Rondeaktual.com – Aku merasa beruntung bisa meliput langsung pertandingan Boy Bolang ketika beliau sudah berumur 40 tahun. Tak terbayangkan bukan?
Boleh jadi, aku satu-satunya di sana, berdiri di pinggir ring Stadion Mattoangin, Makassar, Sulawesi Selatan. Ketika Boy Bolang hendak naik ring di partai terakhir, sejumlah rekan media yang meliput Kejuaraan WBC International Bantamweight antara Wongso Indrajit (Indonesia) dengan Edel Geronimo (Filipina), sudah meninggalkan Stadion Mattoangin. Bagi mereka buat apa. Bagi mereka mungkin buat apa, ini partai terakhir, bukan main event. Tidak penting-penting amatlah.
Peristiwa itu tercatat pada Sabtu malam, 26 November 1988. Tak akan terlupakan.
Baca Juga
Advertisement
Boy Bolang naik ring untuk partai penutup, menghadapi legenda kelas menengah Suwarno dari Inra Boxing Camp Surabaya. Ini partai cruiserweight empat ronde. Sebelum naik ring ada kesepakatan bahwa pertandingan tidak boleh ada pemenang. Harus draw. Main sabun dan itu biasa terjadi dalam pertandingan iseng-iseng atau pertandingan perpisahan.
Suwarno diminta tidak boleh memukul dengan keras. Tidak boleh melepaskan straight, karena straight Suwarno terkenal cepat dan keras. Bila mendarat dengan tepat, rahang bisa bergeser. Bisa rumah sakit urusannya.
Malam itu bisa jadi sebagai pertandingan penghormatan kepada Boy Bolang, yang telah berjasa mengangkat tinju pro Indonesia, mengantar Ellyas Pical sebagai juara dunia pertama dari Indonesia.
Baca Juga
Advertisement
Boy-Suwarno dipimpin wasit Bernard Tjahjono dari Lawang Sketeng [KTI Surabaya]. Suwarno konsisten. Boy Bolang dibiarkan masuk sepanjang dua ronde pertama. Banyak teknik tinju yang diperlihatkan Boy, sekaligus mengajari sisa penonton yang masih bertahan, tentang bagaimana melepaskan jab-straight yang baik dan benar. Sangat edukatif. Maklumlah, Boy Bolang pernah matang di amatir.
Memasuki ronde ketiga, apalagi ronde keempat ronde terakhir, Boy Bolang sudah habis total. Sudah tidak bisa mengganggu Suwarno. Bahkan Boy Bolang harus meminta kepada wasit untuk menghentikan pertandingan, karena tali sepatunya berkali-kali lepas.
Itu murni akal-akalan Boy Bolang. Taktik mengulur waktu agar bisa menarik napas yang hilang. Tidak ada yang protes, karena kondisi Boy sudah 40 tahun. Jelas tidak bisa dipaksa in-fight. Bagaimanapun “isi tangki” cepat habis. Apalagi, Boy Bolang sang flamboyan, menghadapi petinju kelas menengah terbaik yang masih aktif. Seharusnya matchmaker mencari lawan pemula atau petinju tua. Malam itu, orang yang mengatur partai salah mencari lawan.
Baca Juga
Advertisement
Bagi Boy Bolang, naik ring dalam tinju pro di usia tua di Stadion Mattoangin bukan yang pertama. Sebelumnya sudah naik ring melawan Piet Gommies di Jakarta. Piet Gommies sengaja memberikan kemenangan KO sebagai balas budi atas kerja besar Boy Bolang menghidupkan tinju pro Indonesia.
Setelah peristiwa Stadion Mattoangin, Boy Bolang masih meneruskan perjalanannya melawan “Singa Tua” M Solikin dari Gajayana Malang, yang terjadi di Delta Plaza Surabaya.
