Wira Markus Gea Menulis: Jangan Larang Petinju Tanding karena Beda Bendera

WIRA MARKUS GEA

Rondeaktual.com – Tidak boleh lagi ada petinju yang dilarang bertanding hanya karena beda bendera.

Saat ini tinju amatir Indonesia di persimpangan jalan. Dualisme membuat atlet terjepit. Prestasi terancam.

Tinju amatir sedang berada di persimpangan jalan, bukan karena kurangnya petinju berbakat. Bukan pula minimnya pelatih berkualitas.

Advertisement

Bukan. Bukan di situ letaknya. Di persimpangan jalan akibat dualisme organisasi yang tidak kunjung selesai. Konflik kepentingan di level elite telah menjelma menjadi penderitaan di level akar rumput.

Petinju bingung harus berlindung di bawah bendera siapa. Sasana terpecah. Kejuaraan berjalan sendiri-sendir tanpa standar yang sama.

Akibatnya, pembinaan tidak berkesinambungan. Jenjang prestasi kabur. Mimpi petinju menuju panggung nasional maupun internasional semakin menjauh.

Advertisement

Ironisnya, yang berkonflik adalah organisasi dan yang menjadi korban adalah petinju yang seharusnya fokus berlatih. Bukan terjebak dalam tarik-menarik kepentingan.

Dualisme ini bukan hanya melemahkan sistem pembinaan, tetapi juga menggerogoti kepercayaan publik, sponsor, dan negara terhadap masa depan tinju amatir Indonesia. Jika dibiarkan, tinju kita akan kalah bukan di atas ring tetapi oleh ego dan ambisi di luar ring.

Akar Masalah: Ego, Legitimasi dan Kepentingan

Advertisement

Dualisme tinju amatir bukan sekadar perbedaan pandangan, melainkan perebutan legitimasi organisasi kepentingan jabatan dan pengaruh minimnya keberpihakan pada petinju dan pelatih.

Lemahnya intervensi tegas dari pemangku kebijakan olahraga nasional. Selama kepentingan pribadi lebih dominan daripada kepentingan prestasi, konflik ini akan terus terulang.

Solusi: Menyatukan Ring, Mengutamakan Petinju

Advertisement

Sudah saatnya semua pihak berhenti bertarung di luar ring dan kembali ke esensi olahraga.

Rekonsiliasi Nasional Tinju Amatir

  • Negara melalui Kemenpora, KONI dan KOI, harus bisa memfasilitasi rekonsiliasi terbuka, transparan, dan berorientasi pada petinju.

Satu Sistem, Satu Standard Pembinaan

Advertisement

  • Siapa pun organisasinya, pembinaan harus berada dalam satu sistem nasional yang jelas; lisensi pelatih, kalender pertandingan, dan jalur prestasi yang terukur.

Petinju di Atas Segalanya

  • Tidak boleh lagi ada petinju yang dilarang bertanding hanya karena beda bendera. Petinju bukan alat politik organisasi.

    Peran Aktif Sasana dan Daerah

    • Sasana dan pelatih akan rumput harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan, bukan hanya menjadi penonton konflik elite.

    Transparansi dan Akuntabilitas

    Advertisement

    • Semua organisasi harus terbuka dalam tata kelola, keuangan, dan pembinaan agar kepercayaan publik kembali pulih.

    Wira Markus Gea, adalah mantan petinju nasional dan internasional, sekarang ASN dan pembina tinju di Kota Bekasi.