Buku Baru: Kisah Bobby Cassidy Terlibat Kriminal dan Dipenjara

MIDDLEWEIGHT

Rondeaktual.com – Buku baru berjudul “Requiem for a Middleweight: The Bobby Cassidy Story” merupakan kisah yang sangat menggugah tentang perjalanan hidup petinju kelas menengah Bobby Cassidy, yang terlibat kriminal hingga dipenjara.

Saat membaca buku baru ini,  satu pemikiran terus muncul di benak saya: Seberapa banyak hal buruk yang bisa menimpa satu orang?

Buku ini mengisahkan sosok petinju tangguh bernama “Irish” Bobby Cassidy, yang berkarier di dunia tinju dari tahun 1963 hingga 1980. Dari sudut pandang tinju, ia mengalami beberapa kekalahan kontroversial di kandang lawan dalam pertarungan krusial melawan petinju seperti Luis Rodriguez dan Gypsy Joe Harris. Namun, apa yang terjadi di dalam ring sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kisahnya. Ia mengalami kekerasan fisik saat kecil, berhasil mengatasi kecanduan alkohol, terlibat dalam dunia kriminal hingga dipenjara, dan akhirnya berjuang melawan demensia.

Advertisement

Sungguh banyak cobaan yang ia hadapi. Namun, bukan itu inti dari buku ini. Pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa apa pun yang menimpa Bobby Cassidy, ia berhasil mengatasinya, terus melangkah maju, menemukan cara untuk bertahan hidup, dan menebus dirinya sendiri. Menyebut Cassidy sebagai seorang petinju saja rasanya sangat kurang menggambarkan sosoknya. Tampaknya, pria ini memang tak pernah berhenti bertarung.

Buku ditulis oleh putranya, Bobby Cassidy Jr, seorang jurnalis kawakan. Tulisannya tajam dan padat, namun yang lebih penting, tulisannya memiliki dampak emosional yang kuat. Cassidy Jr mengisahkan berbagai pertarungan besar dan kemenangan penting sang ayah. Namun, hal yang membedakan buku ini dari kebanyakan buku tinju lainnya adalah cara Cassidy Jr mengenang—dengan detail yang hidup—momen-momen kecil dan pribadi di luar ring. Kata-katanya menembus jarak emosional pembaca dan memaksa Anda turut merasakan kepedihan yang dialami sang ayah. Hal ini terutama terasa saat ia menggambarkan bagaimana ayahnya mengurung diri di rumah mereka di Levittown setelah kalah dalam pertandingan, atau saat ia merinci hancurnya pernikahan orang tuanya dan dampak buruk alkohol terhadap keluarga mereka.

Buku “Requiem for a Middleweight: The Bobby Cassidy Story” diterbitkan oleh Winding Road Stories. Tersedia di Amazon.com atau Barnes & Noble.

Advertisement

Di bagian akhir buku, dengan sudut pandang sebagai orang dewasa, Cassidy Jr mengajak pembaca turut serta dalam kunjungan ke penjara di wilayah utara New York untuk menemui ayahnya, serta membagikan kisah yang menyayat hati tentang kemunduran kondisi sang petarung akibat demensia yang berlangsung perlahan dan menyiksa.Di balik rasa pedih yang terasa, mungkin pencapaian terbesar dalam buku ini adalah bagaimana Cassidy berhasil menjadi sosok ayah yang tidak pernah ia miliki sendiri. Ia bertahan menghadapi siksaan fisik bertahun-tahun dari ayah tirinya, namun justru tumbuh menjadi ayah yang penuh kasih sayang dan perhatian. Anak-anak lelakinya menjadi motivasi baginya untuk berhenti minum alkohol dan meninggalkan dunia preman. Ia memusatkan hidupnya pada kegiatan olahraga anak-anaknya dan memberi mereka ruang untuk meraih kesuksesan dengan cara mereka sendiri. Terkadang, ia mencanangkan “hari libur ala Cassidy” dan mengizinkan anak-anaknya tidak masuk sekolah. Mereka mungkin pergi menonton film, atau mengunjungi Gramercy Gym untuk melihatnya berlatih.

Namun, ada satu aturan yang pantang ia langgar: kedua putranya, Bobby Jr dan Chris, tidak diperbolehkan menjadi petinju.

“Dia sangat teguh soal itu,” ujar Cassidy Jr kepada Fight News. “Dia mendukung kami melakukan segala jenis olahraga lain yang bisa dibayangkan, tetapi dia tidak pernah mengizinkan kami bertinju. Gaya hidupnya terlalu keras. Dia pernah menjalaninya, tetapi dia tidak ingin kami mengalaminya. Sebagai anak sulung, saya merasa seharusnya saya mengikuti jejaknya. Cukup lama saya sulit menerima hal itu. Saya sempat berpikir dia menganggap saya tidak cukup tangguh. Namun pada akhirnya, saya sadar dia benar. Tinju adalah dunia yang sangat keras. Dia memang mengenalkan kami pada dunia tinju, tetapi bukan sebagai petarung. Saya sudah lama menulis tentang tinju, dan Chris telah memotret ratusan petinju.”

Cassidy sering melatih tim olahraga anak-anaknya saat mereka masih muda, dan kemudian, saat mereka bertanding di tingkat SMA dan perguruan tinggi, ia selalu hadir di setiap pertandingan. Ia juga sering mengadakan pesta untuk merayakan kemenangan besar mereka.

“Dia adalah sosok ayah yang luar biasa,” kata Cassidy Jr. “Saya dan Chris sangat, sangat beruntung. Kami memiliki orang tua yang hebat. Ibu kami juga luar biasa. Kami sungguh diberkati memiliki orang tua seperti mereka. Jika melihat masa kecil ayah saya, dia tidak mendapatkan cinta, kasih sayang, maupun dukungan. Namun, dia berhasil memberikan semua itu kepada kami.”

Bobby Cassidy pernah bekerja sama dengan juara dunia Donny Lalonde dan Lonnie Bradley. Ia membimbing Peggy Donovan Ward meraih gelar New York Golden Gloves pada tahun pertama perempuan diizinkan berkompetisi dalam turnamen tersebut. Cassidy melatih tak terhitung banyaknya petinju di Westbury Boxing Club di Long Island dan Times Square Gym di Manhattan.

“Ada pepatah dalam dunia tinju: Jangan jatuh cinta pada petinju asuhanmu karena mereka akan mematahkan hatimu,” ujar Cassidy Jr. “Namun, hal itu tidak pernah terjadi pada ayah saya. Dia menyayangi para petinjunya, dan mereka pun menyayanginya.”

Hal lain yang menarik untuk disimak dalam buku ini adalah beragam persahabatan dan hubungan yang ia jalin selama bertahun-tahun. Ia berbagi ring dengan sejumlah penantang gelar dan juara dunia sepanjang kariernya yang berlangsung selama 18 tahun. Namun, daftar lawan latih tandingnya mungkin jauh lebih mengesankan—mulai dari Floyd Patterson, Emile Griffith, Chuck Wepner, Vito Antuofermo, hingga Mustafa Hamsho. Tak berhenti sampai di situ, Cassidy juga pernah “bertukar” pukulan dengan aktor Burt Young dan Robert De Niro, Jaksa Wilayah Nassau County Denis Dillon, serta kapten Keluarga Genovese, Tough Tony Federici.

Lingkaran pertemanannya begitu luas; suatu hari ia bisa saja berjalan menyusuri jalanan untuk berkampanye bersama anggota Kongres AS Pete King, lalu keesokan harinya bersantap siang dengan bos mafia Sonny Franzese. [Sumber Fightnews]