Malang dan Kai Siong di Sawunggaling Surabaya.
Pertandingan diatur dalam kelas welter 6 ronde durasi 2 menit. Partai ekshibisi. Tanpa hakim. Tanpa nilai. Tanpa pemenang. Tidak terlihat awak media yang biasa meliput pertandingan tinju. Mungkin dianggap terlalu jauh dari kantor redaksi mereka di Surabaya. Penulis satu-satunya yang berdiri di pinggir ring.
Baca Juga
Advertisement
Wongso Suseno adalah nama yang sangat melegenda di dunia olahraga Tanah Air. Semua orang tinju pasti mengenal Wongso, yang selalu rendah hati dan menjadi panutan.
Dalam sejarah tinju, Wongso Suseno [meninggal dunia di Malang, 17 November 2025] tercatat sebagai petinju Indonesia pertama yang berhasil merebut gelar OBF [kemudian menjadi OPBF, setelah pada 1980, Australia bergabung dengan Asia].
Wongso merebut gelar OBF kelas welter yunior melalui kemenangan angka 12 ronde yang luar biasa atas Chang Kil Lee [Korea Selatan] di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 28 Juli 1975.
Baca Juga
Advertisement
Di Indonesia, ada dua Wongso yang berbeda. Wongso Suseno juara OBF kelas welter yunior dan Wongso Indrajit juara Indonesia kelas bantam yunior. Wongso Suseno adalah paman kandung dari Wongso Indrajit.
Selain juara Indonesia kelas bantam yunior dua kali dan sekali juara Indonesia kelas bantam, Wongso Indrajit melengkapi perjalanan karirnya dengan merebut gelar juara WBC Intercontinental kelas bantam.
Pertandingan Perpisahan Wongso Suuseno
Di pertandingan perpisahan, Wongso Indrajit tidak ikut. Promotor adalah Harry Effendy dan matchmaker Setijadi Laksono. Kedua tokoh olahraga Jawa Timur itu lebih fokus menampilkan petinju baru sebagai bagian dari komitmen program regenerasi tinju pro Jawa Timur. Tampil partai empat dan enam rondean antara lain; Pulo Sugar Ray, Tara Singh, Markus Wangbon OP, Hengky Gun, Suwarno Perico, Marthen Manchini Kasangke, Marvin Harsen.
Baca Juga
Advertisement
Wongso Suseno, ketika itu berumur 39 dan Kai Siong 26 tahun, datang dari satu ilmu satu guru di bawah manejemen Sawunggaling Promotion. Setijadi Laksono adalah guru tinju mereka. Wongso bertanding untuk Sawunggaling Malang dan Kai Siong bertanding untuk Sawunggaling Surabaya. Pada tahun 1986, Kai Siong berpisah dari Sawunggaling dan bergabung dengan Inra Boxing Camp Surabaya, milik PW Affandy.
Seperti pertandingan perpisahan atau pertandingan terakhir para legenda tinju, Wongso melakukannya dengan enjoy. Selalu disiplin memulai serangan jab-jab disusul long hook. Wongso hampir tidak memiliki straight. Tidak ada pukulan mematikan dan ini memang bukan pertandingan resmi.
Kedua petinju sering memperagakan bagaimana bertanding rileks tanpa tekanan. Jab-jab disusul long hook dari Wongso Suseno tak bisa menembus pertahanan Kai Siong. Pada jarak dekat, Wongso melepaskan hook dan uppercut.
Baca Juga
Advertisement
Kai Siong yang lebih muda dan lebih cepat, sering bergerak ke kiri dan ke kanan. Dia memiliki foot work yang enteng. Setelah menyelesaikan enam ronde, wasit Jopie Limahelu mengangkat tangan kedua petinju. Selesai.
Wongso Suseno Datang ke Sawunggaling Surabaya
Wongso Suseno tinggal di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Dua minggu menjelang pertandingan perpisahan, Wongso datang ke markas Sawunggaling di Jalan Kalikepiting 123, Surabaya. Ia berlatih seorang diri ketika petinju Sawunggaling masih tidur.
Siang itu pertama kali penulis mengenal Wongso Suseno. Penulis keluar dari ruang kerja membawa kamera dan mengambil gambar latihan. Ruang kerja hanya beberapa jengkal dari tempat latihan.
Baca Juga
Advertisement
Penulis bangga menjadi satu-satunya orang yang meliput persiapan dan pertandingan perpisahan Wongso Suseno.
Tidak awak media yang datang ke markas Sawunggaling. Padahal, di tahun itu ada empat koran bersaing dan berlomba-lomba untuk mendapatkan berita tinju;
- Jawa Pos.
- Surabaya Post.
- Memorandum.
- Suara Indonesia.
Tidak ada wartawan yang datang ke Krasaan untuk meliput pertandingan perpisahan.
Baca Juga
Advertisement
Memang tidak mudah. Untuk bisa tiba di arena pertandingan, penulis harus berani sambung menyambung melewati perjalanan hampir sembilan jam. Surabaya-Kraksaan bukan perjalanan dekat. Penulis memulainya pukul 09.00 dari Kalikepiting, Surabaya [kantor majalah Tinju Indonesia] dan tiba di Kraksaan sebelum matahari terbenam di ufuk barat. Penulis melakukannya karena suka menulis untuk tinju.
Lebih 35 tahun kemudian sejak pertandingan perpisahan tahun 1984, penulis bertemu sang legenda di arena pertandingan tinju Daud Yordan di Kota Batu, Jawa Timur, Minggu, 17 November 2019.
Hari itu, Wongso Suseno pas berusia 74 tahun. Wongso Suseno lahir di Malang, 17 November 1945, bernama Wong Kok Sen.
Baca Juga
Advertisement
Sungguh, itu sebuah pertemuan tidak disangka-sangka. Penulis menyalami Wongso Suseno. Menyampaikan selamat ulang tahun dan semoga panjang umur. Tidak lupa memuji fisik beliau yang sehat dan kekar.
Di sebelah Wongso ada Monod dan Nurhuda. Di sebelah kanan mereka ada keluarga mantan juara dunia WBA Super kelas bulu Chris John.
Dari air muka dan cara menyambut tangan penulis, jelas sekali kalau hati Wongso Suseno sangat gembira. Dengan kedua telapak tangannya, tangan penulis berada dalam genggaman Wongso Suseno.
Baca Juga
Advertisement
Cukup lama. Itu pertemuan yang sangat bersejarah. Penulis tidak pernah membayangkan bertemu dengan sang legenda tinju Wongso Suseno di pinggir ring, bertepatan dengan hari uang tahunn beliau yang ke-74.
Itu yang pertama dan satu-satunya. Tak akan terulang kembali. [Dikutip dari buku Perjalanan Tinju Indonesia, halaman 11, 12, 13, Finon Manullang, edisi tahun 2023]
Baca Juga
Advertisement