Rondeaktual.com – Sebelum pergi ke Bontang, Kalimantan Timur, untuk meliput Kejuaraan OPBF, penulis mendapat “bonus” dari pimpinan Desk Olahraga. Pak Redaktur kami memberikan tugas ekstra wawancara eksklusif pelatih sepak bola PKT Bontang, Timo Kapisa.
Senang rasanya dipercaya untuk menjumpai seorang legenda sepak bola. Kebetulan, Timo Kapisa adalah pemain sepak bola Persipura Jayapura paling penulis kagumi. Sebutlah idola.
Penulis menjadi salah satu saksi dari ribuan penonton yang melihat langsung bagaimana Timo Kapisa mencetak gol terakhir ke gawang Persija Jakarta dalam final di Stadion Utama Senayan, tahun 1976.
Baca Juga
Advertisement
Penulis pernah menempatkan sepak bola sebagai olahraga paling favorit, sementara olahraga tinju adalah belakangan. Bila PSMS Medan bersama nama-nama terkenal seperti Nobon, Sarman Panggabean, Wibisono, Tumsila, dkk, bertanding di Stadion Utama Senayan [sekarang Gelora Bung Karno], penulis pasti di sana. Sengaja beli tiket agak mahal supaya bisa lebih dekat melihat aksi Sarman Panggabean dan kawan-kawan.
Pada era itu, bila PSMS Medan berhadapan dengan Persija Jakarta, bisa dipastikan penjaga gawang Persija adalah Judo Hadianto. Persija tidak pernah berani memasang kiper Ronny Paslah. Masalahnya, Ronny adalah mantan kiper favorit PSMS Medan, yang bermarkas di Stadion Kebun Bunga.
Tentang Timo Kapisa, penggemar menyebut kemenangan Persipura Jayapura atas Persija adalah kemenangan yang tak terlupakan. Kemenangan tersebut telah menginspirasi lahirnya lagu berjudul “Persipura” karya besar Black Brothers. Lagu ini menjadi hits, menempati tangga lagu di berbagai radio.
Baca Juga
Advertisement
Ketika penulis tiba di Bontang, yang pertama terbayang adalah wajah Timo Kapisa, sang idola. Pagi-pagi –supaya coretan tinju tidak berantakan—penulis sudah menjumpai sang legenda di Lapangan Sepak bola PKT Bontang.
Penulis lupa, naik apa ke lapangan menjumpai Timo Kapisa. Tetapi yang pasti Kami salaman. Tidak sempat duduk dan gagal wawancara. Di jam itu, Timo Kapisa sibuk mengawasi persiapan latihan pagi. Timo menyarankan supaya bertemu pada sore hari.
“Nanti kita boleh lebih santai ngobrolnya, tidak terburu-buru,” Timo Kapisa menyarankan.
Baca Juga
Advertisement
Penulis permisi pamit tetapi itu tidak mungkin. Penulis harus mengikuti press conference yang diselenggarakan promotor, tentang Kejuaraan OPBF kelas bantam yunior antara Marianus Penmaley (Pirih Surabaya, Indonesia) melawan Sombuth Eausamphan (Thailand).
Pertandingan berlangsung di GOR PKT Bontang, Sabtu malam, 25 Agustus 1990.
Supaya tidak dianggap membangkang, penulis langsung lapor pimpinan koran tempat bekerja di Surabaya, bahwa timingnya tidak pas. Penulis diminta fokus untuk tinju. Terima kasih.
Baca Juga
Advertisement
Pada malam pertandingan tinju, Marianus dari Pirih Surabaya menang angka dan merebut sabuk juara OPBF. Pada ronde kedua, petinju Thailand sekali knock down, setelah menerima long hook. Petinju Thailand bangkit untuk meneruskan perlawanannya yang gigih. Serangan pendekanya (jab kiri) mendarat telak di muka Marianus. Berdarah karena robek.
Wasit merangkap hakim Silvestre Abainza (Filipina) menilai 116-114. Arcon Bunrunglok (Thailand) 117-112. Pieter Gedoan (Indonesia) 118-112. Marianus menang melalui unanimous decision.
Mario Lumacad, pelatih asal Filipina yang dibayar oleh Pirih Boxing untuk menangani Marianus, bersorak kegirangan disusul sekondan Ingger Kailola dan Ivan Pirih, diikuti sejumlah masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menetap di Bontang. Selebrasi di dalam ring dibiarkan selama 10 menit. Lama sekali.
Baca Juga
Advertisement
Sukses Marianus merebut sabuk OPBF adalah momentum yang sudah lama ditunggu publik tinju. Tetapi, momentum tersebut harus dibayar mahal. Dokter melarang Marianus meninggalkan Bontang. Petinju kelahiran NTT, 5 Juni 1968, itu wajib menjalani perawatan. Bibir Marianus harus dijahit, yang pecah akibat benturan. Itulah risiko tinju.
Partai lain, petinju tuan rumah Bisenti Santoso (PKT Bontang), jatuh-bangun dan KO ronde kelima dihantam juara Indonesia kelas ringan Ambrosius Diolivera (Cakti Bali). Didampingi pelatih Daniel Bahari, Ambrosius menerima sabuk juaranya.
Perjalanan ke Bontang sangat menyenangkan, meski gagal wawancara dengan Timo Kapisa. Penulis juga gagal menggunakan modem, alat canggih yang penulis bawa dari kantor. Tidak ada jaringan. Ketika itu masih jarang perusahaan pers yang mau membekali wartawannya dengan modem. Perangkat keras yang berfungsi sebagai penghubung perangkat ke jaringan internet ini biasanya hanya boleh dipakai oleh kelas Redaktur ke atas, jika dia sedang menjalakan liputan jauh ke luar kota. Untuk kelas reporter nanti dulu, jadi penulis sangat bersyukur sekali bisa dibelaki modem, meski hanya bisa dipergunakan saat berada di bandara sambil menunggu pesawat.
Baca Juga
Advertisement
Setelah gagal menggunakan modem, penulis bersama lima rekan wartawan lainnya (dua dari Jakarta dan tiga dari Samarinda) melaporkan hasil pertandingan tinju Kejuaraan OPBF ke kantor masing-masing melalui telepon. Pihak hotel tempat kami menginap menyediakan fasilitas interlokal secara free. Tumben baik hati. (Sumber dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia” Finon Manullang, menulis untuk tinju)