Di Surabaya sama saja, di mana Solihin 100% memberikan rasa hormatnya kepada Boy Bolang dengan cara nyaris tidak melepaskan pukulan berbahaya sepanjang empat ronde. Sementara Boy Bolang tetap dengan “ilmu akal-akalan” sengaja melepas tali sepatu.
Baca Juga
Advertisement
Semua pertandingan pro Boy Bolang [melawan Piet Gommies, Suwarno, M Solikin] berada dalam kontrak promotor Tinton Soeprapto dari Tonsco Promotion Jakarta.
Percakapan dengan Boy Bolang, Tumben Merokok
Setelah pertandingan di Stadion Mattoangin dan sebelum pulang [Boy ke Jakarta dan penulis ke Surabaya], kami bertemu di ruang biliar samping rest room Hotel Marannu City, Ujungpandang [sekarang Makassar], Sulawesi Selatan, Minggu, 27 November 1988.
Pertemuan itu terjadi sehari setelah Boy Bolang menyelesaikan pertandingan pameran melawan mantan raja kelas menengah Indonesia, Suwarno.
Baca Juga
Advertisement
“Tumben, merokok?” Itu yang pertama penulis ucap ketika melihat Boy Bolang merokok. Menang, sehari-hari Boy Bolang tidak merokok.
“Iseng-iseng saja. Ini juga tidak habis sebatang,” sambut Boy kemudian mengambil stick dan mengajak bermain biliar.
“Apa rasanya naik ring di usia tua?”
Baca Juga
Advertisement
“Senang aja. You sendiri kan melihat, saya masih bisa mengatasi Suwarno. Tadi malam, saya masih bisa memperlihatkan, ini loh jab yang benar. Straight saya juga keras dan mengenai muka Suwarno, makanya dia langsung balas dengan straight. Saya goyah dan menangkap tubuhnya. Wasit datang, tapi pura-pura sibuk bergerak. Dia pintar tidak langsung memisahkan. Wasit tahu saya kena, makanya sengaja diperlambat.”
Boy Bolang memberikan kesempatan pertama kepada penulis, untuk memukul bola. Setelah mengarahkan bola putih ke sasaran, ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Bolanya besar dan tidak terbiasa. Di Surabaya, kalau bermain biliar bersama rekan-rekan wartawan desk olahraga bersama Herman Yos Kiwanuka dan Amran Lawole, kami selalu dengan bola kecil. Penulis pernah menang taruhan menyusun bola. Kalau kawan kalah, pasti ribut. Pernah sampai tidak saling bicara di kantor.
Soal biliar, aku bukan apa-apa menghadapi Boy Bolang. Kalah telak. Dari cara memukul bola, Boy sudah menguasai permainan ini. Di Jakarta, kata Boy, sering mencari hiburan main biliar kalau tidak di Megaria di Blok M. Pantas saja hebat. Di sana rata-rata orang hidup dari meja biliar. Taruhan.
Baca Juga
Advertisement
Soal pertandingan Stadion Mattoangin, penulis bicara begitu: “Tadi malam, masih terlihat sisa-sisa masa jaya dulu. Enak dilihat.” Pagi itu sengaja memuji Boy Bolang.
“You kan pernah menulis, Boy Bolang juara nasional dan juara PON. Saya juga ikut Kejuaraan Asia di Yokohama. Artinya, pengalaman tinju amatir saya sangat panjang.”
Boy Bolang sempat berpesan, bila ingin sukses di tinju pro, mulailah dari amatir. Tinju amatir mendidik segalanya tentang tinju.
Baca Juga
Advertisement
“Mengapa tali sepatu sering lepas?”
“Itu taktik. Kalau tidak begitu mana kuat empat ronde.”
Boy Bolang lahir di Surabaya, Jawa Timur, 12 Januari 1948. Meninggal di Jakarta, 16 April 2004. RIP.
Baca Juga
Advertisement
[Dikutip dari buku “Perjalanan Tinju Indonesia” edisi 2023, Finon Manullang, menulis untuk tinju]