Rondeaktual.com – Boy Bolang Mendatangkan Petinju Amerika, merupakan tulisan kelima, yang dikutip dari buku Perjalanan Tinju Indonesia, Finon Manullang edisi 2023. Ikuti terus tulisan berikutnya “Ellyas Pical Membuat Sejarah”. Semoga bermanfaat.
Boy Bolang Datangkan Petinju Amerika
Promotor Boy Bolang dari PT Arena Coliseum Jakarta, mendatangkan lima petinju profesional dari Amerika Serikat. Tidak ada yang menduga sebelumnya, ternyata empat menderita kalah. Bert Lee satu-satunya yang memenangkan pertandingan. Lee mengalahkan Polly Pasireron (Satria Kinayungan Jakarta, Indonesia). Lima partai yang ditampilkan promotor Boy Bolang, seluruhnya non gelar masing-masing sepuluh ronde di GOR Basket Senayan, Jakarta, Sabtu, 6 Oktober 1984.
Baca Juga
Advertisement
Bert Lee versus Polly Pasireron sengaja diatur sebagai main event. Ini partai utama kelas menengah sepuluh ronde. Lee, asal California, memiliki rambut ikal sedikit gondrong, berkumis berjampang dan berjenggot, tampil sangat enjoy dan terbuka. Tangan kirinya lebih sering turun sampai satu jengkal di atas lutut. Jab-straight Lee cepat dan sering merepotkan Polly Pasireron.
Setelah lonceng pertama terdengar dari meja time keeper, Polly Pasireron langsung in-fight. Banyak menyerang melalui pukulan samping, hook dan upper cut. Padahal, Polly Pasireron bukan fighter. Ia seorang orthodox yang sangat terbiasa melepaskan jab-straight.
Banyak menyerang, Polly dapat merebut kemenangan, terutama pada dua ronde pertama, menjadi miliknya. Pada ronde ketiga, Polly nyaris berhenti di sudutnya sendiri. Ia menolak meneruskan ronde. Tinggal menunggu sepuluh detik lagi lonceng akan terdengar, Polly sudah siap memilih untuk menyerah.
Baca Juga
Advertisement
Pada detik-detik terakhir, Herman Sarens Soediro, pembina Satria Kinayungan Jakarta, mendatangi sudut Polly. Ada perintah untuk tidak menyerah. Herman Sarens meminta jangan kalah dengan cara menyerah. Itu tidak bagus. Lawan sampai habis. Ternyata, Polly mampu bertahan sampai sepuluh ronde dan kalah angka.
Lee datang ke Indonesia sebagai juara World Athletics Association middleweight. Gelar ini, di era itu, hanya ada di Amerika. Lee memiliki jangkauan lebih lurus. Mengandalkan jab-straight dan mulai mendominasi sejak memasuki ronde kelima. Namun, pada dua ronde terakhir, Lee yang sudah kehabisan stamina dan daya serang menurun, bermain buruk. Dia menyeruduk dan merangkul. Dia mendapat peringatan keras dari wasit Jafar. Hampir saja kena warning.
Meski dalam kondisi sudah payah di ronde-ronde terakhir, Lee masih bisa menang melalui unanimous decision. Dia menang mutlak. Tidak ada sabuk, karena sabuk hanya boleh dikeluarkan oleh badan tinju. Tidak seperti sekarang, pertandingan empat ronde saja bisa turun dari dalam ring sambil menenteng sabuk.
Baca Juga
Advertisement
Piet Gommies Menang KO
Partai lain, Piet Gommies yang menyandang gelar juara Indonesia kelas welter, berhasil mengalahkan Alberto Royas.
Pada ronde keenam, Piet dari Satria Kinayungan Jakarta, melepaskan straight kanan membuat pelipis lawan terluka. Darah menetes tetapi dokter tidak melarang. Pertandingan terus berjalan.
Pada ronde ketujuh yang tidak disangka-sangka, Piet melepaskan pukulan dari jarak dekat menjatuhkan Alberto Royas dan tidak sanggup berdiri sampai hitungan sepuluh selesai, yang diberikan wasit Soejadi dari Semarang.
Baca Juga
Advertisement
Piet dinyatakan menang KO, mendapat sambutan besar dari sekitar 2.000 penonton yang memadati arena pertandingan.
Piet Gommies dan Polly Pasireron sebelumnya berlatih di Garuda Jaya Jakarta, bertepatan ketika Ellyas Pical hendak memulai tinju profesional bersama pelatih Pontas Simanjuntak. Piet dan Polly meninggalkan Garuda Jaya untuk alasan Satria Kinayungan lebih aktif menyelenggarakan pertandingan. Di sana ada nama besar, promotor Herman Sarens Soediro, yang pada era itu rajin menggelar pertandingan.
Salah satu karya emas Herman Sarens Soediro yang dikenang sampai sekarang adalah Kejuaraan Dunia WBC kelas welter yunior antara juara Saoul Mamby (Amerika Serikat) melawan Thomas Americo (Indonesia), Istora GBK, Jakarta, 29 Agustus 1981.
Baca Juga
Advertisement
Martinus dari Bali
Martinus yang dijuluki “Batu Karang” adalah seorang juara Indonesia kelas bulu dari Garuda Agung Bali asuhan pelatih Daniel Bahari dan manajer Herry Poeguh. Martinus bertanding sebagai fighter sejati, menang angka mutlak setelah bertarung sepuluh ronde melawan Victor Moreno, petinju kidal dari Amerika Serikat.
Martinus yang terikat kontrak bayaran Rp 800 ribu, dijuluki Batu Karang dan tampil sebagai fighter sejati. Martinus menyerang sepanjang ronde. Tidak mengenal kata mundur, walau sejengkal. Martinus terus mendobrak pertahanan lawan dan menang besar 100-91, 100-91, 100-90. Itu unanimous decision.
Baca Juga
Advertisement
Kai Siong
Mantan raja kelas ringan, Kai Siong dari Inra Surabaya dan sempat ganti nama sebagai Karsono, bertanding di kelas welter yunior sepuluh ronde melawan James Sowell.
Seperti biasa, Kai Siong rajin melepaskan hook kanan yang keras. Kai Siong hampir saja menjatuhkan lawan namun malah mendapat serangan balik di ronde terakhir. Nilai resmi yang diberikan para hakim tinju; 97-94, 98-95, 98-100. Kai Siong menang melalui split decision sepuluh ronde.
Baca Juga
Advertisement
Johannes Siren
Angkatan Darat dari Pirih Surabaya asuhan pelatih Suparlan dan manajer Eddy Pirih, menang angka sepuluh ronde kelas ringan melawan Mike Anderson. Johannes Siren betanding lebih tenang. (Tunggu tulisan berikut, “Ellyas Pical Membuat Sejarah”, Finon Manullang, menulis untuk tinju)
Baca Juga
Advertisement