Rondeaktual.com – Suatu malam di dalam ring tinju profesional Kejuaraan Dunia WBO Rafael Torres [Republik Dominika] melawan Husni Ray [Benteng AMI/ASMI Jakarta, Indonesia], menampilkan sejumlah partai tambahan.
Promotor Tourino Tidar dari Taman Tanah Abang, Jakarta Pusat, menampilkan sesama petinju Indonesia, yang bertanding sebelum menuju partai puncak Kejuaraan Dunia sabuk WBO. Rafael Torres-Husni Ray disiarkan secara langsung ke seluruh pelosok Nusantara, melalui siaran favorit “Arena Olahraga” karya TVRI Pusat.
Salah satu partai tambahan adalah Kejuaraan Indonesia kelas terbang ringan 12 ronde. Juara Azaddin Anhar [Benteng AMI/ASMI Jakarta] mengalahkan penantang kelahiran Tebingtinggi, Sumatera Utara, Udin Baharuddin [Budi Raya Boxing Camp Jakarta].
Baca Juga
Advertisement
Peristiwa yang Sangat Bersejarah
Malam itu, Selasa, 31 Juli 1990, Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Azaddin menerima sabuk juara dari tangan Ketua Umum KTI Pusat Mayjen TNI [Purn] Leo Lopulissa, didampingi Ketua Umum PB Pertina Letjen TNI Sahala Radjagukguk.
Itu peristiwa yang sangat bersejarah. Untuk pertama kali, pimpinan tertinggi tinju amatir berada di atas ring tinju profesional.
Sebelumnya pantang tinju amatir bergabung dengan tinju pro. Pertina melakukan pemecatan ketika seorang pelatih atau petinju amatir kedapatan berada di sekitar ring pertandingan tinju pro.
Baca Juga
Advertisement
Belakangan aturan tinju amatir semakin longgar. Setidaknya sudah dua Ketua Umum PP Pertina pernah naik ke atas ring tinju profesional. Pidato atau memberi sambutan. Banyak Ketua Pengprov ikut menggelar pertandingan tinju profesional. Sekarang banyak pengurus tinju profesional masuk dalam jajaran personalia Pertina. Dahulu yang seperti itu tabu.
Sejarah Kejuaraan WBO di Indonesia
Pada tulisan sebelumnya [seri ke-25] telah disebut bahwa petinju Indonesia, Husni Ray gagal menjadi juara dunia WBO kelas terbang mini, setelah kalah angka 12 ronde melawan juara Rafael Torres [Republik Dominika].
Itu merupakan sejarah kali pertama kejuaraan dunia WBO berlangsung di Indonesia. Sebelum tahun 1990, di Indonesia sudah berlangsung Kejuaraan Dunia WBC bersama promotor Herman Sarens Soediro, disusul Kejuaraan Dunia IBF bersama promotor Boy Bolang dan Anton Sihotang, dan Kejuaraan Dunia WBA bersama promotor Kurnia Kartamuhari.
Baca Juga
Advertisement
Setelah Husni Ray gagal merebut gelar WBO di Jakarta, promotor Tourino Tidar dari Taman Tanah Abang, Jakarta Pusat, mendatangkan juara dunia WBO lainnya, yaitu Jose De Jesus dari Puerto Rico.
De Jesus menghadapi penantang kelahiran Sumatera Utara, Abdi Pohan, yang ditangani pelatih Wongso Suseno di Javanoea Boxing Camp Malang. Pertandingan De Jesus-Pohan berlangsung untuk Kejuaraan Dunia WBO kelas terbang ringan 12 ronde di Gedung TD Pardede, Medan, Sabtu, 10 November 1990.
De Jesus bertarung jauh lebih cepat dan lebih keras dari Rafael Torres yang mengalahkan Husni Ray di Jakarta. De Jesus menghentikan Abdi Pohan pada ronde 7 dari 12 ronde yang direncanakan. Wajah Abdi Pohan penuh darah akibat serangan bertubi-tubi yang dilancarkan De Jesus. Kalah kelas kalah stamina.
Baca Juga
Advertisement
Sejak peristiwa itu –Kejuaraan Dunia WBO di Jakarta disusul Kejuaraan Dunia WBO di Medan—dan sampai sekarang sudah lebih 35 tahun berlalu, Indonesia belum pernah lagi menggelar kejuaraan dunia WBO. Entah kapan. [Dikutip dari buku Perjalanan Tinju Indonesia, Finon Manullang, menulis untuk tinju]